Merry Christmas

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2017

Salatiga

Pemandangan Malam Salah Satu Sudut Kota Salatiga

KUPAS 2015

Produksi Film KUPAS 2015

Finger Kine Klub

Keluarga Finger Kine Klub UKSW Salatiga

Sabtu, 19 April 2014

Earth And "Gravity"

Pas dulu jaman kita sekolah, bahkan kuliah, atau kerja, kita mungkin hanya bisa melihat bumi dari bentuknya saja. Alat peraga seperti globe juga membantu kita untuk tahu bumi itu seperti apa. Namun, apa tidak terpikirkan kalau bumi yang kita diami saat ini memiliki 'nilai jual' yang tinggi untuk kehidupan anak cucu kita kita kedepannya. Hal tersebut bisa saja terjadi karena kita hanya sibuk untuk mengurus kehidupan kita masing-masing sampai melupakan kalau bumi ini juga perlu untuk kita urus.

Coba dibayangkan kalau bumi ini ternyata merupakan aset yang bisa menyusut atau bisa berdepresiasi. Secara otomatis, anak cucu kita nantinya akan kesulitan untuk tinggal di bumi. Lalu tinggal dimana? Planet Mars diduga kuat sebagai pengganti bumi, tapi semua itu masih simpang siur dan belum ada kejelasan yang tepat. Oleh karenanya, penting untuk kita menyadari bahwa "hadiah" dari Yang Mahakuasa ini, patut untuk diurus dan dijaga.

Bicara soal bumi (earth), lembaga internasional pada waktu dulu menetapkan bahwa setiap tanggal 22 April sebagai Hari Bumi (Earth Day) yang diakui secara global. Penetapan tanggal ini tidak sembarangan ditetapkan, ada alur yang membawa kita untuk flashback ke belakang melihat history nya. Sebagai pewaris dari bumi ini, kita umat manusia haruslah mengerti kenapa ada Earth Day dan siapa yang mempeloporinya?

Hari Bumi ini pertama kalinya dirayakan pada tanggal 22 April 1970 di Amerika Serikat. Adalah seorang senator sekaligus pengajar lingkungan hidup bernama Gaylord Nelson yang mencetuskan hari penting internasional ini. Awalnya, dia menggagas tentang perlunya isu-isu lingkungan hidup untuk dipelajari dan menjadi kurikulum di perguruan tinggi. Dan ternyata, hal tersebut mendapatkan dukungan luas dari banyak pihak.

Puncaknya, pada tanggal 22 April 1970 tersebut, sejarah mencatat bahwa jutaan orang turun ke jalan untuk berdemonstrasi mengecam para perusak bumi. Sejarah juga mencatat, hari bumi merupakan kampanye untuk mengajak orang peduli dengan lingkungan hidup dan menyadarkan serta mengapresiasi tentang pentingnya planet bumi terhadap kelangsungan hidup manusia.


Setelah melihat tentang sejarah hari bumi, sekarang mari kita lihat 'implementasi' tentang hari tersebut yang dibuat oleh para pegiat film di muka bumi. Sudah banyak film yang menceritakan tentang bumi, contohnya: The Core, After Earth, Elysium, The Day After Tomorrow, dll. Ini merupakan hasil karya mereka di dunia perfilman dan banyak mengundang antusias dari para penonton. Namun sekarang, mari kita coba review sedikit tentang film "Gravity" yang dirilis tahun 2013 kemarin.

Film Gravity yang disutradari oleh Alfonso Cuaron dan diperankan oleh Sandra Bullock dan George Clooney sebagai astronot yang selamat dari bencana wahana antariksa. Alurnya menceritakan tentang 2 orang astonot, Matt Kowalsky dan Explorer yang melakukan misi perbaikan satelit yang ditemani oleh seorang insinyur bernama Dr. Ryan Stone. Bagi Ryan, ini hal pertama untuknya menjelajahi antariksa.


Berjalannya waktu di luar angkasa, Dr.Ryan dan kawannya tiba-tiba saja mendapat kabar dari pusat bahwa Rusia telah menembakkan rudal yang mengakibatkan rusaknya satelit-satelit. Maka puing-puing satelit beterbangan bebas dan menghantam Dr.Ryan dan timnya. Salah satu astonot menjadi korban.

Dr.Ryan dan Matt berusaha menyelamatkan diri dengan cara menuju ke satelit Soyuz dengan bersisakan oksigen yang terbatas. Namun dalam perjalananmenuju Soyuz, Matt harus menjadi korban.
Dengan penuh kepanikan dan rasa takut, Dr.Ryan berusaha untuk kembali lagi ke bumi walau dia tidak mengerti bagaimana cara mengendarai Soyuz.

Film yang memiliki alur 'yang katanya' membosankan ini ternyata menjadi juara dalam Piala Oscar 2014 dengan kategori The Best Director. Dalam film ini juga bisa didapat pelajaran bagaimana bertahan hidup dengan suatu keterbatasan dab pengharapan untuk bertahan hidup. Bukan hanya itu, disini kita dapat belajar tentang segala sesuatu harus sesuai dengan instruktur, jangan seenaknya sendiri.

Selamat Hari Bumi 22 April, Save Our Earth!


Review Film "Gravity" by: Artanti 'Acha' Retno

(gee_difk)/(source: google)

Jumat, 18 April 2014

Cinta Brontosaurus-nya "Pindah" ke Manusia Setengah Salmon

Raditya Dika, seorang stand-up comedian yang merangkap menjadi seorang penulis buku, produser, sutradara, bahkan juga seorang aktor. Pria yang lahir 28 Desember 1984 ini memiliki talenta yang luar biasa terkhususnya di bidang entertainment.


Dalam tulisan ini, kita tidak akan membahas tentang "history" and "profile" nya seorang Raditya Dika, tapi lebih ke karyanya dalam bentuk film. Pada tahun 2013 kemarin, Raditya Dika mendapatkan kredit tambahan dari bukunya yang telah di-film-kan dan laris di pasaran. Lebih khusunya, yang akan dibahas adalah film dengan judul "Cinta Brontosaurus" dan film "Manusia Setengah Salmon" hasil tulisan Raditya Dika yang di-film-kan. Bukan hanya bukunya saja yang menjadi sebuah film, Raditya Dika sendiri juga yang menjadi pemeran utama dalam kedua film tersebut.

Film "Cinta Brontosaurus" yang dirilis pada 8 Mei 2013 ini mendapatkan antusias dari penikmat film terkhusunya mereka yang senang dengan genre drama komedi. Film yang diperankan oleh Raditya Dika (berperan sebagai Dika) sendiri menceritakan tentang seorang penulis yang berpegang teguh pada prinsip "cinta yang ada kadaluarsanya" dan ini semakin membuat dirinya minder terhadap cinta itu meskipun keduanya orang tuanya sudah menginginkan cucu atau bisa diperhalus kalau Dika harus mempunyai pacar.

Kegiatannya yang hanya menulis dan menulis membuat Dika galau dan ingin mendapatkan seorang wanita yang bisa jadi pasangannya dan sekaligus juga untuk membahagiakan orang tuanya. Sampai akhirnya, Dika bertemu dengan seorang wanita bernama Jessica (Eriska Reinisa) di restoran dan perbincangan mereka berlanjut sampai ke masa PDKT dan pacaran.
Singkat cerita, Dika yang masih memegang kepercayaan "cinta kadaluarsa" ini pun mendapatkan respon yang tidak baik dari Jessica.


Sampai pada akhirnya, hubungan Dika dan Jessica yang tergolong absurd dan sedikit menggelitik harus diakhiri. Kejadian tersebut membuat Dika larut dalam "kekelaman" sehingga tulisannya sempat terhenti. Padahal tulisan itu sudah dalam pengawasan seorang produser untuk mengfilmkan film tersebut dan ingin dijadikan genre horor.
Hal tersebut membuat Dika menolak meskipun temannya, Kosasih berharap Dika mau menerima karena fee yang cukup besar ditawarkan. Buku yang ia tulis merupakan kisah serta perjalanannya untuk memahami cinta yang didapatnya dari Jessica, keluarga, dan temannya.

Sementara itu, film "Manusia Setengah Salmon" yang dirilis pada 5 September 2013 dan disutradarai oleh Herdanius Larobu ini mendapatkan respon baik dari khalayak banyak. Film ini diperankan juga oleh Raditya Dika dengan Kimberly Ryder (sebagai Patricia). Alur film memang ada sambungannya dengan film "Cinta Brontosaurus" namun lebih dibedakan ke konsepnya sendiri tentang perpindahan.

Dalam bukunya yang di-film-kan ini, perpindahan yang dimaksudkan adalah perpidahan secara kompleks dalam diri Dika sendiri. Film tersebut berfokus pada keluarga Dika yang dimana menginkan pindah rumah karena ada beberapa hal dari orang tuanya. Kemudian fokus ke cinta, yang dimana Dika harus bisa berpindah hati dari pacarnya yang lama si Jessica ke Patricia. Dan yang terakhir adalah fokus profesinya sebagai penulis, dimana Dika dihantui untuk membuat sebuah buku yang bisa best seller oleh editor sekaligus temannya sendiri.

Dengan konsep "perpindahan" dan dengan fokus yang berbeda-beda juga, Raditya Dika dan crew nya harus benar-benar putar otak untuk melihat continuity dalam film nya tersebut. Meskipun banyak kendala dan terlihat rumit, film ini berhasil dibuat dan bisa membuat membuat penonton tertawa bahkan sesekali sedih melihat adegan-adegan yang ada.


Di Indonesia, industri perfilman sudah sangat berkembang. Bukan hanya bisa membuat film dari ide cerita, tapi juga bisa dengan mengangkat dari sebuah buku/novel serta diperankan sendiri oleh penulisnya.
Maju terus industri perfilman Indonesia!

(gee_difk)/(source: google)

Review Film "18++ Forever Love"

Biasanya, film yang bergenre cinta atau romantis sudah terlalu mainstream, tapi film satu ini mempunyai beberapa makna didalamnya tentang cinta. Tapi cinta yang seperti apa? Ikuti yuk reviewnya.


Film ini bercerita tentang kehidupan anak remaja yang akan menginjak usia 18 tahun. Di ulang tahunnya itu, Kara (Adipati Dolken) mendapat kejutan ulang tahun dari kakeknya (Roy Marten). Bukan materi, atau kekayaan yang ia dapatkan, ia justru mendapat pelajaran kemandirian yang berharga bagi dirinya, Ketika ia mulai mengenal kehidupan yang sebenarnya diusianyayang ke 18 tahun.

Disaat ulang tahun itu, kakenyamenyita semua fasilitas yang selama ini ia dapatkan. Sejak fasilitas yang ia peroleh dari kakeknya satu persatu diambil dan diblokir, ia belajar bagaimana harus berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika itu, terjadi sebuah musibah yang akhirnya mempertemukan Kara dan Mila (Kimberly Ryder) sang gadis penjual kue yang menderita penyakit komplikasi.

Musibah yang pada saat itu menimpa Kara membuat hati Mila tergerak untuk membantu Kara dan akhirnya iamembawa Kara tinggal dirumahnya sampai keadaanya membaik. Disana Kara mengenal kemandirian dan perjuangan untuk mendapatkan cinta dan kebahagiaan bersama keluarga Mila. Kara akhirnya menemukan kehidupannya setelah ia bekerja keras dan menemukan cintanya juga, yaitu Mila.

Ketika ia sudah mulai bisa mandiri dan sudah berjuang menghidupi kehidupannya, kakeknya datang dan memberikan semua fasilitas yang dulu pernah disita karena kakeknya melihat bahwa Kara sudah dewasa dan sudah menunjukkan kalau dia bisa mencari uang sendiri tanpa harus meminta pada kakeknya.

Setelah ia mendapatkan semuanya lagi dari kakeknya, Kara memutuskan menggunakan uangnya dengan berniat membawa Mila ke amerika untuk berobat., namun sebuah kenyataan pahit harus diterima Kara, ketika hari hari ulang tahun Mila, sebelum keberangkatan mereka ke Amerika, Mila meninggal dunia karena penyakitnya yang sudah sangat parah.. Namun setelah kepergian Mila, Kara terus menjalani kehidupannya bersama teman-teman seperjuangannya tanpa ada Mila disisinya.


Pesan tersirat dalam film ini adalah cinta akan selalu abadi meskipun tak bersama. Mungkin sulit rasanya jika kita ditinggalkan seseorang yang kita cintai, meskipun demikian, kita harus merelakannya untuk pergi dan tetaplah berusaha untuk mencapai apa yang dicita-citakan.
Pesan kedua yang disampaikan adalah uang juga bukan segalanya. Uang tak mampu membeli kebahagian orang lain. Tapi dengan apa yang kamu miliki, buatlah orang lain mendapatkan kebahagiaan.
Film ini sangat bagus dan sangat menyentuh serta banyak hal yang bisa diteladani dalam film ini, salah satunya perjuangan.

Ditulis oleh: Junita C Nenabu

(gee_difk)/(foto:google)

Selasa, 15 April 2014

Part 2: Mini Workshop dan Awarding 2014

Masih dalam rangkaian kegiatan Mini Workshop 2014, pada hari jumat (11/4) lalu, diadakan sebuah acara ''Awarding" untuk mengapresiasikan hasil karya dari peserta Mini Workshop 2014 yang telah dilangsungkan pada awal marret 2014 lalu.


Acara yang dilangsungkan di Kedai Kopi Merah Putih di Kota Salatiga ini mendapatkan antusias dari para peserta dan penonton yang datang pada malam itu. Sebanyak 5 karya film yang dibuat oleh peserta Mini Workshop 2014 ini, dikomentari dan diberi masukan oleh juri sekaligus pembicara dari Mini Workshop 2014 yaitu Mas Markus Jupri, Mas Gentong, dan Pak Nindito. Sungguh luar biasa, karena acara Awarding ini bukan hanya untuk mengapresiasi tapi juga untuk menambah ilmu lewat beberapa komentar dan masukan dari tim juri.

5 film dengan tema "Bingkai Kartini Masa Kini (prespektif Salatiga)" yang ditayangkan tersebut juga membuat tim juri bangga akan kreatifitas dari para peserta dan sulit juga bagi juri untuk menentukan kategori "Film Terbaik" favorit juri. Adapun 5 film tersebut dibuat oleh EDFM FBS dengan judul "Sayap Sayap tak Nampak", Cofila Fiskom dengan judul "Kartini Masa Gini?", Commedia dengan judul film "Dua Sisi", None Production dengan judul "Haruskah?", dan Ecomorphosis Production dengan judul "Pilihanku".



Acara pun berlanjut dengan santap malam yang disediakan panitia sembari peserta menikmati alunan musik dan menonton 2 film tamu dari Clepper AKRB Jogja dengan judul "Pulang" dan "Rotasi". Di sisi lain, tim juri juga sedang berdiskusi secara internal untuk menentukan siapa film terbaik favorit juri.

Selesainya santap malam, tim juri pun kembali dan siap mengumumkan siapa film terbaik favorit juri dari antara 5 film yang ditayangkan tadi. Mas Jupri selaku perwakilan dari tim juri sekaligus pembicara di Mini Workshop 2014 yang akan mengumumkan langsung siapa peraih Film Terbaik pilihan juri. Dan yang terpilih adalah film dengan judul "Dua Sisi" dari Commedia. Selamat ya kepada Commedia :)


Ternyata bukan hanya itu saja, panitia telah memberikan fasilitas agar penonton bisa melihat hasil karya para peserta lewat bebrapa layar yang telah disediakan dan memberikan kertas vote untuk memilih film terfavorit dari penonton yang ada di Kedai Kopi Merah Putih. Dan dari vote tersebut, EDFM dengan judul film "Sayap Sayap Tak Nampak" keluar sebagai film favorit penonton.


Ini merupakan puncak acara dari kegiatan Mini Workshop dan Awarding 2014 yang dilaksanakan oleh Finger Kine Klub Salatiga dan ditutup dengan alunan musik akustik dan foto bersama dengan semua peserta, dengan ketiga pembicara sekaligus tim juri dan panitia.

Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada EDFM, Cofila Fiskom, Commedia, None Production, Ecomorphosis Production atas karya yang sudah kalian buat dan telah disertakan ke acara ini. Dan juga terimakasih kepada pihak sponsor dan SMF FEB UKSW yang telah mendukung acara ini. Tuhan memberkati :)

(gee_difk)/(foto: sie.pubdokjin)

Kamis, 03 April 2014

Pesakom 2014 dan Gebyar Teater Tilar 2014

Sabtu (29/3), merupakan akhir bulan yang sangat menyenangkan bagi mahasiswa FEB UKSW khususnya. Hal tersebut dikarenakan adanya sebuah event yang banyak mengundang perhatian dari tiap angkatan mahasiswa FEB UKSW khususnya. Event tersebut adalah Pesta Rakyat Ekonomi (Pesakom) 2014 yang bertemakan "Diversity in Harmony".

Event yang berlangsung diakhir bulan maret merupakan salah satu kegiatan rutin yang diselenggaran oleh SMF FEB UKSW bidang 3. Event tersebut melibatkan semua angkatan yang terdaftar sebagai mahasiswa FEB UKSW. Dalam acara yang diadakan di lapangan basket UKSW ini menampilkan perform tiap angkatan dan juga mengundang beberapa bintang tamu yang luar biasa.


Meskipun cuaca kurang sedikit mendukung, event yang dimulai dari jam 17.00 ini tetap berlangsung. Tak kalah penting, dalam Pesakom tahun juga digabung dengan penutupan event besar lainnya yaitu Kambing Cup 2014 yang merupakan pekan olahraga FEB UKSW. Pengumuman pemenang di semua cabang olahraga dan pemenang umunnya dilangsungkan bersamaan dengan Pesakom yang mengadakan pemilihan King adn Queen.
Sungguh luar biasa perhelatan ini, bahkan di pentupan Pesakom ini, panitia mengundang DJ yang membuat para penonton ikut berdisco ditengah guyuran hujan.

Tak kalah juga dengan Pesakom 2014, pada Selasa (1/4), Kelompok Bakat Minat (KBM) Teater Tilar mengadakan sebuah acara besar bernama Gebyar Teater Tilar 2014 dengan tema "Savitri & Satyavan". Acara ini juga sangat mebuaat penonton hanyut dalam nuansa cinta dengan seni gerak yang diperankan oleh semua pengisi acara.


Acara yang diselenggarakan di Balairung Utama UKSW ini mendapatkan tepuk tangan penonton yang luar biasa karena pementasan tersebut berhasil membuat suasana malam menjadi tegang dan rasa penasaran atas lakon yang diperankan. Sungguh awal bulan yang menyenangkan buat para mahasiswa yang ikut terlibat dalam acara tersebut.

Pada kedua kegiatan ini juga, kami Finger Kine Klub ikut dalam pendokumentasian kegiatan tersebut.
Terimakasih :)

(gee_difk)