Finger Kine Klub

Finger Kine Klub

Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Universitas Kristen Satya Wacana

Pancasila

INDONESIA

Sabtu, 26 November 2016

REVIEW FILM

Dawn of the Planet of the Apes
Tanggal rilis: 12 Juli 2014 (Indonesia)
Genre: Fiksi Ilmiah
Durasi: 131 menit
Sutradara: Matt Reeves
Pemain: Andy Serkis, Gary Oldman, Jason Clarke, Kodi Smit-McPhee, Keri Russell, Judy Greer

Sedangkan di jajaran cast manusia ada Jason Clarke dan Gary Oldman menggantikan James Franco yang merupakan sosok sentral di Rise. Meski mengganti semua tokoh manusianya, Dawn masih melanjutkan apa yang ditinggalkan oleh film pertama, lebih tepatnya 10 tahun pasca ending Rise.
Awal kisah film ini dari virus ALZ-113 yang dibawa oleh para monyet kini tidak hanya telah menyebar ke seluruh dunia tapi juga sudah memusnahkan hampir sebagian besar peradaban manusia. Beberapa orang di San Francisco cukup "beruntung" karena secara genetis mereka kebal terhadap virus tersebut dan kini tingga bersama-sama untuk membangun kembali peradaban sambil mencari para survivor untuk mengatasi masalah listrik guna membangun PLTA di bendungan di mana kera-kera itu berada. Kera-kera yang sudah pandai berbicara, membaca, dan membentuk koloni. Saat para survivor masuk dalam koloni mereka mulailah konflik muncul karena perselisihan pendapat antara pemimpin kera dengan temannya yang mencurigai para survivor.
 Alur film ini lamban di awalnya dan membuat penonton sedikit bosan, tetapi penggambaran karakter manusia dan kera mampu memberikan sisi emosial pada penonton. Selain itu efek visual film ini tidak mengecewakan karena kualitas gambar dan animasi yang ditampilkan terasa nyata. Dari fiksi ilmiah dengan konsep cerita yang menarik dan hampir mendekati dengan kenyataan di dunia yang bisa saja terjadi di masa depan, ketika teknologi manusia sudah semakin canggih.. Walau tidak banyak memberikan flashback dari film sebelumnya dan hampir tidak ada perkembangan tokoh yang berarti, “Dawn Of The Planet Of The Apes” tetap mampu memberikan kisah yang menarik walaupun mungkin Anda belum sempat menonton film pertamanya. -tika-


Sabtu, 19 November 2016

REVIEW FILM

REVIEW FILM CINDERELLA (2015)
Oleh : NSA

Cinderella merupakan salah satu dongeng anak-anak yang terkenal sampai sekarang, Jadi sebenarnya tidak diceritain filmnya seperti apa pun sebagian besar orang pasti sudah mengetahui bagaimana jalan cerita atau ending dari film Cinderella ini. Namun, yang menjadi daya tarik dalam film ini adalah Kualitas visual effect yang sudah tak perlu ditanyakan lagi. Disini Penonton diajak untuk menjadi anak kecil kembali, dengan menunjukkan betapa mengagumkannya sesuatu yang bernama “sihir” dalam film ini. Jika dulu Anda merasa kagum dengan sihir yang dilakukan oleh Peri Pelindung dalam Cinderella versi 1950, kini sihir tersebut akan terlihat lebih menarik dan terlihat sangat nyata. Hal ini juga didukung kuat dengan musik serta seting lokasi dan pakaian yang tidak kalah menariknya untuk disimak. Semua property yang dipakai di film ini terlihat nyata, cetar dan membahana loh.. kebayangkan berapa budget yang keluar untuk film ini, eitss tapi pendapatan yang diterima lebih banyak pasti dari budgetnya, So, masih tetap untunglah.. Prinsip ekonomi harus tetap berjalan dong.. Pemeran Cinderellanya pun juga terbilang mumpu untuk memerankan tokoh Cinderella tersebut. Tapi yang mengecewakan di film ini menurutku adalah pemeran Pangeran Kit di Film ini kurang ganteng tidak sesuai dengan ekspektasiku. Tapi itu kembali lagi ke masalah selera. :D

Ceritanya di mulai dari kehidupan bahagia Cinderella saat masih kecil bersama kedua orang tuanya. Sampai suatu hari Ibu Cinderella sakit keras dan menitipkan pesan kepada Cinderella bahwa apapun yang terjadi Cinderella harus memiliki semangat dan bersikap ramah “Have Courage and Be Kind” tak lama setelah itu ibu Cinderella meninggal. Ayah Cinderella memutuskan menikah lagi dengan Lady Tremaine yang mempunyai 2 anak yaitu  Drizella dan Anastasia. Ketika sang Ayah tidak ada di rumah, Cinderella diperlakukan dengan buruk oleh ibu tiri dan kedua saudara tirinya. Hingga akhirnya saat Ayahnya meninggal dunia Cinderella harus hidup menderita dan diperlakukan secara tidak wajar seperti layaknya seorang pembantu. Cinderella dewasa pergi ke hutan kemudian bertemu dengan orang asing yang ternyata adalah Pangeran Kit. Cinderella tidak menyadarinya dia berpikir pangeran hanyalah prajurit istana biasa.

Dalam rangka mencari calon istri untuk sang Pangeran, Raja pun memutuskan untuk mengundang semua gadis untuk datang dalam pesta dansa kerajaan. Cinderella tentunya ingin datang untuk bertemu dengan Kit, namun tentu saja tidak diperbolehkan oleh sang Ibu tiri. Namun, keajaiban pun datang dengan adanya Ibu Peri yang membantu Cinderella agar bisa datang bertemu sang Pangeran. Nah di pesta dansa inilah Cinderella mengetahui kalo Kit adalah sang Pangeran. Semua mata tertuju pada Cinderella dan Pangeran Kit saat mereka dansa loh. Tapi sayangnya waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 jadi Cinderella harus buru-buru pergi. Tapi seperti biasa, Sepatunya ketinggalan satu nihh sodara-sodaraa.
.
Kabar baiknya pangeran mengadakan sayembara untuk mencari Cinderella dengan sebuah sepatu  kaca yang ditinggalkan Cinderella. Kabar buruknya sang Ibu Tiri sudah mengetahui bahwa sepatu itu milik Cinderella, jadi disabotase deh.. tapi dimana mana kebaikan akan selalu menang kok, Jadi walaupun cinderella dikurung Pangeran tetap bisa menemukan Cinderella.. dan akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.


-----------------------------------------------The End--------------------------------------------

Senin, 17 Oktober 2016

OPREC PANITIA SAFFEST


Hallo Febies!
Finger lagi open recruitment buat panitia Salatiga Film Festival (SAFFEST) 2017 nih. Yukk langsung aja daftar selagi ada kesempatan baik bagi kalian-kalian yang pengen jadi panitia. 

Cara daftarnya gampang kok kalian tinggal download formulirnya di grup angkatan kalian masing-masing dan lengkapi berkas-berkas yang diminta yang sudah tertera di poster ya dan pendaftarannya dibuka dari tanggal 18-21 Oktober 2016 dan wawancara akan dilakukan mulai dari tanggal 21-22 Oktober 2016.
so, prepare and register yourself  and be a part of SAFFEST 2017!
Informasi lebih lanjut bisa hubungi Debby (082242751335) atau Nisha (087700539918)

Lets join and make a great event with us! 

Selasa, 11 Oktober 2016

REVIEW SERTIJAB PERIODE 2016/2017

Serah Terima Jabatan Finger Kine Klub periode 2016/2017

Sertijab periode 2016/2017 kali ini dilaksanakan pada tanggal 8 sampai 9 oktober 2016 yang dilaksanakan di hotel Adam Sari Kopeng, Jawa Tengah. Walau kegiatan sertijab kali ini sedikit terhalang oleh cuaca yang buruk dan perpindahan lokasi sertijab yang mendadak karena cuaca yang tidak memungkinkan, tapi tidak menyurutkan sedikit pun semangat peserta sertijab dalam melaksanakan kegiatan yang sudah direncanakan.

Pada tanggal 8 malam peserta sertijab melakukan kegiatan api unggun bersama serta melakukan barbeque bersama, selain itu juga malam itu dipenuhi dengan suara tawa dan nyanyian yang mengiringi malam itu, selain itu malam itu juga dihabiskan dengan bermain bersama yang menambah kegembiraan dan kesan kekeluargaan yang sangat terasa.

 

Pada tanggal 9 pagi peserta sertijab melakukan senam bersama dan bermain bersama. Dalam permainan itu peserta dibagi jadi tiga kelompok, yang masing-masing kelompok membuat yel-yel yang dapat membuat semua tertawa saat mendengarnya, tidak Cuma itu saja para peserta sertijab melakukan berbagai permainan yang mampu membuat suasana lebih menyenangkan. Dipuncak acara finger kine klub melakukan serah terima jabatan periode 2015/2016 kepada BPH serta DEVISI baru yang akan menjabat periode 2016/2017 serta memberikan mandat agar periode baru bisa menjadikan finger kine klub menjadi lebih baik dari dari periode sebelumnya.



Walaupun sertijab penuh dengan tantangan karna cuaca yang tidak bersahabat tetapi sertijab ini mampu memberi kesan sendiri dihati masing-masing peserta, canda tawa yang akan membekas dihati masing-masing, rasa kekeluargaan dan juga kekompakan para peserta dan panitia juga dapat memberikan arti tersendiri bahwa keluarga finger kine klub adalah keluarga yang kompak,penuh canda tawa, penuh kegembiraan, walaupun berbeda angkatan tapi disitulah keunikan dari finger kine klub bahwa tidak ada rasa saling membedakan tetapi rasa persaudaraan yang tinggi yang di tunjukan oleh finger kine klub.

Untuk full foto sertijab bisa diliat disini: https://www.facebook.com/profile.php?id=100013390301159&ref=ts&fref=ts   
                                                                                                                                          -YFC-

Rabu, 05 Oktober 2016

Cara mengunduh Formulir Pendaftaran Finger Kine Klub 2016

Hi guys!
Sudahkah kalian mengisi dan mengumpulkan formulir pendaftaran anggota baru Finger Kine Klub? Atau kalian ingin mengisi tapi masih bingung atau tidak tahu caranya? Nah, ikuti cara di bawah ini ya:
1. Buka blog / facebook Finger Kine Klub

2. Klik link "disini" pada blog atau buka link yang tersedia di facebook Finger Kine Klub


atau


3. Masukkan email student


4. Masukkan password

5. Kalian akan masuk ke laman google docs. Kemudian pilih File - Download as - Microsoft Word (.docx)


6. Muncul jendela download, klik save


Gimana? Mudah kan guys? Jika kalian masih bingung dengan cara di atas, kalian bisa fotocopy di Ikasatya ya! Ingat, batas pengumpulan tanggal 7 oktober 2016 loh!


Jumat, 30 September 2016

REVIEW FILM

                             Teacher’s Diary (KHID THUENG WITHAYA)


            Sebuah rumah produksi GTH pada tahun 2014 merilis sebuah film terbarunya yang berjudul “Teacher’s Diary” atau dalam bahasa Thailand Khid Theung Withaya. Film ini memiliki kisah yang unik, dengan alur cerita masa kini dan flashback yang disorot beriringan berganti-gantian dan saling berhubungan satu sama lainnya, hingga akhirnya konklusi terjadi di masa kini.
            Film ini berkisah tentang Song (Sukrit Wisetkaew) yang merupakan seorang mantan pegulat yang ingin menjadi seorang guru SD. Ia pun di tugaskan di sekolah kapal yang berada di tempat terpencil dengan bangunan serupa perahu. Sekolah khusus untuk anak-anak miskin yang hidup di sana dengan rata-rata mata pencaharian orang tua sebagai nelayan. Disana ia mengajar hanya 4 orang murid dengan tingkat pendidikan yang berbeda.
            Disaat yang bersamaan dengan itu, terjadi flashback 3 tahun yang lalu yang menampilkan tokoh perempuan bernama Ann (Chermarn Boonyasak). Ann merupakan seorang guru yang saat itu di tegur oleh Kepala Sekolah karena memiliki tato 3 bintang ditangannya. Karena ia tidak mau menghapus tato yang ada di tangannya, Ann pun di pindah ke sekolah kapal tersebut.
            Kembali ke masa kini, Song yang tidak memiliki pengalaman mengajar pun kesusahan menghadapi 4 muridnya. Saat itu Song menemukan buku diary milik Ann yang ditulis 3 tahun yang lalu. Buku itu berisi tentang pengalaman Ann selama mengajar di sekolah tersebut, baik dalam hal pendidikannya, isi hatinya, hingga kecurhatan masalah-masalah percintaannya yang complicated.
Dari tulisan-tulisan Ann itu, Song mempelajari segala hal tentang kepribadian Ann, hingga akhirnya dia merasa jatuh cinta pada Ann. Di dalam buku harian juga tercantum beberapa masalah Ann soal pengajaran yang belum berhasil dia pecahkan hingga akhirnya Song berusaha untuk menyelesaikan sisa-sisa masalah tersebut. Sekali lagi, semangat mengajar Song muncul karena tulisan-tulisan Ann, ditambah anak-anak murid yang lama-lama makin dekat dengan dirinya dan terasa kekeluargaannya. Cerita lalu berkembang dengan rapi hingga konflik perasaan antar dua tokoh yang sama sekali tidak pernah bertemu ini semakin membuat gregetan untuk digali.
Kisah ini dapat dinikmati dari berbagai sudut pandang, walaupun genre film ini merupakan film komedi romantis. Ada banyak hal yang dapat digali mulai dari nilai edukasi dan motivasi. Kalau diperhatikan dari sisi motivasi, kita bisa belajar dari sifat Song yang pantang menyerah dalam menjalani hidup sebagai guru ditempat terpencil hanya dengan kata-kata penyemangat sederhana dalam buku diary Ann. Dari segi pendidikan dan kemanusiaan, kita bisa lihat bahwa anak-anak yang kurang mampu pun ingin sekolah hingga menginap di sekolah dan hanya pulang di hari sabtu dan minggu saja.
Selain cerita, kekuatan film ini tentu dari akting kedua bintang utamanya yakni Chermarn Boonyasak dan heartthob Thailand, Sukrit Wisetkaew. Mereka berdua mampu bermain dengan sangat baik dan menggemaskan walau tidak pernah ditampilkan dalam satu adegan.
Tak hanya itu saja, sinematografi Naruepol Chokanapitak dan tata musik yang padu, berhasil menambah warna tersendiri bagi film ini. -AKR


Minggu, 25 September 2016

Open Recuitment Finger Kine Klub 2016

Haloo Sineass! 
Kita lagi Open Recuitment anggota baru nih, 
So, buat teman-teman semua yang tertarik dan ingin mengetahui lebih banyak mengenai dunia perfilman atau ingin tahu lebih banyak gimana sih cara bikin film itu? 
Yukk langsung aja gabung jadi anggota baru Finger Kine Klub.
Syarat Pendaftaran:
1. Formulir Pendaftaran 
2. KST beserta jadwal asistensi
3. Kumpul kan di kantor Finger Kine Klub (F308) atau di finger.kine.klub@student.uksw.edu 
Unduh formulir pendaftarannya disini atau bisa juga di fotocopy di Ikasatya dan di Perpustakaan Lt. 2. 

Are you ready to be a part of our family?




Jumat, 23 September 2016

REVIEW FILM ALEXANDER and TERRIBLE, HORRIBLE, NO GOOD, VERY BAD DAY

Alexander and the Terrible, Horrible, No good, Very Bad Day

(2014)



Siapa yang tidak pernah merasakan suatu hari yang sangat menyebalkan? Bisa dibilang itu adalah hari yang sial. Sama seperti yang terjadi pada keluarga Alexander.Ed Oxenbould yang berperan sebagai Alexander yang saat itu berumur 11 tahun mendapatkan kesialan di setiap harinya dan sampai menganggap hari-harinya mengerikan, tidak baik, dan sangat buruk (terrible, horrible, no good, very bad day). Mulai dari dia terjatuh dan menumpahkan susunya, permen karet di rambutnya, terjatuh di depan anak perempuan yang disukainya, sampai membakar buku lab di sekolahnya.

Tetapi di malam ulang tahunnya yang ke-12, dia berdoa agar anggota keluarganya yang lain dapat merasakan hari seperti yang dia rasakan,  dan itu terwujud. Mulai dari dibacakannya buku anak-anak salah cetak di depan umum yang dibuat oleh ibunya, kemudian kakaknya yang pertama merusak property milik sekolahnya dan menghancurkan mobilnya di tes menyetir, kakaknya yang kedua mendapat serangan flu ketika dia harus tampil di acara drama sekolahnya, sampai ayahnya yang hampir membakar dirinya di restoran Jepang bernama Nagamaki.

           

Film jebolan Walt Disney ini beralur mundur, menceritakan bagaimana keluarganya mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Dengan “apik”-nya pemeran-pemeran seperti Steve Carell, Jennifer Garner, Dylan Minnete dan Kerris Dorsey memerankan layaknya keluarga yang sedang mendapatkan kesialan dan hal-hal buruk. Film yang disutradarai oleh Miguel Arteta ini bergenre keluarga dan dibumbui comedy sehingga cocok untuk ditonton pada saat liburan keluarga atau di saat sedang bosan. “Alexander and the Terrible, Horrible, No good, Very Bad Day” ini dirilis pada tanggal 10 Oktober 2014. So, buat kalian yang merasa penasaran langsung aja cari dvd film ini di toko-toko penjual dvd film. -ARB-

Periode 2016/2017

Fungsionaris FINGER KINE KLUB
Periode 2016-2017

Badan Pekerja Harian (BPH)
Ketua               : Gratya Evangelia Aprila Adang
Sekretaris        : Debby CR Pandiangan
Bendahara       : Anderasta Krista Hardiyanti

Divisi Produksi dan Film
Elfara Wijaya (Koordinator)

Aji Kurniawan (Koordinator)
Melianus Etilko Sitokanda

Rabu, 21 September 2016

REVIEW FILM MALAIKAT TANPA SAYAP

Yukk nostalgia film Indonesia yang tayang beberapa tahun silam bareng review Malaikat Tanpa Sayap berikut.

Pemain:
                            Adipati Dolken - Vino

Maudy Ayunda - Mura

Surya Saputra - Amir (Ayah Vino)

Agus Kuncoro - CaloIkang

 Fawzi - Ayah Mura

Kinaryosih - Mirna (Ibu Vino)

Geccha Qheagaveta – Wina


Vino adalah salah satu anak yang menjadi korban broken home. Ayah dan ibunya terpaksa berpisah karena kondisi perekonomian ayahnya, alhasil ibunya (Mirna)  meninggalkan mereka dari tempat kontrakannya tersebut. Berpisahnya kedua orang tua mereka memberikan dampak selanjutnya bagi Vino. Vino  kini terpaksa putus sekolah karena uang SPPnya menunggak 3 bulan. Adiknya (Wina) mengalami kecelakaan dan kakinya harus dioperasi apabila tidak ingin di amputasi. Dengan keadaan seperti ini, Vino berjumpa dengan Mura yang sedang duduk di ruang tunggu Rumah Sakit tempat adiknya sedang dirawat. Selain bertemu dengan Mura, Vino pun bertemu dengan Calo, seorang makelar organ tubuh manusia. Si Calo menjelaskan bahwa dirinya akan memberikan uang banyak jika dia mau mendonorkan salah satu organ tubuhnya. Disitulah Vino harus berfikir keras dengan tawaran Calo tersebut.

Cerita Malaikat Tanpa Sayap yang dibuat oleh Anggoro Saronto ini berdurasi sekitar 100 menit. Masih banyak bolong-bolong dan kurang menarik, namun dapat teratasi kembali dengan adegan berikutnya. Konflik yang terjadi pun cukup masuk akal dan bisa terselesaikan dengan baik. Namun sayangnya cara penyelesaian akhir film ini terasa begitu berlebihan dan memaksa sekali. Belum lagi karakter-karakter yang berperan disini pun tidak begitu banyak. Jadi kefokusan penonton untuk mengetahui siapa saja yang terlibat di film ini masih dalam tahap biasa. Ada beberapa karakter yang nampaknya mengganggu bahkan tidak penting berada di film ini. Seperti kasir rumah sakit yang begitu bawel dan overacting di film ini.

Para pemain di film Malaikat Tanpa Sayap nampaknya cukup pas membawakan karakternya di film ini. Seperti Surya Saputra sebagai mantan orang kaya yang harus terpuruk dengan masalah perekonomian dan keluarga sangat pas dengan mimik dan gaya tubuhnya. Walaupun di beberapa adegan ada kostum yang terlalu mahal atau eksklusif untuk orang yang baru saja terpuruk. Sayangnya disini Surya Saputra kurang berwibawa atau gentle dalam memainkan posisi sebagai Ayah. Sedangkan Adipati Dolken kurang menghayati posisinya ketika berdialog dengan Maudy Ayunda.
Maudy Ayunda yang merupakan pemanis dari film ini bermain dengan bagus. Gaya anak muda sekarang dengan kostum casual dan kamera lomo digantung serta ipad yang selalu dibawa kemana pun dia pergi. Tapi disini saya merasa kasihan dengan karakter yang diperankan oleh Maudy Ayunda karena tidak memiliki banyak teman. Apakah karena dia homeschooling jadi tidak memiliki teman satu pun?

Chemistry diantara Maudy dan Adipati nampaknya pas untuk mereka berdua. Kekurangan mereka berdua cuma di intonasi saja, karena ada adegan yang dialognya kurang jelas dari Adipati Dolken. Dari setiap Film pasti memiliki pesan pesan positif bagi para penontonnya. Begitu pula dengan Film Malaikat Tanpa Sayap yang memiliki pesan pesan untuk tetap berjuang dalam hidup, selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan. 

TMY

Jumat, 12 Agustus 2016

Review Film Crazy Love (2013)

Film yang di sutradarai oleh Guntur Soeharjanto yang merupakan film remaja bertemakan Cinta. Dalam film ini menceritakan kisah cinta siswa SMA. Kumbang (Adipati Dolken) adalah seorang badboy di sekolahnya. Dia sering sekali terkena hukuman. Hingga suatu saat, kepala sekolahnya menugaskan Olive (Tatjana Saphira) agar membantu Kumbang agar dia bisa berubah dan memiliki nilai yang baik. Olive pun berusaha untuk membantu niat kepala sekolah. Tapi mengingat Kumbang dan 3 Temannya yaitu Abdu (Kemal Pahlevi), Daniel (Herichan), dan Basuki (Zidni Adam) adalah tiga serangkai yang begitu bandel di sekolahnya.Olive pun tidak kuat dengan sifat Kumbang yang masih kekanak-kanakan. Tapi diam-diam Kumbang mencintai Olive. Karena Olive adalah cewek yang banyak diperebutkan oleh cowok-cowok di sekolahnya. Tapi sayangnya, Kumbang tidak berani untuk mengatakannya. 
Banyak yang mengatakan bahwa film ini ‘terispirasi’ oleh film negara tetangga yaitu Taiwan dengan judul You Are The Apple of My Eye. Tapi film Crazy Love  ini lebih mengarah ke menjiplak secara keseluruhan daribeberapa segi film Taiwan tersebut. Mulai dari plot, karakterisasi tokohnya, bahkan dari segi teknis film ini pun masih juga meniru film You are The Apple of My Eye. Mungkin untuk segi plot tak secara kesuluruhan dicopast dari film You are The Apple of My Eye . Lebih diambil dari segi kisah cinta SMA yang memang penuh warna di film ini. Tetapi, penulis scenario tak bisa memberikan greget cerita cinta remaja seharusnya. Dengan beberapa adegan klimaks yang tidak ada rasanya. Hambar. Mungkin ada beberapa bagiannya yang masih bisa dinikmati dilihat dari segi pemilihan artisnya yang memang sangat menarik perhatian para penggemar film remaja Adipati Dolken, Tatjana Saphira, Kemal Pahlevi adalah nama-nama artis remaja yang sedang digandrungi saat itu.
Beberapa adegan-adegan yang sudah melekat atau menjadi sebuah iconic di film You Are The Apple of My Eye dengan gamblang digambarkan oleh sutradara di film Crazy Love. Opening film ini pun sama persis dengan film taiwan itu. Shoot yang diambil, property yang dipakai, settingan lokasi dan adegannya. Lalu adegan-adegan di kamar mandi, saat kumbang sedang belajar bahasa mandarin dan masih banyak lagi yang sama persis dengan film You are The Apple of My Eye. Hanya berbeda di endingnya, ending pahit pada drama Taiwan itu di ubah menjadi happy ending di film Crazy Love karena Kumbang dan Olive bersatu.
Overall, Crazy Love adalah sebuah film yang katanya ‘terinspirasi’ dari film Taiwan dengan judul You Are The Apple of My Eye. Tapi nyatanya ini adalah sebuah ‘duplikat‘ film Taiwan tersebut. Mulai dari segi plot, karakterisasi tokoh dan juga segi teknis film ini. Dengan sebuah penceritaan yang kurang greget.

GEA

Sabtu, 09 April 2016

REVIEW FILM CHEF


Film “Chef” adalah film Hollywood yang diproduksi pada tahun 2014 kemarin. Film “Chef” ini disutradarai oleh Jon Favreau. Satu hal yang unik, ternyata sutradara ini juga merangkap menjadi pemeran utama di Film “Chef” ini.

Film ini menceritakan tentang perjalanan kasir seorang pria bertubuh besar bernama Carl yang tidak lain berprofesi sebagai  Chef di salah satu Restaurant . Chef duda ini memiliki satu anak laki-laki yang bernama Percy.
Awalnya muncul konflik dimulai dari isi tweet buruk dari kritikus makanan yang memberikan komentar jelek kepada Carl melalui jejaring sosial yaitu twitter. Oleh dari itu Carl meminta bantuan anaknya untuk membuatkan akun twitter dengan alasan ingin melihat lanjutan tulisan-tulisan buruk apa saja yang telah di tweet. Semenjak isi tweet tersebut Carl akhirnya panas dan dia berencana untuk menantang kritikus tersebut dengan menyajikan makanan yang terbaru di restaurant tempat dia bekerja, namun dilarang bosnya. Alhasil, Carl keluar dari tempat kerjanya.
Sementara itu mantan istri Carl mengajak Carl beserta anaknya berlibur ke Miami, selama liburan itu istri Carl menawarkan ide untuk Carl membuka usaha Food Truck yang di modali oleh mantan suami istri Carl. Akhirnya Carl dibantu anaknya mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyiapkan usaha barunya itu. Setelah selesai mempersiapkan segala sesuatunya Food Truck tersebut jadi dan Carl dibantu masak oleh salah satu sahabatnya sewaktu bekerja di Restaurant sebelumnya. Muncul konflik dimana Percy ingin pula membantu ayahnya untuk menjadi Chef, namun Carl tidak mengijinkan.
Usaha Food Truck inipun cukup dibilang sukses dan menarik minat banyak orang, namun tetap saja banyak dinamika di dalamnya. Satu hal yang tidak diketahui sebelumnya oleh Carl, ternyata Percy sering mendokumentasikan aktivitas yang mereka lakukan selama berjualan di Food Truck tersebut. Menjulang sukses sampai-sampai kritikus makanan yang dulu pernah menjelek-jelekan Carl pun kini ingin menginvestasikan uangnya untuk membantu usaha Carl tersebut. Akhir dari cerita ini bisa dibilang happyending karena Carl kembali rujuk dengan istrinya.
Pengambilan gambar di Film ini juga menggunakan lensa model fisheye, sehingga pengambilannya unik dan tidak monoton. Film ini sangat direkomendasikan untuk kalian pecintakuliner dan ingin bercita-cita sebagai Chef atau pun ingin membuka usaha kuliner disarankan untuk menonton film ini sebagai referensi motivasi. Wkwkwk - CRP

Selasa, 29 Maret 2016

HARI FILM NASIONAL


Sejarah dan Perkembangan Film di Indonesia


30 Maret merupakan tanggal yang tidak asing lagi bagi sineas dan insan perfilman di Indonesia. Ya, tanggal tersebut adalah tanggal yang diperingati sebagai Hari Film Nasional yang ditetapkan sejak tahun 1962 oleh Konferensi Kerja Dewan Film Nasional dan Organisasi Perfilman. Kenapa tanggal 30 Maret? Alasannya, karena tanggal 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar untuk film “Darah dan Doa” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai oleh Usmar Ismail yang diproduksi oleh perusahaan film milik orang Indonesia asli yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) dimana Usmar Ismail tercatat juga sebagai pendirinya. Bioskop terbesar dan termegah di Indonesia untuk pertama kalinya diresmikan pada tahun 1951 yang melatarbelakangi pembangunan bioskop lain yang berkembang pesat. Dari tahun 1950-an sampai 1970-an perfilman Indonesia mulai goyah dan mengalami banyak hambatan. Namun, di tahun 1990-an sampai sekarang perfilman Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya film yang berkualitas dari sutradara Indonesia seperti Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho. Setelah itu muncul Mira Lesmana dengan Petualangan Sherina dan Rudi Soedjarwo dengan Ada Apa dengan Cinta? (AADC) yang sukses di pasaran. Hingga sekarang film yang sedang digandrungi oleh masyarakat Indonesia  adalah film dengan genre percintaan dan comedy seperti Single karya Raditya Dika.

Selain film-film berdurasi panjang, sejarah film di Indonesia juga tak luput dari film pendek atau yang lebih dikenal denagn Film Indie. Dalam sejarah film dunia, istilah ‘film pendek’ mulai populer sejak dekade 50-an. Alur perkembangan terbesar film pendek memang dimulai dari Jerman dan Perancis; para penggagas Manifesto Oberhausen di Jerman dan kelompok Jean Mitry di Perancis. Di kota Oberhausen sendiri, kemudian muncul Oberhausen Kurzfilmtage yang saat ini merupakan festival film pendek tertua di dunia.

Di Indonesia, dimana film pendek sampai saat ini selalu menjadi pihak marjinal –sekali lagi, dari sudut pandang pemirsa- film pendek memiliki sejarahnya sendiri yang sering terlupakan. Film pendek Indonesia secara praktis mulai muncul di kalangan pembuat film Indonesia sejak munculnya pendidikan sinematografi di IKJ. Perhatian para film-enthusiasts pada era 70-an dapat dikatakan cukup baik dalam membangun atmosfer positif bagi perkembangan film pendek di Jakarta. Bahkan, Dewan Kesenian Jakarta mengadakan Festival Film Mini setiap tahunnya mulai 1974, dimana format film yang diterima oleh festival tersebut hanyalah seluloid 8mm. Akan tetapi sangat disayangkan kemudian Festival Film Mini ini berhenti pada tahun 1981 karena kekurangan Dana.

Pada 1975, muncul Kelompok Sinema delapan yang dimotori Johan Teranggi dan Norman Benny. Kelompok ini secara simultan terus mengkampanyekan pada masyarakat bahwa seluloid 8mm dapat digunakan sebagai media ekspresi kesenian. Hubungan internasional mulai terbangun, diantaranya dengan para filmmaker Eropa terutama dengan Festival Film Pendek Oberhausen, ketika untuk pertama kali-nya film pendek Indonesia berbicara di muka dunia di tahun 1984. Keadaan ini memancing munculnya Forum Film Pendek di Jakarta, yang berisikan para seniman, praktisi film, mahasiswa dan penikmat film dari berbagai kampus untuk secara intensif membangun networking yang baik di kalangan pemerhati film.

Akan tetapi, Forum Film Pendek hanya bertahan dua tahun saja. Secara garis besar, keadaan film pendek di Indonesia memang dapat dikatakan ironis. Film pendek Indonesia hampir tidak pernah tersampaikan ke pemirsa lokal-nya secara luas karena miskinnya ajang-ajang eksibisi dalam negri. Akan tetapi di sisi lain, di dunia internasional, film pendek Indonesia cukup mampu berbicara dan eksis. Dari sejak karya-karya Slamet Rahardjo, Gotot Prakosa, Nan T. Achnas, Garin Nugroho, sampai ke generasi Riri Riza dan Nanang Istiabudi.

Saat ini dunia perfilman Indonesia sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sineas dan insan perfilman yang mampu membuat film-film berkualitas yang mampu bersaing di pasaran. Canggihnya alat-alat untuk memproduksi dan mempromosikan film menjadi faktor yang mendukung film-film Indonesia sehingga dapat menciptakan karya yang berkualitas dan berhasil menarik minat masyarakat Indonesia terhadap film lokal. Perkembangan film indie pun juga berkembang pesat dengan banyaknya kemunculan rumah produksi dan komunitas-komunitas film independen yang memproduksi film pendek. Selain itu, film pendek juga sudah mulai dicintai oleh remaja-remaja Indonesia melalui kegiatan ekstrakulikuler film di sekolah-sekolah menengah dan melalui Unit Kegiatan Mahasiswa di berbagai Universitas di Indonesia. Untuk mengapresiasi karya-karya sineas Indonesia sekarang banyak diadakan acara festival-festival film baik itu yang bertingkat nasional, daerah, maupun kota. Melalui pelaksanaan kegiatan ini diharapkan banyak masyarakat yang akan mencintai dan mengapresiasi karya film dari sineas-sineas Indonesia. Kalau bukan kita siapa lagi? So, Cintai Film Indonesia yaa! -nsa-

Sumber : Wikipedia 



Minggu, 27 Maret 2016

Review Film “Magic Hour”


MAGIC HOUR "Let In The Unexpected

Magic Hour.. hmm pertama gue penasaran nonton filmnya karena di TV setiap break/iklan itu pasti ada nih muncul trailernya. Dari trailernya sih cukup menarik dan cukup membuat jantung gue berdegup kencang. ”Wah bagus nih kayaknya filmnya, gue harus nonton!” pikir gue. Dan akhirnya seminggu kedepan saya pergi ke bioskop terdekat untuk menonton film Magic Hour ini.

Suasana di bioskop kurang menyenangkan karena yang nonton pada saat itu rata-rata anak-anak sekolahan (SMP, SMA) yang datang tak sendiri tapi sama pasangannya. Bayangin coba perasaan gue yang jomblo datang sendirian ke bioskop nonton film romantis. Hmmm.. nggak usah dijelaskan, you know what I mean

Masuk ke filmnya langsung. Di awal-awal filmya tampak sangat membosankan karena ceritanya tentang jodoh-jodohan. Jadi ada yang namanya Gweny (diperankan oleh Nadia Arina) dijodohin sama mamanya (diperankan oleh Merriam Bellina) dengan anak teman dekatnya yaitu Dimas (diperankan oleh Dimas Anggara). Nah, si Gweny ini nggak mau dijodohkan lalu akhirnya dia meminta tolong pada Raina (diperankan oleh Michelle Ziudith) yang adalah sahabat dekat Gweny. Untuk berpura-pura jadi dirinya dan menemui Dimas.

Nah, melalui pertemuan-pertemuan itu muncullah benih-benih cinta antara Dimas dengan Raina. Namun Raina memiliki sahabat dari kecil yang bernama Toby (diperankan oleh Rizky Nasar) yang ternyata juga suka padanya. Tapi dia memendamnya cukup lama. Yah, mungkin karena alasan lazim “dia nggak mau kehilangan Raina sebagai sahabat” upss..konflik percintaan remaja saat ini banget hahhaha..

Masuk pertengahan film mulai konflik cerita dimunculkan satu persatu yang membuat filmnya jadi seru. Gweny yang bertemu secara langsung dengan Dimas akhirnya jadi suka dan menerima perjodohan itu. Raina yang tak ingin membuat sahabatnya malu dan kecewa akhirnya dia melepaskan Dimas. Namun Dimas tak mau melepaskan Raina. Dan Toby pun tetap berusaha menjauhkan Dimas dari Toby. Terjadilah cinta segi empat yang sangat rumit.

Mendekat ke akhir ceritanya makin membuat penasaran. Raina buta dan ternyata Dimas punya sakit parah yang akhirnya dia meninggal. Tapi ada sosok lain yang selama ini menemani Raina sebagai seorang Dimas. Dan sosok itu adalah kembaran Dimas (diperankan oleh Dimas anggara juga). Yang sudah lama dieritakan oleh Dimas tentang Raina. Yah..sebagian besar seperti itulah ceritanya..

Ceritanya tidak cuma bergenre romantis tapi ada dibalut komedi juga di awal-awal. Kalau kalian penasaran dengan keseluruhan filmnya,nonton aja langsung.. hehe dijamin nggak bakal nyesel kok nontonnya :D

DEL


Sabtu, 19 Maret 2016

REVIEW FILM "DEADPOOL"


Apa sih yang ada dipikiran kalian ketika kita bicara tentang Superhero (pria)? Pastinya gahar, jantan, pendiam, dan sebagainya. Namun, bagaimana jika itu semua dibalik? Bagaimana jika superhero ini  kocak, gokil, dan agak feminim? Pastinya akan terkesan antimainstream ya guys. Itulah gambaran singkat dari superhero baru dari Marvel, yaitu Deadpool yang juga merupakan hasil garapan sutradara Tim Miller.

Wade Wilson, seorang tentara bayaran yang terkenal berdarah dingin namun juga kocak ini awalnya hidup baik – baik saja, sampai akhirnya dia divonis menderita kanker. Sebuah percobaan ilmiah ditawarkan kepada Wade agar dia bisa sembuh dan menjadi superhero, namun yang terjadi adalah dia ditinggalkan karena dianggap gagal dengan luka di sekujur tubuhnya.Dengan niat untuk balas dendam, Wade mencari orang yang harus bertanggungjawab atas tubuhnya itu. Kekuatan super buatan yang dimilikinya sangat membantu dalam misi balas dendam ini, disamping bantuan dari teman – temannya.
 
Dalam film ini, sangat banyak adegan kekerasan yang sangat tidak disarankan untuk ditonton oleh anak dibawah umur. Namun di satu sisi, Deadpool memiliki sifat kocak dan gokil yang sangat menghibur penonton  agar tidak bosan. Rilis pada pertengahan Februari yang identik dengan Hari Kesayangan juga sedikit banyak tercermin di film ini melalui kisah Wade Wilson dengan sang pacar. Bagaimanapun juga film Deadpool sangat direkomendasikan untuk kalian yang bosan dengan superhero yang itu – itu saja. So guys, untuk kalian yang sudah diatas 17 tahun,tunggu apa lagi, segera tonton film Deadpool ini di bioskop – bioskop kesayangan anda, ingat NO BAJAKAN ya guys :)

-Raditya Okto W-