Merry Christmas

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2017

Salatiga

Pemandangan Malam Salah Satu Sudut Kota Salatiga

KUPAS 2015

Produksi Film KUPAS 2015

Finger Kine Klub

Keluarga Finger Kine Klub UKSW Salatiga

Sabtu, 20 Juni 2015

Memutar Kembali Tak Selalu Merugi - Pesta Film Solo #5

Hari Sabtu, 13 Juni 2015, enam orang fungsionaris dan anggota Finger Kine Klub pergi ke Solo untuk menghadiri undangan kegiatan Pesta Film Solo #5 yang berlangsung di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah. Acara yang diselenggarakan oleh Kine Klub Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta (FISIP UNS) ini menayangkan 20 film yang terdiri dari 5 Film Utama, 6 Film yang dibuat oleh orang Solo, dan 9 film hasil karya Komunitas. Acara berlangsung 3 hari dari tanggal 13 sampai 15 Juni 2015.


Diskusi bersama sutradara film Pilkosis dan Film Adalah Hidupku
Foto: Div. Eksternal
Acara dimulai dengan Pemutaran Film Komunitas yang diawali dengan kata sambutan oleh ketua panitia. Dilanjutkan dengan pemutaran film "Pilkosis" yang disutradarai oleh Akhmad Nawawi. Film dokumenter ini menceritakan tentang pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS di SMKN 1 Kebumen. Selanjutnya, pemutaran film yang berjudul "Film Adalah Hidupku" yang disutradai oleh Narindro Aryo Hutomo yang menceritakan tentang kisah pribadi sang sutradara dengan adiknya yang berusaha membuat film dengan peralatan seadanya. Film ini mengundang gelak tawa akibat ulah dari aktor yang diperankan oleh sutradara itu sendiri.Film komunitas yang terakhir di sesi ini berjudul "Kremi". Teater Arena dibuat tertawa oleh film yang disutradarai Mahesa Desaga ini. Film yang menceritakan tentang seorang supir truk yang ingin melampiaskan hasrat seksualnya dengan sang istri, yang selalu terganggu oleh anaknya yang sedang terkena penyakit Kremi. Acara dilanjutkan dengan Diskusi film bersama sutradara film Pilkosis dan Film Adalah Hidupku.

Acara dilanjutkan dengan Pemutaran Film Komunitas yang kedua. Film yang diputar pertama adalah film "Simbiosis" yang disutradarai oleh Wiranata Tanjaya yang menceritakan tentang petualangan kakak beradik yang menelusuri pulau untuk mencari harta karun. Selanjutnya, film "Kampung Tudung" yang disutradarai oleh Yuni Etifah yang menceritakan tentang kampung Grujugan yang merupakan kampung halaman dari sang sutradara, merupakan kampung pengrajin tudung yang mata pencaharian utama warga kampung Grujugan adalah sebagai pengrajin tudung. Lalu, film terakhir di sesi kedua ini berjudul "Tak Kunjung Berangkat" yang disutradarai oleh Wimar Herdanto yang menceritakan 2 orang yang ingin pergi ke planet mars dan venus karena sudah tidak nyaman dengan kehidupan manusia di bumi. Acara pemutaran film komunitas sesi kedua ini diakhiri dengan diskusi bersama sutradara dari film kampung tudung dan tak kunjung berangkat yang saling berbagi tentang film yang mereka buat.


Diskusi Film bersama para sutradara film utama dan
budayawan.
Foto: Div. Eksternal
Sampai pada pemutara utama hari pertama, terdapat 3 film yang bercerita tentang budaya. Film yang pertama diputar adalah film "Ruwatan" yang disutradarai oleh pak Uud Iswahyudi. Dalam film dokumenter tersebut, diceritakan tentang prosesi ruwatan yang dilakukan oleh keluarga Sri Maryati. Ruwatan itu sendiri merupakan sebuah tradisi jawa sebagai rasa syukur dan permohonan orang tua agar anak-anaknya diberi kelancaran dan kemudahan dalam menjalani kehidupannya. Lalu, film kedua dalam pemutaran utama berjudul "Seserahan" yang disutradarai oleh Jason Iskandar, yang menceritakan tentang acara pernikahan budaya jawa, dimana sang mempelai wanita menunggu kedatangan sang mempelai pria. Lalu film terakhir yang menurut kami cukup menarik adalah film "Mak Cepluk" yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo. Film ini menceritakan sekelompok anak yang terdiri dari 6 anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang bermain pletokan, salah satu permainan JaDul. Budaya bermain pletokan dipadukan dengan munculnya iPad sebagai alat komunikasi dua orang anak dalam film tersebut membuat film ini terasa unik. perbincangan mereka soal wanita yang selalu kalah juga menambah seru film yang berdurasi 12 menit ini.


Temu Komunitas
Foto: www.instagram.com/wolfycrew
Setelah pemutaran utama, acara dilanjutkan dengan Diskusi yang bertema "Dimanakah Budaya?" bersama ketiga sutradara film utama dan seorang budayawan. Diskusi berjalan sangat seru melihat budaya semakin hari semakin pudar dan digantikan oleh budaya yang baru. Setelah diskusi berakhir, acara dilanjutkan dengan Temu Komunitas, dimana komunitas-komunitas film yang berasal dari Bandung - Surabaya berkumpul menjadi satu untuk membahas tentang Sejarah komunitas, fokus komunitas, dan masalah yang dihadapi. Tidak hanya saling berbagi, tapi seluruh komunitas juga saling memberikan solusi untuk masalah yang dihadapi oleh komunitas lain. Temu Komunitas ini mendekatkan komunitas satu dengan komunitas yang lainnya dengan perbincangan hangat dan menggelitik. Setelah acara selesai, seluruh komunitas beristirahat di sebuah kontrakan yang disediakan oleh panitia Pesta Film Solo #5.


Hari kedua tiba, memasuki pemutaran film komunitas yang ketiga, kembali diputar film "kremi", "Pilkosis", dan "Film Adalah Hidupku". Lalu, berselang beberapa menit saja, pemutaran film komunitas sesi ke empat berlangsung. Film yang diputar pertama berjudul "Ndolalak" yang disutradarai oleh Dian Maftukhatim. Film tersebut menceritakan tentang kesenian khas Purworedjo yang bernama Ndolalak. Dilanjutkan dengan pemutaran film "Di Sekitar Televisi" yang disutradarai oleh Theo Maulana, menceritakan tentang keseharian nenek dan cucu nya disebuah rumah dengan Televisi sebagai hiburannya. Film ini terinspirasi dari nenek sang sutradara yang menurutnya kehidupannya sangat datar seperti di filmnya. Dan film terakhir di pemutaran film sesi keempat berjudul "Gundah Gundala" yang disutradarai oleh Wimar Herdanto. Film tersebut menceritakan Gundala seorang Super Hero asli Indonesia yang sedang gundah dan bercerita kepada salah seorang pengunjung warung kopi yang ternyata adalah Gatot Kaca. Film tersebut ingin mengangkat eksistensi Super Hero lokal ditengah maraknya uper Hero buatan Amerika.


Dipemutaran Film Utama hari kedua, diputar film bioskop berjudul "Unlimited Love" yang disutradarai oleh Haryanto Corakh. Film yang menceritakan tentang kekuatan cinta dari sebuah keluarga dan persahabatan ini merupakan film yang terakhir kami tonton di acara Pesta Film Solo #5. Seusai pemutaran film Unlimited Love, kami semua harus kembali ke Salatiga karena masih ada perkuliahan di hari senin.


Dari dua hari mengikuti Pesta Film Solo #5. Kami mendapatkan pengalaman berharga bisa menyaksikan film-film karya komunitas dan berkumpul bersama komunitas-komunitas film yang berasal dari Bandung, Semarang, Yogyakarta, sampai Surabaya. Kami juga berterimakasih kepada Kine Klub FISIP UNS yang telah mengundang kami untuk mengikuti acara Pesta Film Solo #5. Pengalaman tersebut menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya lebih baik lagi dan mengapresiasi karya film komunitas di Indonesia.






By:
Anisah Kusuma Dewi,
Elfara Wijaya,
Joko Supriyanto,
George Ardianto Simson Nubatonis,
Aji Kurniawan,
Artanti Retno Pangastuti.

Edited by: AFE - Divisi Eksternal