Rabu, 12 Juli 2017

REVIEW FILM "THE ANTHEM OF THE HEART"



THE ANTHEM OF THE HEART ( Kokoro ga Sakebitagatterunda)

                The Anthem of The Heart merupakan sebuah film  drama animasi yang rilis 19 september tahun 2015. Film animasi ini diproduksi oleh A-1 pictures yang disutradarai Tatsuyuki Nagai dan ditulis oleh  Mari Okada. Sebelumnya mereka berdua telah membuat suksesnya film Toradora dan Ano Hana. Kokoro ga Sakebitagatterunda secara harafiah memiliki arti “Hati yang Ingin Berteriak” atau dalam bahasa jepangnya sering disingkat menjadi Kokosake(ここさけ). Film animasi ini telah meraih pendapatan sebesar 1.12 miliar yen (115 miliar rupiah) dan berhasil mendapatkan nominasi sebagai “Fillm Animasi Terbaik”dalam penghargaan Japan Academy Prize ke-39.
               
Cerita mengambil latar belakang disebuah kota di Jepang bernama Chichibu dengan tokoh utamanya bernama Jun Naruse. Seorang gadis muda yang cerewet dan selalu mengungkapkan segala isi hatinya tanpa memikirkan akibatnya dimasa yang akan datang. Karena merasa terlalu banyak bicara dan mengakibatkan kedua orangtuanya bercerai, Jun pun mulai munutup dirinya karena kesalahan tersebut. 


Suatu saat, ia bertemu dengan peri telur yang membuatnya menutup rapat kemampuannya untuk berbicara agar tidak menyakiti perasaan orang lagi. Jun pun menjadi anak yang pendiam di sekolah maupun di rumah dan ia merasa kesakitan saat mencoba untuk berbicara.  Tetapi Jun terpilih menjadi salah satu panitia dalam acara tahunan sekolah bersama Takumi, Natsuki, dan Daiki. Mereka berempat pun sepakat untuk membuat sebuah drama musikal untuk acara tahunan tersebut. Mulai saat itulah Jun harus berusaha untuk mengatasi trauma demi acara pementasan drama musikal. Sering berjalannya cerita terdapat masalah dari mereka berempat dengan masalah masalalu masing-masing, mulai dari masalah percintaan, pertemanan, dan juga masalah keluarga. Jun teman-teman sekelasnya berusaha tetap melakukan pementasan drama musikal disaat mereka memiliki masalah masing-masing dan karena itulah semuanya berubah.

                Film ini memiliki alur yang sederhana, dengan tidak menyajikan adegan yang dapat menyentuh emosi penontonnya secara mendalam. Cerita yang mudah ditebak membuat film ini cukup biasa-biasa saja. Tetapi walaupun begitu, film ini diakhiri dengan sajian drama musikal yang cukup menarik. Sebuah  drama musikal yang diiringi lantunan lagu dengan lirik yang berbeda secara bersamaan. Tak pernah terbayangkan dua buah lirik lagu dinyanyikan secara bersamaan dan menghasilkan melodi yang indah. Selain itu, film ini banyak memberikan pesan-pesan kehidupan tentang mengungkapkan isi hati untuk orang lain. Salah satu hal yang dapat ditangkap dalam film ini adalah “Sebuah kata-kata dapat menyakiti orang lain, tetapi terkadang seseorang ingin mengetahui isi hati orang lain walaupun itu menyakitkan”. 

-AKR

Reaksi:

1 komentar: