Finger Kine Klub

Finger Kine Klub

Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Universitas Kristen Satya Wacana

Pancasila

INDONESIA

Rabu, 19 Juli 2017

Review Film Hacksaw Ridge (2016)


Hacksaw Ridge (2016) 
Genre              : Biography, Action & Adventure, Drama
Directed By    : Mel Gibson
Written By      : Robert Schenkkan, Andrew Knight 
Runtime          : 139 minutes
            War & killing dan Army & Gun dua hal yang mustahil untuk dipisahkan. Bagaimana kita dapat memenangkan suatu peperangan tanpa harus membunuh lawan kita? Atau bagaimana kita mau berperang tapi tidak membawa senjata? Seperti layaknya ikan yang mencoba hidup tanpa air. Seems so impossible, right? Tapi di film Hacksaw Ridge ini Mel Gobson menceritakan kembali sebuah kisah nyata classic yang luar biasa tentang perjalanan hidup dari Desmond Doss (Andrew Garfield) seorang Tentara Amerika yang  berjuang selama Perang Dunia II di Osawa melawan Tentara Jepang. Ia merupakan satu-satunya Tentara Amerika di Perang Dunia II yang berjuang dan berdiri di barisan paling depan tanpa membawa senjata, Doss mempercayai bahwa perang itu boleh dilakukan tapi membunuh itu tidak akan pernah diperbolehkan. Sebagai seorang tentara medis dia seorang diri mengevakuasi tentara-tentara yang terluka baik yang tertembak maupun yang terkena bom selama peperangan. Ia menyelamatkan 75 tentara tanpa menggunakan senjata apapun dan 2 diantaranya adalah tentara Jepang yang kala itu merupakan musuh mereka dalam peperangan dengan jiwa kepahlawanan tersebut berhasil menghantarkan Doss menjadi satu-satunya tentara “pembangkang” pertama yang mendapatkan Penghargaan tertiggi dalam Militer Amerika yaitu Medal of Honor dari pemerintah Amerika Serikat.
Film ini beralur maju, berawal dari kehidupan Desmond Doss dan Keluarganya, ayahnya Tom Doss (Hugo Weaving) merupakan seorang mantan tentara Amerika pada perang dunia I yang sering mabuk-mabukan dan memukul ibunya Bertha Doss(Rachel Griffiths) kemudian masuk ke dalam hubungan asmara bagaimana Doss bertemu pujaan hatinya Dorothy Schutt(Teresa Palmer) lalu bagaimana perjuangannya masuk dalam dunia Militer walaupun ditentang keluarga, di bully saat dalam basecamp  dan bagaimana ia tetap berpegang teguh pada Faith nya walaupun dalam tekanan dan senantiasa berjuang dengan imannya bahwa membunuh itu tidak akan pernah diperbolehkan dan akhirnya masuk pada bagian peperangan dimana Doss tetap memegang teguh komitmennya, walaupun ada temanya yang hampir tertembak oleh musuh tapi Doss menyelamatkan temannya tanpa memegang senjata sekalipun.
Yang membuat film ini kurang menarik karena pada awalnya mengenai kehidupan Doss sebelum perang terkesan terlalu monoton, panjang dan flat sehingga membuat penonton sedikit bosan. Dan juga karakter Doss yang dibangun terkesan terlalu flat juga.
Daya Tarik dalam film ini selain acting dari  Andrew Garfield yang begitu natural dan berhasil menampilkan sosok Desmond Doss yang sederhana tapi tegas dibalut tubuh ceking dan diremehkan teman-temannya tapi dapat membawa sisi kemanusiaannya tanpa kurang ataupun melebih-lebihkannya. Selain itu, Mel Gibsonyang memang terkenal dengan kebrutalannya seperti dalam film The Passion of The Christ (2004) berhasil membangun suasana War yang begitu nyata, mencengangkan dan kelam, ada ledakan hingga tembakan senjata yang begitu real tapi tidak berlebihan sehingga membuat penonton serasa berada di medan perang itu sendiri. Visualisasinya sangat luar biasa “berani”, scene perangnya sangat keren membuat penonton tercengang akan kengerian dalam medan perang. Ada adegan-adegan dimana tentara tertembak, terkena bom, kaki tangan terpotong, isi perut teruarai, kepala hancur, mayat yang dimakan tikus dan pembantaian dan semuanya tervisualisasikan dengan sangat real. Cerita ini seakan segaja membuat kita untuk tidak bernafas selama beberapa saat karena hamper setiap detik selalu disajikan adegan-adegan yang membuat jantung berhenti, penuh kejutan. Tidak heran bahwa Hacksaw Ridge berhasil masuk 6 nominasi Oscar, Best Picture; Best Actor: Andrew Garfield; Best Director; Best Film Editing; Best Sound Mixing; Best Sound Editing.
Film ini mengajarkan kepada kita beberapa hal yaitu kita harus seantiasa memegang ajaran agama kita dan tanpa mendengarkan siapapun yang mencoba untuk meremehkan kita, kita bisa jadi apapun selagi kita punya passiondan jangan mudah menyerah kata yang seelalu mdiucaokan Dosson ketika ia ingin menyerah adalah “let me save one more person, please” “one more, God, please” ini menunjukan bahwa betapa ia berani untuk terus menolong orang lain walaupun nyawanya sebagai taruhan.
Saranya bagi kalian yang tidak tahan melihat darah disarankan untuk tidak menonton film ini karena saya jamin kalian akan merasa pusing dan mual sesaat.And this is not totally a religious movie, so don’t be afraid to “deceive”. Over all, I can say that this’s one of the best Movie in 2016.  You can proof it out by yourself with your friend, family, lover or etc by watching this at the cinema or please go to the Movie store and buy the CD. Selamat menonton dan selamat berperang :) -GEA


Rabu, 12 Juli 2017

REVIEW FILM "THE ANTHEM OF THE HEART"



THE ANTHEM OF THE HEART ( Kokoro ga Sakebitagatterunda)

                The Anthem of The Heart merupakan sebuah film  drama animasi yang rilis 19 september tahun 2015. Film animasi ini diproduksi oleh A-1 pictures yang disutradarai Tatsuyuki Nagai dan ditulis oleh  Mari Okada. Sebelumnya mereka berdua telah membuat suksesnya film Toradora dan Ano Hana. Kokoro ga Sakebitagatterunda secara harafiah memiliki arti “Hati yang Ingin Berteriak” atau dalam bahasa jepangnya sering disingkat menjadi Kokosake(ここさけ). Film animasi ini telah meraih pendapatan sebesar 1.12 miliar yen (115 miliar rupiah) dan berhasil mendapatkan nominasi sebagai “Fillm Animasi Terbaik”dalam penghargaan Japan Academy Prize ke-39.
               
Cerita mengambil latar belakang disebuah kota di Jepang bernama Chichibu dengan tokoh utamanya bernama Jun Naruse. Seorang gadis muda yang cerewet dan selalu mengungkapkan segala isi hatinya tanpa memikirkan akibatnya dimasa yang akan datang. Karena merasa terlalu banyak bicara dan mengakibatkan kedua orangtuanya bercerai, Jun pun mulai munutup dirinya karena kesalahan tersebut. 


Suatu saat, ia bertemu dengan peri telur yang membuatnya menutup rapat kemampuannya untuk berbicara agar tidak menyakiti perasaan orang lagi. Jun pun menjadi anak yang pendiam di sekolah maupun di rumah dan ia merasa kesakitan saat mencoba untuk berbicara.  Tetapi Jun terpilih menjadi salah satu panitia dalam acara tahunan sekolah bersama Takumi, Natsuki, dan Daiki. Mereka berempat pun sepakat untuk membuat sebuah drama musikal untuk acara tahunan tersebut. Mulai saat itulah Jun harus berusaha untuk mengatasi trauma demi acara pementasan drama musikal. Sering berjalannya cerita terdapat masalah dari mereka berempat dengan masalah masalalu masing-masing, mulai dari masalah percintaan, pertemanan, dan juga masalah keluarga. Jun teman-teman sekelasnya berusaha tetap melakukan pementasan drama musikal disaat mereka memiliki masalah masing-masing dan karena itulah semuanya berubah.

                Film ini memiliki alur yang sederhana, dengan tidak menyajikan adegan yang dapat menyentuh emosi penontonnya secara mendalam. Cerita yang mudah ditebak membuat film ini cukup biasa-biasa saja. Tetapi walaupun begitu, film ini diakhiri dengan sajian drama musikal yang cukup menarik. Sebuah  drama musikal yang diiringi lantunan lagu dengan lirik yang berbeda secara bersamaan. Tak pernah terbayangkan dua buah lirik lagu dinyanyikan secara bersamaan dan menghasilkan melodi yang indah. Selain itu, film ini banyak memberikan pesan-pesan kehidupan tentang mengungkapkan isi hati untuk orang lain. Salah satu hal yang dapat ditangkap dalam film ini adalah “Sebuah kata-kata dapat menyakiti orang lain, tetapi terkadang seseorang ingin mengetahui isi hati orang lain walaupun itu menyakitkan”. 

-AKR