Merry Christmas

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2017

Salatiga

Pemandangan Malam Salah Satu Sudut Kota Salatiga

KUPAS 2015

Produksi Film KUPAS 2015

Finger Kine Klub

Keluarga Finger Kine Klub UKSW Salatiga

Minggu, 17 September 2017

Periode 2017-2018

Fungsionaris FINGER KINE KLUB
Periode 2017-2018

Badan Pekerja Harian (BPH)
Ketua               : Chintia Kusumaningtyas
Sekretaris        : Anderasta Krista Hardiyanti
Bendahara       : Amos Mario Khosasi

Divisi Produksi dan Film
Stefanus Brian Setiawan (Koordinator)
Tania Permata Vidya
Flany Claudia Cristine


Divisi Informasi & Komunikasi


Divisi Properti
Dimas Jatmiko (Koordinator)

Rabu, 19 Juli 2017

Review Film Hacksaw Ridge (2016)


Hacksaw Ridge (2016) 
Genre              : Biography, Action & Adventure, Drama
Directed By    : Mel Gibson
Written By      : Robert Schenkkan, Andrew Knight 
Runtime          : 139 minutes
            War & killing dan Army & Gun dua hal yang mustahil untuk dipisahkan. Bagaimana kita dapat memenangkan suatu peperangan tanpa harus membunuh lawan kita? Atau bagaimana kita mau berperang tapi tidak membawa senjata? Seperti layaknya ikan yang mencoba hidup tanpa air. Seems so impossible, right? Tapi di film Hacksaw Ridge ini Mel Gobson menceritakan kembali sebuah kisah nyata classic yang luar biasa tentang perjalanan hidup dari Desmond Doss (Andrew Garfield) seorang Tentara Amerika yang  berjuang selama Perang Dunia II di Osawa melawan Tentara Jepang. Ia merupakan satu-satunya Tentara Amerika di Perang Dunia II yang berjuang dan berdiri di barisan paling depan tanpa membawa senjata, Doss mempercayai bahwa perang itu boleh dilakukan tapi membunuh itu tidak akan pernah diperbolehkan. Sebagai seorang tentara medis dia seorang diri mengevakuasi tentara-tentara yang terluka baik yang tertembak maupun yang terkena bom selama peperangan. Ia menyelamatkan 75 tentara tanpa menggunakan senjata apapun dan 2 diantaranya adalah tentara Jepang yang kala itu merupakan musuh mereka dalam peperangan dengan jiwa kepahlawanan tersebut berhasil menghantarkan Doss menjadi satu-satunya tentara “pembangkang” pertama yang mendapatkan Penghargaan tertiggi dalam Militer Amerika yaitu Medal of Honor dari pemerintah Amerika Serikat.
Film ini beralur maju, berawal dari kehidupan Desmond Doss dan Keluarganya, ayahnya Tom Doss (Hugo Weaving) merupakan seorang mantan tentara Amerika pada perang dunia I yang sering mabuk-mabukan dan memukul ibunya Bertha Doss(Rachel Griffiths) kemudian masuk ke dalam hubungan asmara bagaimana Doss bertemu pujaan hatinya Dorothy Schutt(Teresa Palmer) lalu bagaimana perjuangannya masuk dalam dunia Militer walaupun ditentang keluarga, di bully saat dalam basecamp  dan bagaimana ia tetap berpegang teguh pada Faith nya walaupun dalam tekanan dan senantiasa berjuang dengan imannya bahwa membunuh itu tidak akan pernah diperbolehkan dan akhirnya masuk pada bagian peperangan dimana Doss tetap memegang teguh komitmennya, walaupun ada temanya yang hampir tertembak oleh musuh tapi Doss menyelamatkan temannya tanpa memegang senjata sekalipun.
Yang membuat film ini kurang menarik karena pada awalnya mengenai kehidupan Doss sebelum perang terkesan terlalu monoton, panjang dan flat sehingga membuat penonton sedikit bosan. Dan juga karakter Doss yang dibangun terkesan terlalu flat juga.
Daya Tarik dalam film ini selain acting dari  Andrew Garfield yang begitu natural dan berhasil menampilkan sosok Desmond Doss yang sederhana tapi tegas dibalut tubuh ceking dan diremehkan teman-temannya tapi dapat membawa sisi kemanusiaannya tanpa kurang ataupun melebih-lebihkannya. Selain itu, Mel Gibsonyang memang terkenal dengan kebrutalannya seperti dalam film The Passion of The Christ (2004) berhasil membangun suasana War yang begitu nyata, mencengangkan dan kelam, ada ledakan hingga tembakan senjata yang begitu real tapi tidak berlebihan sehingga membuat penonton serasa berada di medan perang itu sendiri. Visualisasinya sangat luar biasa “berani”, scene perangnya sangat keren membuat penonton tercengang akan kengerian dalam medan perang. Ada adegan-adegan dimana tentara tertembak, terkena bom, kaki tangan terpotong, isi perut teruarai, kepala hancur, mayat yang dimakan tikus dan pembantaian dan semuanya tervisualisasikan dengan sangat real. Cerita ini seakan segaja membuat kita untuk tidak bernafas selama beberapa saat karena hamper setiap detik selalu disajikan adegan-adegan yang membuat jantung berhenti, penuh kejutan. Tidak heran bahwa Hacksaw Ridge berhasil masuk 6 nominasi Oscar, Best Picture; Best Actor: Andrew Garfield; Best Director; Best Film Editing; Best Sound Mixing; Best Sound Editing.
Film ini mengajarkan kepada kita beberapa hal yaitu kita harus seantiasa memegang ajaran agama kita dan tanpa mendengarkan siapapun yang mencoba untuk meremehkan kita, kita bisa jadi apapun selagi kita punya passiondan jangan mudah menyerah kata yang seelalu mdiucaokan Dosson ketika ia ingin menyerah adalah “let me save one more person, please” “one more, God, please” ini menunjukan bahwa betapa ia berani untuk terus menolong orang lain walaupun nyawanya sebagai taruhan.
Saranya bagi kalian yang tidak tahan melihat darah disarankan untuk tidak menonton film ini karena saya jamin kalian akan merasa pusing dan mual sesaat.And this is not totally a religious movie, so don’t be afraid to “deceive”. Over all, I can say that this’s one of the best Movie in 2016.  You can proof it out by yourself with your friend, family, lover or etc by watching this at the cinema or please go to the Movie store and buy the CD. Selamat menonton dan selamat berperang :) -GEA


Rabu, 12 Juli 2017

REVIEW FILM "THE ANTHEM OF THE HEART"



THE ANTHEM OF THE HEART ( Kokoro ga Sakebitagatterunda)

                The Anthem of The Heart merupakan sebuah film  drama animasi yang rilis 19 september tahun 2015. Film animasi ini diproduksi oleh A-1 pictures yang disutradarai Tatsuyuki Nagai dan ditulis oleh  Mari Okada. Sebelumnya mereka berdua telah membuat suksesnya film Toradora dan Ano Hana. Kokoro ga Sakebitagatterunda secara harafiah memiliki arti “Hati yang Ingin Berteriak” atau dalam bahasa jepangnya sering disingkat menjadi Kokosake(ここさけ). Film animasi ini telah meraih pendapatan sebesar 1.12 miliar yen (115 miliar rupiah) dan berhasil mendapatkan nominasi sebagai “Fillm Animasi Terbaik”dalam penghargaan Japan Academy Prize ke-39.
               
Cerita mengambil latar belakang disebuah kota di Jepang bernama Chichibu dengan tokoh utamanya bernama Jun Naruse. Seorang gadis muda yang cerewet dan selalu mengungkapkan segala isi hatinya tanpa memikirkan akibatnya dimasa yang akan datang. Karena merasa terlalu banyak bicara dan mengakibatkan kedua orangtuanya bercerai, Jun pun mulai munutup dirinya karena kesalahan tersebut. 


Suatu saat, ia bertemu dengan peri telur yang membuatnya menutup rapat kemampuannya untuk berbicara agar tidak menyakiti perasaan orang lagi. Jun pun menjadi anak yang pendiam di sekolah maupun di rumah dan ia merasa kesakitan saat mencoba untuk berbicara.  Tetapi Jun terpilih menjadi salah satu panitia dalam acara tahunan sekolah bersama Takumi, Natsuki, dan Daiki. Mereka berempat pun sepakat untuk membuat sebuah drama musikal untuk acara tahunan tersebut. Mulai saat itulah Jun harus berusaha untuk mengatasi trauma demi acara pementasan drama musikal. Sering berjalannya cerita terdapat masalah dari mereka berempat dengan masalah masalalu masing-masing, mulai dari masalah percintaan, pertemanan, dan juga masalah keluarga. Jun teman-teman sekelasnya berusaha tetap melakukan pementasan drama musikal disaat mereka memiliki masalah masing-masing dan karena itulah semuanya berubah.

                Film ini memiliki alur yang sederhana, dengan tidak menyajikan adegan yang dapat menyentuh emosi penontonnya secara mendalam. Cerita yang mudah ditebak membuat film ini cukup biasa-biasa saja. Tetapi walaupun begitu, film ini diakhiri dengan sajian drama musikal yang cukup menarik. Sebuah  drama musikal yang diiringi lantunan lagu dengan lirik yang berbeda secara bersamaan. Tak pernah terbayangkan dua buah lirik lagu dinyanyikan secara bersamaan dan menghasilkan melodi yang indah. Selain itu, film ini banyak memberikan pesan-pesan kehidupan tentang mengungkapkan isi hati untuk orang lain. Salah satu hal yang dapat ditangkap dalam film ini adalah “Sebuah kata-kata dapat menyakiti orang lain, tetapi terkadang seseorang ingin mengetahui isi hati orang lain walaupun itu menyakitkan”. 

-AKR

Senin, 27 Maret 2017

Salatiga Film Festival 2017

Hello Everyone!!!
SaFFest is back!

Setelah lomba dan screening film, kali ini kita mau memperkenalkan rangkaian acara SaFFest 2017 yaitu workshop tentang materi penyutradaraan yang akan disampaikan langsung oleh Rako Prijanto sang sutradara film Malaikat Tanpa Sayap, Terjebak Nostalgia, etc yang pasti bakal nambah pengetahuan kamu.

Gak cuman itu, kita juga bakal ada screening dan diskusi film bersama guest star kita. So, Are you curious with guest star of SaFFest 2017?!!!

This is it.....
1. Pamela Bowie
2.Miqdad Addausy
3. Jay Sukmo
Mereka adalah pemain dan sutradara dari film 'The Chocolate Chance' yang bakal kita screening atau tonton bareng.

Kapan lagi kan bisa nonton film bioskop di Salatiga bareng sama pemain dan sutradaranya langsung?

Yukk langsung aja daftar dengan kontribusi only 40k for FEB and 45k for non FEB. What will you get? Snack and Lunch, Point and Certificate, Knowledge, Fun Photobooth, and Doorprize.

Nah SaFFest sendiri bakal diadain di BU UKSW tanggal 12-13 mei 2017. Buat pendaftarannya kalian bisa ke selasar perpustakaan Notohamidjoyo atau ke FEB lantai 3 mulai jam 9.00-15.00, dan untuk diluar UKSW bisa hubungi Cp yang ada di poster yaa.

Yukk lah nonton dan ikutan yak gaess!kuota terbatas loh!

Senin, 06 Maret 2017

REVIEW ULANG TAHUN FINGER KINE KLUB YANG KE15 TAHUN

ULANG TAHUN FINGER KINE KLUB KE 15 TAHUN

hallo teman-teman semua, kali ini pada ulang tahun Finger Kine Klub yang ke 15 tahun yang dilaksanakan tanggal 04 maret 2017, dirayakan di sebuah Butik LASOP lantai 2, Taman pahlawan kompleks pertokoan 32 B Kotowinangun Kidul, Tingkir. Perayaan ulang tahun Finger Kine Klub kali ini terasa lebih seru dan menyenangkan karna tidak hanya bertemu dan berkumpul dengan para pendahulu tetapi dalam perayaan ulang tahun Finger kali ini banyak pelajaran-pelajaran berharga yang bisa didapat dan juga kebersamaan yang begitu hangat.



Pada ulang tahun Finger juga ada games seru yang dapat mengasah otak tentang pengetahuan umum, dengan adanya games itu juga membangun kedekatan dan keakraban yang secara tidak disadari terjalin dengan sendirinya, tidak hanya games tapi ada juga pemutaran film-film yang pernah diproduksi oleh Finger Kine Klub dan ditonton secara bersama-sama dan setelah pemutaran itu akan ditanyakan bagaimana proses pembuatannya dan apa makna dari film itu sendiri dan setelah itu akan ada sedikit saran dari para mendahulu yang memberikan pelajaran-pelajaran penting loh.


Setelah semua rangkaian acara sudah dilaksanakan, sampailah pada puncak acaranya yaitu peniupan lilin yang ke 15 tahun untuk merayakan ulang tahun Finger Kine Klub yang jatuh pada tanggal 6 Desember 2016 kemaren. Walaupun perayaan ulang tahunnya sedikit terlambat tapi tidak mengurangi antusias semuanya untuk ikut serta memeriahkan ulang tahun tersebut.


Selamat ulang tahun Finger Kine Klub semoga semakin sukses terus kedepannya dan semakin terasa kekeluargaan dan solidaritasnya, dan juga semakin berkarya dan jauh lebih baik lagi kedepannya.

Jumat, 27 Januari 2017

REVIEW KUPAS 2016


REVIEW KEGIATAN KUPAS 2016

Halo teman-teman semuanya
kali ini kita akan mereview ulang kegiatan sekitar satu semester ini yang sudah kita lakukan bersama dengan penuh suka dan duka yang kita lalui bersama yaitu KUPAS 2016. Kalian pasti ada yang belum tau atau bertanya-tanya apa sih KUPAS itu, KUPAS adalah kepanjangan dari Kumpulan Para Sineas dan biasanya rutin dilaksanakan oleh Finger Kine Klub setiap tahunnya untuk memfasilitasi seluruh Mahasiswa UKSW yang berminat ataupun ingin belajar mengenai dunia perfilman.





Acara KUPAS 2016 ini tidak hanya memberikan materi kepada anggota KUPAS 2016 tetapi mereka bisa melihat langsung bagaimana proses pembuatan film yang dipraktekkan langsung oleh Fungsionaris Finger Kine Klub dan juga mereka diajarkan langsung oleh Fungsionaris cara mempraktekannya agar mereka tidak hanya melihat tetapi juga bisa berperan langsung dalam pembuatan film yang dipraktekkan oleh Fungsionaris sebelum mereka terjun langsung dalam pembuatan film mereka secara perkelompok.


Ada tiga kelompok dalam acara KUPAS 2016 ini yang berperan langsung dalam pembuatan film mereka sendiri yaitu:

kelompok 1 yang bernama ROOFTOP PRODUCTION, nah rooftop production ini membuat film dengan judul Tragis yang bisa kalian klik tonton disini.

Kelompok 2 yang bernama GLOBAL PRODUCTION, nanh global production ini juga membuat film dengan judul Journalist and Dangerous Job yang bisa kalian klik dan tonton disini.

Kelompok 3 yang bernama SSTB PRODUCTION, nah sstb production ini membuat film dengan judul The Difference yang bisa kalian klik dan tonton disini.

Setelah para anggota menyelesaikan proses produksi hingga menghasilkan film-film pendek yang bagus dan keren-keren, tibalah saatnya para Fungsionaris dan Pendahulu untuk menilai dan membedah habis film yang sudah merea buat dalam acara screening yang dilaksanakan di gedung teleconference. Disinilah para anggota KUPAS 2016 di kerjain secara habis-habisan yang membuat para anggota merasa tegang, penuh emosional dan juga cukup mengharukan. Acara ditutup dengan makan nasi tumpeng bersama-sama.


Setelah tahap dan sesi pembelajaran dalam pembuatan film sudah mereka pelajari semua, tibalah mereka di penghujung acara yaitu pelantikan anggota Finger Kine Klub yang dilaksanakan di java dengan rangkaian outbond dan talent show. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok yang akan melewati rintangan dan tantangan yang diberikan oleh para Fungsionaris.

Acara yang paling ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu pelantikan anggota Finger Kine Klub 2017 yang baru. Dengan dilantiknya anggota Finger Kine Klub yang baru berakhir juga KUPAS 2016. Selamat bergabung di keluarga Finger Kine Klub ya teman- teman dan sampai jumpa di KUPAS 2017 selanjutnya.