Finger Kine Klub

Finger Kine Klub

Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Universitas Kristen Satya Wacana

Pancasila

INDONESIA

Minggu, 06 Oktober 2013

Nonton Bareng Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis & Review Film : "Miracle in a Cell no 7"

Jumat (4/10) - Finger Kine Klub mengadakan kegiatan nonton bareng Lembaga Kemahasiswaan Fakultas (LKF) Fakultas Ekonomika dan Bisnis diawal periode guna mempererat hubungan setiap unit di LKF agar mampu bekerja sama dalam pelayanan satu periode kedepan.




Jauh lebih ramai daripada nonton bareng sebelumnya, ini merupakan kehormatan bagi Finger bahwa banyak dari teman-teman LKF yang turut hadir dalam acara nonton bareng kali ini. Nonton bareng ini sendiri bertempat diruang Teleconfrence gedung Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP).

"Terima kasih buat temen-temen Finger yang udah bantu nyiapin acara nonton bareng ini, juga terima kasih untuk temen-temen dari LKF yang udah nyempetin dateng walaupun masih ada agenda lain, tapi tetap nyempetin diri untuk hadir ikut meramaikan nonton bareng kali ini. Yah, walaupun ada beberapa hambatan seperti dilarang makan di dalam ruang nonton sampe kejadian seperti mati lampu, tapi acara ini terus berlanjut." kata Hadi Wijaya selaku Koordinator Divisi Produksi dan Film yang mempersiapkan nonton bareng kali ini.


"Saya senang ada acara gini di LKF. Karena biasanya kan cuman ketemu di forum resmi kayak rapat. Saya rasa acara seperti ini harus sering ada, jangan cuman sekali ini aja." Tukas Efratian Kristison, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang akrab di sapa Ian.


"Sama kayak Ian, acara kayak gini jangan cuman sekali-kali, tapi sering. Sekedar masukan aja, nobar nya jangan kemaleman juga, kasihan yang cewek pulangnya kemaleman." Tutup Bayu Rizqi Bachtiar, Ketua Kelompok Studi Akuntansi (KSA).

Dan sekali lagi terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tiap unit yang telah menyempatkan diri hadir di acara nonton bareng kali ini. Semoga pelayanan kita di periode ini berjalan dengan penuh canda tawa seperti malam ini. Selamat Melayani.



Dan ini review film yang di putar pada saat nobar kemarin.


Review film : Miracle in Cell no 7


Film Korea ini menurut gue a-w-e-s-o-m-e. Dirilis bulan Januari 2013, menyuguhkan kita intrik-intrik dalam kepolisian Korea yang dikemas dengan komedi khas ala korea dan bagian drama yang menyentuh di akhir cerita.

Film yang menelan biaya hingga 3,5 Milliar Won ini sukses di Korea. Dalam sebulan pertama penayangan sejak perilisannya, film ini sukses menjaring 10 juta lebih penonton dan menjadikan Miracle in Cell no 7 menjadi film korea ke-8 dengan laba tertinggi karena berhasil memperoleh 10 kali lipat dari biaya produksi. Wow.

Film ini menggunakan alur cerita campuran dimana terdapat flashback kisah pemeran utama pada pertengahan film.

Lee Yong Goo, seorang pria yang memiliki keterbelakangan mental yang hidup bersama dengan seorang putri nya, Lee Ye Seung. Mengalami musibah yang berawal dari tas sailormoon (yang gue anggap salah satu tokoh utama film ini~ xD ), Yong Goo yang berniat baik ingin membantu menyelamatkan putri seorang komisaris kepolisian yang membeli tas sailormoon kuning terakhir dambaan Ye Seung, malah dituduh melakukan pelecehan seksual karena cara Yong Goo yang unik dalam melakukan pertolongan pertama. Kemudian Yong Goo dijebloskan ke Sel tahanan nomor 7, sel dimana tingkat pengawasannya tinggi karena berisi penjahat kelas kakap.

Ketulusan hati Yong Goo membuat para tahanan di sel nomor 7 menyayanginya, namun sayang, Yong Goo merupakan tahanan dengan Hukuman Eksekusi Mati.



Hingga pada suatu saat para tahanan sel nomor 7 yang jago dalam hal penyelundupan membawa Ye Seung, putri Yong Goo ke dalam sel tanpa diketahui penjaga. Ye Seung yang diselundupkan di dalam kardus makanan keluar dan mengejutkan Yong Goo (yaiyalah, ayah mana yang gak kaget anaknya diselundupin masuk ke bui dalam kardus roti~). Seorang tahanan bernama Bong Shik mulai gelisah, takut hukumannya akan ditambahkan jika ketahuan bekerja sama menyelundupkan Ye Seung ke dalam sel, mulai berteriak memanggil penjaga untuk melaporkan, namun Ye Seung yang polos bersembunyi dibalik pintu sel dan memohon pada Bong Shik untuk tidak melaporkannya. Ketika penjaga datang bertanya kepada Bong Shik, semua hanya diam dan pasrah menunggu jawaban Bong Shik, "Tolong satu roti lagi", katanya pada penjaga, mengurungkan niatnya melaporkan penyelundupan Ye Seung ini (pasti banyak yang bingung mau ketawa ato terharu pas scene ini xD ).




Dan kehidupan di sel ini terus berlanjut, berpusat pada Yong Goo, Ye Seung, dan para tahanan sel nomor 7 (juga tas Sailormoon xD , ini langsung saja ke ending karena kalo dibahas semua kayaknya 4 SKS juga ga cukup deh).

Ada sebuah ritual khas ketika perpisahan yang dilakukan pasangan ayah dan anak ini. Ye Seung akan menghitung "1, 2, 3!" dan kemudian sang ayah yang berjalan akan berbalik dan melakukan gerakan aneh untuk putrinya.



Hingga saat eksekusi tiba, Ye Seung yang berjalan mengikuti penjaga dan Yong Goo ke tempat eksekusi. Yong Goo yang melihat pintu sel terakhir membuatnya sadar kalo disitulah saat terakhir untuk melihat putrinya. Ketika Ye Seung menghitung untuk mengawali ritual perpisahan aneh dengan sang ayah, ayahnya justru tak muncul dari balik sel. Namun, Yong Goo berlari menghampiri putri kecilnya.

Ada bagian yang bikin terharu seperti ketika Ye Seung memeluk Yong Goo dari balik sel sesaat sebelum eksekusi "Ayah boleh tinggal disini untuk waktu yang lama! Aku akan datang berkunjung! Aku tidak akan marah. Jangan pergi ke tempat lain." (Well, disitu kalo minimal ga terharu dan maksimal bercucuran air mata disertai bunyi "sroot" dari rongga idung itu berarti ga nyimak filmnya baik-baik. hahaha xD)



Dan di akhir film yang a-w-e-s-o-m-e ini, sang sutradara, Lee Hwan-Kyung sukses mengaduk-ngaduk emosi para penonton. Diawali dengan komedi ringan nan menghibur setiap mata yang menyaksikan dengan seksama hingga dibawa ke titik emosi tertinggi hingga terbawa haru.



Namun dibalik itu semua, film Miracle in a Cell no 7 mengajari kita bahwa sosok seorang ayah tak peduli bagaimanapun sikapnya, selalu memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih dari cukup kepada anaknya. Ngingetin gue sama lagu George Sitrait - Love Without End, Amen dimana di lagu itu ada liriknya yang seperti ini, "That daddy don't just love their children every now and then, but it's a love without end, amen."   Yup! Kasih sayang seorang ayah bukan hanya sekarang atau nanti, tapi sepanjang masa hidupmu, bahkan ketika raganya terbenam oleh tanah, jiwanya menjadi malaikat penjagamu yang setia - Amanda Rachel, Dad I Love You.



Sekian. (difk_iss/foto: difk_iss,google.)