Finger Kine Klub

Finger Kine Klub

Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Universitas Kristen Satya Wacana

Pancasila

INDONESIA

Jumat, 28 Maret 2014

Nonton Bareng 2014 "Cinta Dari Wamena"

Pada hari senin (24/2) kemaren, Finger Kine Klub mengadakan lagi sebuah kegiatan yang mengundang animo penonton yang luar biasa. Kegiatan tersebut adalah Nonton Bareng "Cinta Dari Wamena" yang juga masuk kedalam salah satu program kerja dari Finger Kine Klub sendiri.


Kegiatan yang berlangsung di Auditorium FTI UKSW sangat menarik antusias dari para penonton yang telah mendaftrar dan mengantri di meja pendaftaran. Panitia sendiri menyediakan snack dan minuman yang bisa dinikmati peserta selama mengikuti kegiatan tersebut.



 Waktunya pun tiba, setelah menunggu +/- 15 menit, kegiatan ini pun dibuka dengan doa, pembacaan tata tertib dan kata sambutan dari Kaleb Hardian Nugroho (koord.satgas No-Bar) diikuti Hardiono Arron (ketua SMF FEB UKSW). Setelah pembukaan itu, peserta "diajak" untuk menyaksikan behind the scene film "Cinta Dari Wamena" agar dari kegiatan ini, peserta mendapatkan sebuah hiburan dan juga edukasi didalamnya.

Pemutaran film "Cinta Dari Wamena" ini pun dimulai, dan masih tampak para penonton yang datang dan memenuhi auditorium tersebut. Penonton yang menyaksikan film tersebut, terbawa dalam suasana penuh tawa dan juga sesekali termenung sedih melihat film yang diproduksi di Wamena, Papua. Film yang berdurasi +/- 1,5 jam ini juga banyak mendapatkan respon baik dari semua penonton yang mengikutinya.


Film pun selesai, penonton tidak langsung diperbolehkan pulang. Ada satu sesi dimana penonton dapat berinteraksi dengan sang empunya film ini dalam sesi Meet and Greet. Panitia bukan hanya mendatangkan filmnya saja, tapi juga membawa Mbak Lasja F Susatyo selaku director ddalam film ini dan Mbak Sinar Ayu Massie selaku scriptwriter nya.

Kesempatan yang jarang terjadi ini, mengundang para penonton untuk menggali lebih dalam lagi tentang apa yang melatarbelakangi pembuatan film ini. Sesi ini pun dimulai dan banyak penonton yang ingin bertanya tentang film tersebut. Bukan hanya itu, director dan scriptwriter film ini juga banyak menceritakan tentang pengalamannya selama produksi.




Akhirnya, sesi Meet and Greet ini pun selesai. Sebelum meninggalkan tempat, panitia mengajak seluruh perserta untuk tepuk tangan sambil memberikan plakat tanda terimakasih kepada kedua pembicara sekaligus crew dari film tersebut. Selesai itu, penonton dan panitia mendapatkan kesempatan untuk berfoto bersama dengan Mbak Lasja dan Mbak Sinar.

Demikianlah laporan dari salah satu kegiatan Finger Kine Klub ini, terimakasih kepada kalian panitia dan penonton yang sangat luar biasa. God bless us :)

(gee_difk)_(foto: afe/tyo_pubdokjin)

Senin, 17 Maret 2014

Review Film "After Earth" 2013

Kalian tentu tidak asing lagi dengan duet maut anak kecil dan Jackie Chan dalam film fenomenal "Karate Kid" yang ngga bosen jadi trending topic setiap filmnya diputar di bioskop kesayangan anda.

(source:google)

Yap, Jaden Smith kali ini dipercaya oleh tangan dingin sutradara M. Night Shyamalan untuk berkolaborasi dengan ayahnya Will Smith dalam debut berjudul After Earth. Menurut si empunya, dengan memasangkan sejoli ayah dan anak ini tak perlu susah membangun chemistry lagi.karena keduanya pernah membintangi trailer yang sama. Film yang dirilis pertengahan 2013 inimampu menyedot animo masyarakat karena sekilas dari kemasan luarnya film ini terlihat mewah dengan setting alam yang mempesona dan sajian full hi-tech. Bukan rahasia umum lagi, berapa besar budget yang dikeluarkan untuk penggarapan film ini. Meskipun kita tahu... the big project shouldn't spend a lot of money. *catet!

Seperti ide yang ingin diungkapkan Shyamalan, film ini menceritakan kehidupan manusia 1000 tahun kedepan yang tinggal di planet bernama "Nova Prime" karena bumi sudah tidak aman ditinggali. Tahun berlalu, ancaman baru datang dari alien s'krell yang mengirim ursa untuk menguasai Nova Prime. Ursa memperdaya manusia dengan mendeteksi "signal takut" mereka.

Konflik mulai terasa saat misi perjalan ke luar angkasa, pesawat yang ditumpangi sejoli ayah dan anak ini tak kuasa menembus badai asteroid dan terdampar di planet bumi.

Seluruh awak kabin tewas hanya menyisakan chyper yang menderita patah tulang kaki dan Kitai Raige. Situasi ini seakan memutar balikkan peran Kitai yang harus berjuang melawan Ursa sendirian dengan menaklukkan rasa takut dan bumi yang minim oksigen.

At least, pasti banyak yang menyangka film ini penuh dengan adegan yang memicu adrenalin, namun bersiapalah anda kecewa karena film condong pada drama dua tokoh Smith. Sebuah kisah sempit tanpa nyawa yang membawa penonton larut dalam konflik sederhana yang terlalu diulur. So, sediakan 2 gelas kopi untuk mengusir rassa ngantuk di pertengahan film ini.

Banyak hal terkesan tanggung dalam imajiner kita jika harus membayangkan 1000 tahun dunia setelah kita. Saya akan lebi tertarik jika Will Smith berniat untuk meluncurkan buku ketimbang filmnya karena persepsi kita akan lebih tinggi. Ada beberapa scene menunjukkan gambar dimana gunung yang on the way meletus namun disekitarnya masih terdapat tumbuhan hijau, burung, dan binatang lain. Nampaknya, Shyamalan perlu kita ajak observasi ke Gunung Sinabung dan Gunung Kelud mungkin supaya dia tahubagaimana keadaan alam disana.
Oke kita maklumkan saja karena India /Amerika bukan negara yang berada di cincin bencana.

(source:google)

Best scene?
Good job buat adegan menit 39 yang menjadi sebuah gambaran yang total dari akting Kitai Raige. Trik yang disajikan untuk menyulap perangai Kitai yang menua karena kehabisan oksigen, memicu decak kagum menjadi skala kecil yang memikat dibantu dengan chemistry yang bagus anatara ayah dan anak ini.

Well, meskipun keseluruhan setting dinilai nanggung, namun beberapa scene cukup memuaskan dahaga penonton akan film bertajuk action adventure ini.

Farewell buat om Shyamalan, nampaknya dewi fortuna belum berpihak kepada sutradara dari India ini. Ekspektasi karya yangb tinggi masih membayangimu bung. Konsep yang matangdan budget yang tinggi nyatanya tak mampu membantu eksekusi yang baik.

Oke lupakan tentang itu. Kita akan tetap menanti karya film dari Shymalan selanjutnya. Semoga akan hadir lagi karya film spektakuler seperti The Sixth Sense yang mampu mengobati kekecewaan penonton akan film ini.

Ditulis oleh: Maya Ambarsari

(gee_difk)

Jumat, 07 Maret 2014

Part 1: Mini Workshop dan Awarding 2014

Kegiatan Mini Workshop 2014 yang bertemakan "The Unlimited Creativity from the Limited Technology" telah selesai diselenggarakan pada Rabu, 5 Maret 2014 kemarin. Kegiatan yang diikuti oleh 50 peserta ini, mendapatkan respon positif dari para peserta yang terdiri dari komunitas-komunitas film di UKSW dan Salatiga, Sekolah, dan Mahasiswa FEB UKSW.

(foto:sie.pubdokjin)
Acara yang dimulai dari jam 09.00 ini dibuka dengan sambutan dari Ketua Panitia, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis, dan juga Koordinator Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Setelah itu, Alvin Ferdian selaku MC segera mempersilahkan Pak Nindito Adi selaku moderator dan 2 pembicara yaitu Mas Jupri dan Mas Genthong untuk memulai sesi pra produksi. Sebelum masuk sesi ini, pembicara memberikan referensi kepada peserta dengan penayangan film "Cerita Dibalik Pintu" garapan kedua pembicara tersebut.
 (foto:sie.pubdokjin)
Dari referensi film tersebut, pembicara kemudian menjelaskan mengenai tahapan-tahapan dalam pra produksi, dimulai dari penjelasan ide cerita, pembuatan skenario, casting, pemilihan jobdesc, penjelasan beberapa dokumen penting dalam membuat film, dll. Setelah selesai dengan pemberian materi diatas, pembicara kemudian memilih beberapa volunter dari peserta untuk ikut dalam simulasi film di ruangan tersebut. Antusias dari peserta terlihat dan banyak dari mereka untuk mau terjun langsung dari simulasi tersebut. *break*
 
Selesai istirahat, sesi kedua mengenai produksi pun dimulai, para peserta menjalankan simulasi sesuai jobdesc yang mereka pilih. Simulasi itu juga dibimbing langsung oleh para pembicara sehingga peserta lainnya juga dapat merasakan "feel" pada saat produksi film itu seperti apa.
Dengan setting tempat yang apa adanya dan alat yang sederhana juga, para volunter dari peserta itu dapat melaksanakan jobdescnya dengan baik.

 (foto:sie.pubdokjin)
Setelah film itu selesai di produksi, masuklah pembicara untuk menerangkan sesi ketiga yaitu pasca produksi. Pembicara juga membimbing sang editor yang dipilih dari peserta untuk berkreasi dari apa yang telah disimulasikan tadi lewat software editing yang ada.
Sementara proses pengeditan, MC dan moderator masuk untuk penjelasan tentang awarding dan kewajiban para peserta untuk ikut dalam pembuatan film pendek. Hal tersebut diadakan supaya dari workshop ini, ada output dari peserta. Waktu satu bulan yang mereka punya untuk membuat film pendek secara berkelompok ini akan diapresiasikan di Awarding Night pada 11 April 2014 mendatang.
Setelah penjelasan mengenai Awarding Night tersebut, pembicara kemudian masuk kembali untuk memperlihatkan hasil editing dari simulasi tadi dan memberikan masukan serta materi tentang proses editing itu sendiri.

Mini Workshop 2014 pun selesai, MC menutup kegiatan ini dengan pemberian plakat dari ketua panitia kepada pembicara, dilanjutkan doa dan foto bersama.
Para peserta pun segera meninggalkan ruangan dan bersiap untuk pembuatan film pendek mereka.

Demikian laporan dari kegiatan Mini Workshop 2014 tersebut, Dan jangan lupa nantikan karya film mereka di Awarding Night pada April 2014 mendatang. Terimakasih.

(gee_difk/foto: iss,yosua,acha,ghery)