Minggu, 05 Agustus 2012

Kenapa perlu giat bikin film?

http://abdalahgifar.blogdetik.com/2012/01/31/kenapa-perlu-giat-bikin-film/


Pertanyaan ini muncul terinspirasi sebuah pertanyaan seorang rekan di situs jejaring sosial. Pertanyaannya kurang lebih seperti berikut, “Bagaimana menggiatkan mahasiswa agar minat membuat film?”. Hanya saja, pertanyaan untuk bidang lain di luar film pun, masih belum terjawab bagi mahasiswa. Jadi fenomena atau gejala meluas sepertinya, mahasiswa lesu untuk berkegiatan dengan alasan tak punya waktu untuk melakukan hal yang lain-lain di luar kuliah. Benarkah dan bisakah jadi pembenaran? Kita tunda dulu persoalan mahasiswa yang satu itu.
Kita coba ilustrasikan membangun minat ‘bikin’ film dengan membangun minat baca. Ada suatu idiom, ‘buku jendela dunia’ atau ‘baca buku, buka cakrawala dunia’. Kita bisa menganggap hal itu adalah sesuatu yang terbukti. Setidaknya bila kita membuka biografi orang-orang besar, membaca adalah salah satu dan mungkin merupakan hobi utama mereka. Bahkan sampai ada suatu diskursus atau penelitian yang menyoroti soal minat baca. Kenapa begitu? Sudah melekat bahwa orang yang kurang berwawasan adalah orang yang tidak suka baca. Salah satu keterbelakangan bangsa sering dikaitkan pula pada minat baca yang rendah. Kita sendiri dapat merasakan bahwa dengan membaca wawasan kita bertambah dan semakin luas. Dengan demikian, tak ayal membaca buku menjadi suatu yang perlu digiatkan atau diminatkan (arti: membuat jadi minat).
Dengan mengetahui banyaknya manfaat dari membaca, atau pertanyaan dari “Kenapa harus atau perlu membaca?” sudah terjawab, para pihak berwenang ataupun aktivis atau pihak yang peduli kemajuan bangsa bisa memikirkan langkah selanjutnya: “Bagaimana agar orang-orang minat membaca?”. Tentu untuk menuntaskannya akan didapati tantangan-tantangan. Namun, upaya takkan pernah padam mengingat faedah membaca sangat besar. Manfaat dari membaca itu sendiri apa, takkan dibahas dalam tulisan ini tentunya :)
Nah, sekarang bagaimana dengan ‘bikin’ film. Pola pikir serupa berlaku untuk kasus ini. Janganlah terlebih dahulu menanyakan “Bagaimana”, tanpa terjawab sebelumnya, “Mengapa” atau “Kenapa perlu/harus”. Persoalan minat yang ditanyakan di atas tak dapat terselesaikan bahkan takkan teresapi oleh penggiat yang bersangkutan atau aktivis yang akan menggalakkan bila tidak diketahui manfaatnya. Apa-apa yang terpikir atas konsekuensi positif (manfaat) dari ‘bikin’ film tersebut, akan menjadi tujuan/motif dari orang-orang atau dalam hal ini mahasiswa yang ingin dijangkiti “virus” ‘bikin’ film. Kita bisa saja menyebut (atau mungkin lebih tepatnya menerka) apa yang kita dapat dengan ‘bikin’ film. Misalnya dapat duit (untuk proyek film bioskop masih mungkin), terkenal, sebatas ‘having fun’ atau ’seneng-seneng’, ‘ngabisin’ duit, aktualisasi, dan masih banyak lagi. Apapun itu, motif perlu mucul/dimunculkan di lubuk hati. Motif itulah yang akan jadi daya dorong. Seberapa lama dan seberapa kuat untuk konsisten akan sangat bergantung hal ini. Saat harapan itu tidak sesuai kenyataan atau saat keinginan tidak didapat, ‘bikin’ film akan ditinggalkan atau bahkan untuk yang belum terjun, ‘bikin’ film takkan dilirik.
Pertanyaan serta pernyataan di atas ditujukan bagi pembuat atau calon pembuat film. Nah, bagi orang-orang yang ingin agar orang lain turut meminati ‘bikin’ film ada pertanyaan tersendiri, “What for?” “Untuk apa” “Emang dengan banyak orang ‘bikin’ film, so what?” Bila kaitannya dengan organisasi atau komunitas basis kampus mungkin jawabannya adalah menjaga keberlangsungan organisasi/komunitas bersangkutan.
Layaknya SD Muhammadiyah dalam novel dan film Laskar Pelangi, sekolah itu tidak bisa melanjutkan aktivitas sekolahnya bila tak ada muridnya. Kalaulah memang kasusnya memang seperti itu, saya bisa menyarankan satu solusi, kenalkanlah dunia film seluas-luasnya. Suatu penelitian sosial membuktikan bahwa seseorang akan butuh atau terdorong melakukan bila ia tahu manfaat. Contohnya orang primitif takkan butuh mobil sebelum ia dikenalkan mobil itu gimana, rasanya seperti apa, manfaatnya untuk apa. Soalnya, ‘bikin’ film itu bukan seperti makan, kecuali ‘bikin’ film itu untuk cari makan, pasti istilahnya bukan minat lagi, tapi panggilan hidup, panggilan untuk melanjutkan hidup.
Kalau pada kenyataannya film masih belum diminati setelah ada upaya pemutaran atau workshop (dua contoh yang terpikir untuk saat ini) berarti ‘bikin’ film belum jadi pemenuh bagi kebutuhan mahasiswa, atau bukan hobi yang asyik untuk digeluti bagi dirinya, dengan kata lain ‘bikin’ film tak dibutuhkan. Hal yang sifatnya hobi, kesenangan, atau kegemaran itu adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Teringat film “Suckseed” dimana Kung dan Ped pada masa labil (kayanya SMA, bingung karena di sana celana seragamnya masih pendek) berganti-ganti hobi. Masa pencarian atau pengenalan itu memang perlu dilakukan sedini mungkin. Tapi sepertinya masa kini, anak-anak abg labil (ababil) akan dengan mudah mengenal banyak hal termasuk urusan ‘bikin’ film.
Apa yang saya sampaikan adalah suatu kontemplasi. Pendalaman terhadap diri perlu diteguhkan, sebelum atau saat mengekspresikan sampai mengajak orang lain turut serta atau mengikuti apa yang kita lakukan. Mengharapkan ada generasi pembuat film yang berkualitas adalah sesuatu yang mulia. Cara yang bisa dilakukan: dukunglah siapapun yang muncul dan ingin berkembang. Bila kitapun ingin turut membidani lahirnya pembuat film berkualitas, ’share’-lah ilmu yang kita punya dengan tulus (gak tulus pun gak apa-apa deng, yang penting ngasih aja…hahaha…cuma yang bersangkutan gak dapet apa-apa aja…hehehe).

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar