Senin, 12 Maret 2012

FILM DAN DEMOKRASI

Tentang film layar lebar, selera konsumen, dan ekspansi antar budaya kian marak dibicarakan mengenai persepsi banyak orang saat ini. Persepsi tentang tokoh dunia metafisika, disinema yang diproduksi oleh manusia di belahan bumi utara yang berbeda dengan di belahan bumi selatan mulai dari genre atau jenis film yang diproduksi, pemilihan judul dan lain sebagainya

"Demokrasi tetaplah berdasarkan kedaulatan rakyat, bukan kedaulatan partai. Jadi, demokrasi, di dalam dirinya, memiliki imperatif metapolitik untuk menjamin kedaulatan warganegara.Problem ini menghasilkan konsensus: demokrasi bukan ideal "terbaik" pengaturan politik, tetapi itu yang "termungkin" untuk menjamin kesetaraan hak dan kebebasan warganegara."
Membangun kedewasaan kolektif tidaklah mudah, seringkali kita merasa nampak tidak pantas, karena saling bunuh dan cerca satu sama lain, tapi ada kalanya mulai sadar bahwa konflik itu ternyata tak ada gunanya. Ada masanya ketika selangkangan dan dada implan nampak menjadi tren, tetapi ada masanya juga ketika secara kolektif, mayoritas warga menganggap hal tersebut tidak bermoral. Selain soal kebebasan, maka kedewasaan selalu menyandingkan antara hak dan kewajiban, serta kebebasan dan tanggung jawab! Butuh waktu dan usaha terus menerus untuk saling menasehati satu sama lain, dan itu manusiawi.

Inilah demokrasi di ruang perfilman nasional, ada suplai dan deman, ada yang mau menambahkan judul- Dan inilah yang menjadi tren para pembuat film saat ini sangat diberikan kebebasan namun bertanggung jawab akan akhir dari proses yang melibatkan banyak orang. Masyarakat bisa terprovokasi dengan film yang kurang bisa dicerna dengan baik maksud atau nilau yang sepantasnya dalam film, sehingga tugas dari para pembuat film untuk lebih menyadari akan risiko suatu pilihan yang demokratis..

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar