Finger Kine Klub

Finger Kine Klub

Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Universitas Kristen Satya Wacana

Pancasila

INDONESIA

Selasa, 29 Maret 2016

HARI FILM NASIONAL


Sejarah dan Perkembangan Film di Indonesia


30 Maret merupakan tanggal yang tidak asing lagi bagi sineas dan insan perfilman di Indonesia. Ya, tanggal tersebut adalah tanggal yang diperingati sebagai Hari Film Nasional yang ditetapkan sejak tahun 1962 oleh Konferensi Kerja Dewan Film Nasional dan Organisasi Perfilman. Kenapa tanggal 30 Maret? Alasannya, karena tanggal 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar untuk film “Darah dan Doa” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai oleh Usmar Ismail yang diproduksi oleh perusahaan film milik orang Indonesia asli yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) dimana Usmar Ismail tercatat juga sebagai pendirinya. Bioskop terbesar dan termegah di Indonesia untuk pertama kalinya diresmikan pada tahun 1951 yang melatarbelakangi pembangunan bioskop lain yang berkembang pesat. Dari tahun 1950-an sampai 1970-an perfilman Indonesia mulai goyah dan mengalami banyak hambatan. Namun, di tahun 1990-an sampai sekarang perfilman Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya film yang berkualitas dari sutradara Indonesia seperti Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho. Setelah itu muncul Mira Lesmana dengan Petualangan Sherina dan Rudi Soedjarwo dengan Ada Apa dengan Cinta? (AADC) yang sukses di pasaran. Hingga sekarang film yang sedang digandrungi oleh masyarakat Indonesia  adalah film dengan genre percintaan dan comedy seperti Single karya Raditya Dika.

Selain film-film berdurasi panjang, sejarah film di Indonesia juga tak luput dari film pendek atau yang lebih dikenal denagn Film Indie. Dalam sejarah film dunia, istilah ‘film pendek’ mulai populer sejak dekade 50-an. Alur perkembangan terbesar film pendek memang dimulai dari Jerman dan Perancis; para penggagas Manifesto Oberhausen di Jerman dan kelompok Jean Mitry di Perancis. Di kota Oberhausen sendiri, kemudian muncul Oberhausen Kurzfilmtage yang saat ini merupakan festival film pendek tertua di dunia.

Di Indonesia, dimana film pendek sampai saat ini selalu menjadi pihak marjinal –sekali lagi, dari sudut pandang pemirsa- film pendek memiliki sejarahnya sendiri yang sering terlupakan. Film pendek Indonesia secara praktis mulai muncul di kalangan pembuat film Indonesia sejak munculnya pendidikan sinematografi di IKJ. Perhatian para film-enthusiasts pada era 70-an dapat dikatakan cukup baik dalam membangun atmosfer positif bagi perkembangan film pendek di Jakarta. Bahkan, Dewan Kesenian Jakarta mengadakan Festival Film Mini setiap tahunnya mulai 1974, dimana format film yang diterima oleh festival tersebut hanyalah seluloid 8mm. Akan tetapi sangat disayangkan kemudian Festival Film Mini ini berhenti pada tahun 1981 karena kekurangan Dana.

Pada 1975, muncul Kelompok Sinema delapan yang dimotori Johan Teranggi dan Norman Benny. Kelompok ini secara simultan terus mengkampanyekan pada masyarakat bahwa seluloid 8mm dapat digunakan sebagai media ekspresi kesenian. Hubungan internasional mulai terbangun, diantaranya dengan para filmmaker Eropa terutama dengan Festival Film Pendek Oberhausen, ketika untuk pertama kali-nya film pendek Indonesia berbicara di muka dunia di tahun 1984. Keadaan ini memancing munculnya Forum Film Pendek di Jakarta, yang berisikan para seniman, praktisi film, mahasiswa dan penikmat film dari berbagai kampus untuk secara intensif membangun networking yang baik di kalangan pemerhati film.

Akan tetapi, Forum Film Pendek hanya bertahan dua tahun saja. Secara garis besar, keadaan film pendek di Indonesia memang dapat dikatakan ironis. Film pendek Indonesia hampir tidak pernah tersampaikan ke pemirsa lokal-nya secara luas karena miskinnya ajang-ajang eksibisi dalam negri. Akan tetapi di sisi lain, di dunia internasional, film pendek Indonesia cukup mampu berbicara dan eksis. Dari sejak karya-karya Slamet Rahardjo, Gotot Prakosa, Nan T. Achnas, Garin Nugroho, sampai ke generasi Riri Riza dan Nanang Istiabudi.

Saat ini dunia perfilman Indonesia sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sineas dan insan perfilman yang mampu membuat film-film berkualitas yang mampu bersaing di pasaran. Canggihnya alat-alat untuk memproduksi dan mempromosikan film menjadi faktor yang mendukung film-film Indonesia sehingga dapat menciptakan karya yang berkualitas dan berhasil menarik minat masyarakat Indonesia terhadap film lokal. Perkembangan film indie pun juga berkembang pesat dengan banyaknya kemunculan rumah produksi dan komunitas-komunitas film independen yang memproduksi film pendek. Selain itu, film pendek juga sudah mulai dicintai oleh remaja-remaja Indonesia melalui kegiatan ekstrakulikuler film di sekolah-sekolah menengah dan melalui Unit Kegiatan Mahasiswa di berbagai Universitas di Indonesia. Untuk mengapresiasi karya-karya sineas Indonesia sekarang banyak diadakan acara festival-festival film baik itu yang bertingkat nasional, daerah, maupun kota. Melalui pelaksanaan kegiatan ini diharapkan banyak masyarakat yang akan mencintai dan mengapresiasi karya film dari sineas-sineas Indonesia. Kalau bukan kita siapa lagi? So, Cintai Film Indonesia yaa! -nsa-

Sumber : Wikipedia 



Minggu, 27 Maret 2016

Review Film “Magic Hour”


MAGIC HOUR "Let In The Unexpected

Magic Hour.. hmm pertama gue penasaran nonton filmnya karena di TV setiap break/iklan itu pasti ada nih muncul trailernya. Dari trailernya sih cukup menarik dan cukup membuat jantung gue berdegup kencang. ”Wah bagus nih kayaknya filmnya, gue harus nonton!” pikir gue. Dan akhirnya seminggu kedepan saya pergi ke bioskop terdekat untuk menonton film Magic Hour ini.

Suasana di bioskop kurang menyenangkan karena yang nonton pada saat itu rata-rata anak-anak sekolahan (SMP, SMA) yang datang tak sendiri tapi sama pasangannya. Bayangin coba perasaan gue yang jomblo datang sendirian ke bioskop nonton film romantis. Hmmm.. nggak usah dijelaskan, you know what I mean

Masuk ke filmnya langsung. Di awal-awal filmya tampak sangat membosankan karena ceritanya tentang jodoh-jodohan. Jadi ada yang namanya Gweny (diperankan oleh Nadia Arina) dijodohin sama mamanya (diperankan oleh Merriam Bellina) dengan anak teman dekatnya yaitu Dimas (diperankan oleh Dimas Anggara). Nah, si Gweny ini nggak mau dijodohkan lalu akhirnya dia meminta tolong pada Raina (diperankan oleh Michelle Ziudith) yang adalah sahabat dekat Gweny. Untuk berpura-pura jadi dirinya dan menemui Dimas.

Nah, melalui pertemuan-pertemuan itu muncullah benih-benih cinta antara Dimas dengan Raina. Namun Raina memiliki sahabat dari kecil yang bernama Toby (diperankan oleh Rizky Nasar) yang ternyata juga suka padanya. Tapi dia memendamnya cukup lama. Yah, mungkin karena alasan lazim “dia nggak mau kehilangan Raina sebagai sahabat” upss..konflik percintaan remaja saat ini banget hahhaha..

Masuk pertengahan film mulai konflik cerita dimunculkan satu persatu yang membuat filmnya jadi seru. Gweny yang bertemu secara langsung dengan Dimas akhirnya jadi suka dan menerima perjodohan itu. Raina yang tak ingin membuat sahabatnya malu dan kecewa akhirnya dia melepaskan Dimas. Namun Dimas tak mau melepaskan Raina. Dan Toby pun tetap berusaha menjauhkan Dimas dari Toby. Terjadilah cinta segi empat yang sangat rumit.

Mendekat ke akhir ceritanya makin membuat penasaran. Raina buta dan ternyata Dimas punya sakit parah yang akhirnya dia meninggal. Tapi ada sosok lain yang selama ini menemani Raina sebagai seorang Dimas. Dan sosok itu adalah kembaran Dimas (diperankan oleh Dimas anggara juga). Yang sudah lama dieritakan oleh Dimas tentang Raina. Yah..sebagian besar seperti itulah ceritanya..

Ceritanya tidak cuma bergenre romantis tapi ada dibalut komedi juga di awal-awal. Kalau kalian penasaran dengan keseluruhan filmnya,nonton aja langsung.. hehe dijamin nggak bakal nyesel kok nontonnya :D

DEL


Sabtu, 19 Maret 2016

REVIEW FILM "DEADPOOL"


Apa sih yang ada dipikiran kalian ketika kita bicara tentang Superhero (pria)? Pastinya gahar, jantan, pendiam, dan sebagainya. Namun, bagaimana jika itu semua dibalik? Bagaimana jika superhero ini  kocak, gokil, dan agak feminim? Pastinya akan terkesan antimainstream ya guys. Itulah gambaran singkat dari superhero baru dari Marvel, yaitu Deadpool yang juga merupakan hasil garapan sutradara Tim Miller.

Wade Wilson, seorang tentara bayaran yang terkenal berdarah dingin namun juga kocak ini awalnya hidup baik – baik saja, sampai akhirnya dia divonis menderita kanker. Sebuah percobaan ilmiah ditawarkan kepada Wade agar dia bisa sembuh dan menjadi superhero, namun yang terjadi adalah dia ditinggalkan karena dianggap gagal dengan luka di sekujur tubuhnya.Dengan niat untuk balas dendam, Wade mencari orang yang harus bertanggungjawab atas tubuhnya itu. Kekuatan super buatan yang dimilikinya sangat membantu dalam misi balas dendam ini, disamping bantuan dari teman – temannya.
 
Dalam film ini, sangat banyak adegan kekerasan yang sangat tidak disarankan untuk ditonton oleh anak dibawah umur. Namun di satu sisi, Deadpool memiliki sifat kocak dan gokil yang sangat menghibur penonton  agar tidak bosan. Rilis pada pertengahan Februari yang identik dengan Hari Kesayangan juga sedikit banyak tercermin di film ini melalui kisah Wade Wilson dengan sang pacar. Bagaimanapun juga film Deadpool sangat direkomendasikan untuk kalian yang bosan dengan superhero yang itu – itu saja. So guys, untuk kalian yang sudah diatas 17 tahun,tunggu apa lagi, segera tonton film Deadpool ini di bioskop – bioskop kesayangan anda, ingat NO BAJAKAN ya guys :)

-Raditya Okto W-