Jumat, 30 September 2016

REVIEW FILM

                             Teacher’s Diary (KHID THUENG WITHAYA)


            Sebuah rumah produksi GTH pada tahun 2014 merilis sebuah film terbarunya yang berjudul “Teacher’s Diary” atau dalam bahasa Thailand Khid Theung Withaya. Film ini memiliki kisah yang unik, dengan alur cerita masa kini dan flashback yang disorot beriringan berganti-gantian dan saling berhubungan satu sama lainnya, hingga akhirnya konklusi terjadi di masa kini.
            Film ini berkisah tentang Song (Sukrit Wisetkaew) yang merupakan seorang mantan pegulat yang ingin menjadi seorang guru SD. Ia pun di tugaskan di sekolah kapal yang berada di tempat terpencil dengan bangunan serupa perahu. Sekolah khusus untuk anak-anak miskin yang hidup di sana dengan rata-rata mata pencaharian orang tua sebagai nelayan. Disana ia mengajar hanya 4 orang murid dengan tingkat pendidikan yang berbeda.
            Disaat yang bersamaan dengan itu, terjadi flashback 3 tahun yang lalu yang menampilkan tokoh perempuan bernama Ann (Chermarn Boonyasak). Ann merupakan seorang guru yang saat itu di tegur oleh Kepala Sekolah karena memiliki tato 3 bintang ditangannya. Karena ia tidak mau menghapus tato yang ada di tangannya, Ann pun di pindah ke sekolah kapal tersebut.
            Kembali ke masa kini, Song yang tidak memiliki pengalaman mengajar pun kesusahan menghadapi 4 muridnya. Saat itu Song menemukan buku diary milik Ann yang ditulis 3 tahun yang lalu. Buku itu berisi tentang pengalaman Ann selama mengajar di sekolah tersebut, baik dalam hal pendidikannya, isi hatinya, hingga kecurhatan masalah-masalah percintaannya yang complicated.
Dari tulisan-tulisan Ann itu, Song mempelajari segala hal tentang kepribadian Ann, hingga akhirnya dia merasa jatuh cinta pada Ann. Di dalam buku harian juga tercantum beberapa masalah Ann soal pengajaran yang belum berhasil dia pecahkan hingga akhirnya Song berusaha untuk menyelesaikan sisa-sisa masalah tersebut. Sekali lagi, semangat mengajar Song muncul karena tulisan-tulisan Ann, ditambah anak-anak murid yang lama-lama makin dekat dengan dirinya dan terasa kekeluargaannya. Cerita lalu berkembang dengan rapi hingga konflik perasaan antar dua tokoh yang sama sekali tidak pernah bertemu ini semakin membuat gregetan untuk digali.
Kisah ini dapat dinikmati dari berbagai sudut pandang, walaupun genre film ini merupakan film komedi romantis. Ada banyak hal yang dapat digali mulai dari nilai edukasi dan motivasi. Kalau diperhatikan dari sisi motivasi, kita bisa belajar dari sifat Song yang pantang menyerah dalam menjalani hidup sebagai guru ditempat terpencil hanya dengan kata-kata penyemangat sederhana dalam buku diary Ann. Dari segi pendidikan dan kemanusiaan, kita bisa lihat bahwa anak-anak yang kurang mampu pun ingin sekolah hingga menginap di sekolah dan hanya pulang di hari sabtu dan minggu saja.
Selain cerita, kekuatan film ini tentu dari akting kedua bintang utamanya yakni Chermarn Boonyasak dan heartthob Thailand, Sukrit Wisetkaew. Mereka berdua mampu bermain dengan sangat baik dan menggemaskan walau tidak pernah ditampilkan dalam satu adegan.
Tak hanya itu saja, sinematografi Naruepol Chokanapitak dan tata musik yang padu, berhasil menambah warna tersendiri bagi film ini. -AKR


Reaksi:

2 komentar: