Merry Christmas

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2017

Salatiga

Pemandangan Malam Salah Satu Sudut Kota Salatiga

KUPAS 2015

Produksi Film KUPAS 2015

Finger Kine Klub

Keluarga Finger Kine Klub UKSW Salatiga

Selasa, 16 Desember 2014

Festival Film Finger



Sabtu, 06 Desember 2014 Finger Kine Klub (FKK) sebagai salah satu komunitas film indie pertama di Salatiga mengadakan acara Festival Film Finger (FFF). Acara nonton bareng yang bertepatan dengan hari jadi FKK yang ke 13 tahun sebagai sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bibawah naungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (FEB UKSW) ini mengusung tema kekeluargaan. Hal ini terlihat dari tamu undangan seperti para senior FKK periode lalu, Koh Aldo selaku Koor Bidang Kemahasiswaan (KorBidKem) FEB UKSW, beberapa perwakilan dari fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Fakultas (LKF) FEB UKSW, serta para peserta Kumpulan Para Sineas (KUPAS) 2014.







Berlangsung pada pukul 17.00 WIB di WM. Ibe, Jl. Imam bonjol no.94. FFF merupakan acara yang pertama kali diadakan FKK untuk memperingati hari ulang tahun FKK sekaligus memperkenalkan film-film karya FKK kepada pihak eksternal FKK terkhusus LKF FEB UKSW.

Dalam acara ini diputar sedikitnya ada 5 film karya FKK, salah satunya adalah film “Kopi Setengah Gelas” dengan durasi 38 menit. Film yang diproduksi pada tahun 2005 ini merupakan film pertama yang diproduksi oleh FKK. Kemudian ada film "Terancam", dan film terbaru FKK dengan judul “11.05” produksi tahun 2014 yang juga sempat diikut sertakan dalam acara Festival Film Indonesia (FFI). Film bertema horor ini disutradarai oleh Kaleb Hardian Nugroho salah satu fungsionaris FKK periode 2014-2015.




Meskipun dalam pelaksanaannya terjadi beberapa kesalahan teknis namun hal ini tidak terlalu mengganggu jalannya acara yang berakhir dengan pemotongan tumpeng pada pukul 20.00 WIB. Tamu undangan memberikan apresiasi yang luar biasa pada kegiatan yang diadakan oleh FKK untuk memperkuat tali persaudaraan antar fungsionaris LKF FEB UKSW.


FKK bersama LKF FEB UKSW


Kamis, 11 Desember 2014

Review Film "Ouija"

Ouija (2014)



Siapa sih yang nggak penasaran dengan arwah? Pasti banyak di antara kita yang ingin menanyakan hal-hal yang belum kita ketahui pada roh-roh orang mati. Nah, ada sebuah permainan bernama Ouija, sebuah papan bertuliskan huruf A sampai Z, angka 0 sampai 9 dan kata Yes, No serta Goodbye. Aturannya cukup sederhana. Permainan ini tidak dapat dilakukan seorang diri, dan ada mantera khusus untuk memanggil roh orang mati yang kita ingini, dan jangan lupa untuk mengucapkan Goodbye (Selamat Tinggal) setelahnya.



Debbie, seorang mahasiswi, mencoba permainan ini, malamnya, Lane, salah seorang sahabatnya menelepon dan berkunjung ke rumahnya. Tetapi, keesokan harinya Debbie ditemukan meninggal di rumahnya. Kemudian Lane yang penasaran dengan kematian Debbie yang tidak wajar, mencoba untuk bertanya kepada arwahnya.  Ditemani oleh Liz, Sarah, Trevor dan Pete, mereka memainkan permainan Ouija ini. Namun, bukan arwah Debbie yang datang, melainkan arwah lain. Tak lama setelah itu, mereka mulai mengalami kejadian aneh satu persatu. Hingga Liz meninggal. Apakah semua kejadian ini akan berakhir dengan kematian semuanya? Tonton selengkapnya di Ouija.



Disajikan dengan alur cerita horror yang khas, dengan suara-suara yang membuat kita kaget, film ini disajikan dengan banyak sekali adegan malam hari dan sedikit cahaya. Tetapi masih dapat terlihat dengan jelas, dan kita dapat mengikuti cerita dengan mudah. Alur cerita yang menarik menjadi daya tarik tersendiri dari film ini, meski terdapat beberapa adegan yang membosankan. Klimaks yang terjadi dalam film ini tak hanya satukali, jadi jangan terlalu cepat bernafas lega. Dijamin tidak akan bosan saat menontonnya. Make-up yang menarik serta unik dan sangat ‘wow’ disajikan oleh tim special efek film ini. Cukup untuk membuat kita bertanya-tanya bagaimana cara melakukannya. Walau demikian, ada beberapa jumping atau ketidaksesuaian adegan yang sering terjadi dalam film ini. Secara kesuluruhan, film ini cukup menarik untuk ditaruh di daftar antrean nonton film. Disarankan untuk menonton film ini pada siang hari atau bersama teman-teman lain, karena banyak sekali kerjutan di falam film ini. Selamat menonton 



-YUU-/Infokom internal

Jumat, 21 November 2014

Produksi Film KUPAS 2014

Hallo, selamat pagi movie maker muda Indonesia. Salam sinema! 
Apa kabar semua? Masih ngomongin KUPAS 2014 nih. Setelah ada pengantar materi KUPAS selama 3 minggu kali ini para KUPAS members telah menyelesaikan produksi film mereka loh. Kita kenalin masing masing kelompok ya.

Kelompok 1 (CEO Production) dengan wali ARN, RAT, TDS, AYO dan kak KHN sebagai koor wali. Nah kelompok ini mendapat bagian produksi dihari sabtu (1/11) dan minggu (02/11) membuat sebuah film pendek berjudul "MURDER". Yups, dari judulnya aja udah bikin merinding ya? 
Film bertema horor ini digarap di area kampus UKSW sampai larut malam loh. Meskipun 2 hari syuting sampai tengah malam tapi anggota kelompok ini tetap semangat dan kompak menyelesaikan film mereka.


kebayang kan perjuangannya? :'



tetap semangat sampai pagi!

CEO Production


Kelompok 2 (Find Production) dengan wali VAA, TOM, JCN, JUL dan NIK sebagai koor wali menggarap sebuah film pendek berjudul "12.30". Film yang digarap pada hari Jum'at (31/10) dan Minggu (02/11) ini menggunakan area kampus UKSW dan kafe Cicipimilk sebagai lokasi syuting mereka. Meskipun dalam penggarapannya nggak sampai tengah malam seperti dikelompok 1 namun kelompok 2 tetap kompak juga nih.

Find Production

siapa yang sms neng? abang kepo boleh?

Action!

Add caption


Dan yang terakhir ada Kelompok 3 (Premier Production) dengan wali YUU, PIN, JKS, DES dan LUQ sebagai koor wali membuat film pendek berjudul "HAH(?)". Hayo pada penasaran kan kenapa sama judulnya? Film ini bercerita tentang apa sih? Rahasia. Yups, film bertema rahasia ini digarap pada hari Jum'at (31/10) dan Sabtu (01/11). Meskipun kabarnya seleksi alam paling besar *halah terjadi di kelompok ini
Taaaaaaapi semangat mereka sungguh luarbiasa gaes. hehe


Premier Production

abang pacaran sama tembok aja deh neng :'

teteup Narsis ever after











Nah udah tau kan gimana kekompakan dari masing-masing kelompok? Meskipun sekarang ini makin banyak yang gugur dimedan peperangan KUPAS *apasih terbuktikan mereka masih semangat dalam berkarya? Salut deh buat mereka yang masih bertahan.Kita tunggu yuk screaning film-film dari mereka. Karya-karya terbaik dari mereka yang terbaik tentunya.
Keep semangat gaes!
Reporter ARN melaporkan dari kantor Finger Kine Klub (gedung F308, Universitas Kristen Satya Wacana). Salam sinema!

Rabu, 29 Oktober 2014

Review Pembekalan Materi "KUPAS 2014"

hae ... 


Kita sudah menghabiskan tiga minggu ini untuk ikut acara KUPAS (Kumpulan Para Sineas), belajar materi pembuatan film dari para fungsionaris Finger Kine Klub. Tiga minggu ini kita udah belajar banyak ya gaes, dari materi Dasar Pembuatan Film dan Job Description yang dibawakan oleh fungsionaris ter-ketjeh. 

Kemudian materi Director yang dihiasi dengan live streaming oleh dua sutradara ter-T O P versi Finger. 

Materi Lighting & Sound, dilanjutkan dengan materi Camera & Cameraman yang berpengalaman dalam bidangnya. Materi Iklan dan Film Dokumenter yang disajikan menarik -dengan iringan lagu "Sakitnya tuh disini"- 

Dan ada materi Make Up yang berhasil mengubah penampilan ketua Finger yang tadinya setengah kece menjadi super kece,serta materi Editting yang merupakan materi terakhir KUPAS.





eniwei, ini hasil karya Kak KHN

endes cyint


Yep semua materi KUPAS sudah selesai diberikan. Gimana gaes? Serukan? Ya kan? Kan? Kan? Kan? Ya kaaaaaaaaaaaan? *maksa
Sebagai penutup ada Screening film KUPAS 2013, dari screening ini kita belajar apa saja sih kendala yang biasa dihadapi saat shooting untuk meminimalisir kesalahan dalam produksi nanti.

Well gaes, diacara KUPAS kemarin selain kedatangan para senior pendahulu yang selalu memberi pengceraharan untuk KUPAS members, minggu kemarin kita juga kedatangan pendiri Finger Kine Klub yaitu Lola Rischa Pandiangan *tepuk tangan* 
Nah dalam kesempatan kemarin mbak Lola (panggilan akrabnya) sempat berbagi pengalaman dan memberi wejangan serta motivasi yang berhasil membakar semangat para fungsionaris dan KUPAS members sebagai film maker muda.
Setelah menikmati berbagai macam teori dari materi KUPAS kemarin tentunya kalian pengen segera mempraktekan apa yang sudah kalian dapat kan? Pembagian kelompok seudah dibentuk, Pra-Produksi sudah berlangsung dan Jum'at-Minggu nanti kalian para KUPAS members akan mempraktekkan hasil belajar kalian. Seleksi alam terus berlanjut *halah*,  kita harap yang masih bertahan sampai akhir nanti, kalianlah yang terbaik yang akan jadi the next family Finger. So, semangat gaes!
Kita tunggu karya kalian, jangan lupa berkarya dengan menghasilkan film yang berkualitas festival seperti kata mbak Lola.

Tetap kompak, jaga kesehatan, selamat bekerja dan keep fighting gaes! 

-ARN-

Jumat, 17 Oktober 2014

Review Film "Petualangan Sherina"

Siapa yang masa kecilnya pernah nonton film ini?


SELAMAT!
Kamu ketahuan udah TUA! haha

Well, kali ini kita sedikit bernostalgia ke masa kecil yuk. Nulis-nulis (berhubung ini dibaca jadi 'ngomong-ngomong'nya diganti jadi nulis) soal masa kecil nih, pasti kalian tau dong sama film keren ini.

Yup yup! "Petualangan Sherina".

Film yang tayang pada tahun 2000 ini sempat mencatat sejarah tersendiri dalam dunia perfilman Indonesia. Pertama, film ini merupakan film anak-anak musikal pertama yang diproduksi oleh Indonesia setelah sebelumnya tema ini nyaris 'tidak tersentuh'. Kedua, karena film ini juga 'dianggap' menandai sebuah periode baru dalam industri perfilman Indonesia dimana produksi film perlahan mulai 'bangkit' secara kualitas maupun kuantitas.

Tokoh Sherina muncul sebagai tokoh 'jagoan'.
Sejak awal, film dibuka dengan scene dimana seorang anak laki-laki sedang berusaha memanjat pohon untuk mengambil sebuah sarang burung. Anak laki-laki tersebut tampak kesulitan dan sedikit ketakutan sementara Sherina dan teman-teman perempuannya memandangi dari bawah. Teman-teman Sherina bersorak penuh khawatir sementara Sherina menatap dengan pandangan meremehkan sambil berkata penuh nada menyangsikan.

"Sebenarnya kamu bisa nggak sih?"



Secara keseluruhan Sherina diceritakan sebagai seorang gadis cilik yang cerdas, enerjik, dan suka bernyanyi. Ia tinggal di Jakarta bersama orang tuanya, Bapak dan Ibu Darwamawan. Sehari-hari Sherina menikmati benar bermain dengan sahabat-sahabat satu sekolahnya. Namun, Sherina harus meninggalkan sahabat-sahabatnya ketika ayahnya diterima bekerja di perkebunan sayur milik Pak Ardiwilaga (ayah Sadam) di Lembang.

Sherina tidak mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dan memperoleh teman-teman di lingkungan yang baru. Namun, ia juga menjadi sasaran kejahilan ‘jagoan kelas’nya, yaitu anak laki-laki bernama Sadam dan dua anteknya, Dudung serta Icang yang berbadan subur. Para jagoan kelas ini sangat suka mengganggu teman-teman mereka. Sherina tidak dapat menerima perlakuan tersebut dan menkoordinasi teman-teman barunya agar berani melawan Sadam. Hasilnya, jadilah dua kubu berseteru secara terang-terangan di sekolah. Kubu Sherina melawan kubu Sadam. Baik Sadam maupun Sherina sama-sama tidak takut untuk berkonfrontasi dengan cara saling mengejek maupun berkelahi sambil berjoget (dengan cara khas film musikal tentunya).

Singkat cerita, dalam suatu liburan singkat, Sherina dan Sadam terjebak untuk menghabiskan waktu liburan bersama. Keduanya pun kemudian terlibat dalam suatu petualangan yang menguji kecerdikan, ketabahan, dan keberanian mereka serta kemampuan untuk saling bekerja sama menghadapi komplotan penculik Pak Raden yang merupakan suruhan pengusaha licik bernama Kertarejasa dan anteknya Natasha. Tujuan utama Kertarejasa adalah menguasai areal perkebunan Pak Ardiwilaga untuk dijadikan proyek real-estat. Namun berkat kecerdikan Sherina, usaha tersebut gagal dan Sadam berhasil diselamatkan dari tangan penculiknya.


Dua tokoh utama dalam film ini, Sherina dan Sadam adalah dua orang anak yang menjalani sebuah pengalaman untuk mengidentifikasi makna menjadi seorang ‘jagoan’ dan seorang ‘teman’. Sadam sang jagoan kelas menganggap ‘kejagoannya’ ditentukan oleh kekuatannya untuk menekan yang lebih lemah. Sherina justru menganggap ‘kejagoan’ seseorang ditentukan oleh kemampuannya membela dan menolong teman-temannya yang lebih lemah.

Setelah menonton film ini, aku rasa film ini cukup standar. Cerita dalam film ini pun hanya seputar persaingan licik pengusaha, penculikan yang bodoh dan pemerasan. Tapi mungkin karena kesederhanaan cerita yang dibungkus dengan baik inilah yang menjadi point plus dalam film ini. 

Sebenarnya, pemain yang terkenalpun tidak terlalu dibutuhkan dalam cerita Petualangan Sherina, akan tetapi dapat menambah kredibilitas film saja. Untungnya, anak-anak yang merupakan pemain baru (pada masanya) dalam perfilman masih  bisa beradu akting dengan aktor legendaris memberikan performa yang baik. Sherina Munaf dan Derby Romero pun bisa sama-sama beradu akting bagus ketika menjadi musuh hingga menjadi teman.

Sherina merupakan salah satu faktor yang paling menarik. dan lagunya merupakan point penting dalam film musikal keluarga ini. Nada yang easy listening dari Elfa Secioria dikombinasikan dengan lirik lucu oleh Mira Lesmana menjadi pokok untuk film tersebut. Walaupun ada koreografi musik yang agak ceroboh dan harus  melakukan sedikit polishing, film musikal ini masih datang sebagai penghibur yang mempesona.

Sumber gambar : hasil searching Google "Petualangan Sherina"

-ARN-


Sabtu, 11 Oktober 2014

Review Film: Annabelle

              Setelah sukses di Film Horror berjudul “The Conjuring” yang diadaptasi dari kisah nyata Keluarga Perron. Kali ini, New Line Cinema kembali menakuti para pecinta Film Horror lewat Film yang dirilis bulan Oktober 2014 ini yang berjudul “Annabelle”. Sempat dimunculkan sedikit saat Film The Conjuring, boneka Annabelle ini muncul pada scene pertama Film The Conjuring, dimana pada scene tersebut bercerita tentang Paranormal Ed dan Lorraine Warren yang sedang menangani kasus Boneka Annabelle. Mungkin ini salah satu cara James Wan untuk mempromosikan Film Annabelle. Hehehe. Dan ternyata, scene pertama pada film Annabelle pun memunculkan adegan tersebut. Dan Annabelle juga sempat menakuti anak dari kedua paranormal tersebut di film The Conjuring.


                Yuk kita lihat plot ceritanya dari film Annabelle, Annabelle adalah sebuah boneka lucu yang merupakan hadiah dari John Form (Ward Horton) kepada istrinya Mia (Annabelle Wallis)  menjelang kelahiran anak pertamanya. Pada hari itu juga terjadi pembunuhan oleh kekasih dari anak tetangganya (Keluarga Higgins) yang membunuh keluarga Higgins. Kekasih dari Putri keluarga Higgins (Annabelle Higgins) ini merupakan sekte pemuja setan. Dia mencoba membunuh Mia dan anak yang dikandungnya. Dan Annabelle Higgins ini menyukai boneka yang dimiliki Mia. “I like your Doll” begitulah bisikannya kepada Mia. Ketika polisi datang untuk menyelamatkan John dan Mia dari pembunuhan, Annabelle Higgins mengunci dirinya dan melakukan bunuh diri sambil memangku boneka milik Mia.

                Setelah kejadian tersebut, John dan Mia pun pindah ke apartemen bersama anak perempuannya Leah yang baru lahir. Sebelum pindah, John sempat membuang boneka Annabelle ini. Tetapi, saat melakukan penataan di apartemen barunya, Mia menemukan kembali boneka Annabelle ini di kardus terakhir yang berisi barang-barang dari rumah lama. Mia pun ingin memajang boneka ini lagi untuk melawan rasa takutnya. Dan setelah itulah terjadi lagi keanehan-keanehan. Teror-teror mulai dirasakan Mia, boneka Annabelle ini di gunakan sebagai media setan untuk meneror Mia agar menyerahkan jiwanya.

                Menurut saya, film ini belum cukup menakuti saya. Tetapi, film Annabelle ini berhasil membuat saya merasa tegang saat menyaksikan film tersebut. Dengan musik yang membawa suasana tegang dan beberapa adegan yang sempat membuat saya kaget. Jika dibandingkan dengan film The Conjuring, film The Conjuring masih lebih menakutkan dibanding dengan Annabelle. Mungkin jika sekte pemuja setan lebih di tekankan dan boneka Annabelle ini tidak hanya di gambarkan sebagai media setan untuk meneror Mia, film ini akan lebih menyeramkan.

                Ekspektasi saya tentang film Annabelle ini tidak sesuai dengan kenyataan saat saya menonton. Walaupun,  sang sutradara John R. Leonettii mampu mengondisikan suasana tegang lewat musik yang tiba-tiba mengeras dan mengejutkan. Tetapi, Boneka Annabelle lebih banyak diam dan tiba-tiba berpindah posisi saja. Padahal, Boneka Annabelle lah yang menjadi icon pada film ini. Malahan, arwah dari Annabelle Higgins dan sosok setan berwarna hitam dan bertanduk yang lebih banyak menakuti.


                Tetapi, scene pertama dan terakhir dalam film Annabelle membuat saya penasaran dan berpikir akan ada kelanjutan dari film tersebut. Pada scene terakhir, ternyata boneka Annabelle yang di amankan polisi setelah kejadian pengorbanan nyawa yang dilakukan oleh sahabat Mia, dijual kembali dan dibeli oleh seorang ibu tua. Hal ini mengingatkan saya akan kejadian nyata yang saya baca tentang kisah asli Boneka Annabelle. Mungkin akan ada kelanjutan dari film Annabelle ini, dimana Ed dan Lorraine Warren akan muncul untuk mengatasi boneka Annabelle.

-AFE-