Merry Christmas

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2017

Salatiga

Pemandangan Malam Salah Satu Sudut Kota Salatiga

KUPAS 2015

Produksi Film KUPAS 2015

Finger Kine Klub

Keluarga Finger Kine Klub UKSW Salatiga

Rabu, 12 Desember 2012

Nonton Bareng FINGER

24-26 September 2012 adalah 3 hari dimana divisi penelitian dan pengembangan pertama kali mengadakan kegiatan nonton bareng anak-anak Finger. Kegiatan ini menampilkan karya-karya Finger dari karya fungsionaris pertama sampai pada tahun 2012 ini. Film-film yang ditonton antara lain:

1. Love Makes Perfect
2. Everlasting
3. Kenapa Harus Menunggu
4. Buta
5. Dewasa Tidak Sama Dengan 18
6. Notasi Cinta
7. This Way
8. Kopi 1/5 Gelas
9. Cintaku Disini
10. Terancam

Dalam kegiatan ini pula, para anggota Finger dapat berpartisipasi turut mengevaluasi film-film tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk dapat melihat bagaimana karya-karya Finger dan menumbuhkan kepekaan terhadap film kita sendiri.

Diakhir nonton bareng ini, divisi litbang memberikan tontonan hiburan yang dibuat oleh para anggota Finger terdahulu berupa iklan. Iklan yang ditampilkan seperti Gita Ketawa dan Hijau Daun. Hiburan melalui iklan ini, membangkitkan semangat para penonton karena kemasan dalam iklan-iklan tersebut dapat dikatakan lucu dan bisa membuat penonton sakit perut.

Dengan adanya kegiatan seperti ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi seluruh anggota Finger dan siapapun yang menyukai sinematografi. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan disetiap periodenya.

Salam Sinematografi!!

Jumat, 30 November 2012

Tentang Sinematografi



Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris Cinematography yang berasal dari bahasa Latin kinema 'gambar'. Sinematografi sebagai ilmu terapan merupakan bidang ilmuyang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengemban cerita).

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannyapun mirip. Perbedaannya, peralatan fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar. Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik perangkaian gambar atau dalam sinematografi disebut montase (montage).

Sinematografi sangat dekat dengan film dalam pengertian sebagai media penyimpan maupun sebagai genre seni. Film sebagai media penyimpan adalah pias (lembaran kecil) selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat peka cahaya. Benda inilah yang selalu digunakan sebagai media penyimpan di awal pertumbuhan sinematografi. Film sebagai genre seni adalah produk sinematografi.

Berkaitan dengan sinema (perfilman), sinematografi dilihat dari estetika, bentuk, fungsi, makna, produksi, proses, maupun penontonnya. Jadi seluk beluk perfilmam dikupas tuntas dalam sinematografi. Memasuki dunia perfilman berarti memasuki dunia pemahaman estetik melalui paduan seni acting, fotografi, teknologi optic, komunikasi visual, industri perfilman ide, cita-cita dan imajinasi yamg sangat kompleks.

Pemahaman estetik dalam seni (secara luas), bentuk pelaksanaannya merupakan apresiasi. Apresiasi seni merupakan proses sadar yang dilakukan penghayatan dalam menghadapi karya seni (termasuk film). Apresiasi tidak identik dengan penikmatan, karena mengapresiasi adalah proses untuk menafsirkan sebuah makna yang terkandung dalam sebuah karya seni. Seorang penghayat film, terkebih dahulu ia harus mengenal struktur dasar film, mengenal bahasa visual film yang dihadirkan, mengenal konteks audio-visual dan semiotika (system pelambangan) bahasa gambar, mengenal dimensi ruang dan waktu, serta mengetahui azas desain penggarapan film dan karakter setiap unsure pendukungnya.

Pemahaman atau apresiasi film memiliki dimensi logis, sedangkan penikmatan sebagai proses psikologis. Apresiasi film menuntut keterampilan dan kepekaan estetik untuk memungkinkan seseorang mendapatkan pengalaman estetik dalam mengamati karya film. Pengalaman estetik dapat tumbuh pada setiap orang apabila terdapat proses penghayatan yang sungguh-sungguh, terpusat dan pelibatan emosional. Pengalaman estetik merupakan hasil interaksi antara karya film dengan penghayatannya.

Minggu, 11 November 2012

Hallo

OPERATOR TELEPON - Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual. Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : "Operator". Dan si operator ini maha tahu. Ia tahu semua nomor telepon orang lain! Ia tahu nomor telepon restoran, rumah sakit, bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota.

Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi waktu tidak ada seorangpun dirumah, dan jempol kiri saya terjepit pintu. Saya berputar putar kesakitan dan memasukkan jempol ini kedalam mulut tatakala saya ingat .... Operator!!!

Segera saya putar bidai pemutar dan menanti suaranya. " Disini operator..." " Jempol saya kejepit pintu..." kata saya sambil menangis. Kini emosi bisa meluap, karena ada yang mendengarkan. " Apakah ibumu ada di rumah ? " tanyanya. " Tidak ada orang " " Apakah jempolmu berdarah ?" " Tidak , cuma warnanya merah, dan sakiiit sekali " " Bisakah kamu membuka lemari es? " tanyanya. " Bisa, naik di bangku. " " Ambillah sepotong es dan tempelkan pada jempolmu..."

Sejak saat itu saya selalu menelpon operator kalau perlu sesuatu.

Waktu tidak bisa menjawab pertanyaan ilmu bumi, apa nama ibu kota sebuah Negara, tanya tentang matematik. Ia juga menjelaskan bahwa tupai yang saya tangkap untuk dijadikan binatang peliharaan , makannya kacang atau buah.

Suatu hari, burung peliharaan saya mati. Saya telpon sang operator dan melaporkan berita dukacita ini.

Ia mendengarkan semua keluhan, kemudian mengutarakan kata kata hiburan yang biasa diutarakan orang dewasa untuk anak kecil yang sedang sedih. Tapi rasa belasungkawa saya terlalu besar. Saya tanya : " Kenapa burung yang pintar menyanyi dan menimbulkan sukacita sekarang tergeletak tidak bergerak di kandangnya ?"

Ia berkata pelan : "Karena ia sekarang menyanyi di dunia lain..." Kata-kata ini tidak tahu bagaimana bisa menenangkan saya.

Lain kali saya telpon dia lagi. " Disini operator " " Bagaimana mengeja kata kukuruyuk?"

Kejadian ini berlangsung sampai saya berusia 9 tahun. Kami sekeluarga kemudian pindah kota lain. Saya sangat kehilangan "Disini operator."

Saya tumbuh jadi remaja, kemudian anak muda, dan kenangan masa kecil selalu saya nikmati. Betapa sabarnya wanita ini. Betapa penuh pengertian dan mau meladeni anak kecil.

Beberapa tahun kemudian, saat jadi mahasiswa, saya studi trip ke kota asal. Segera sesudah saya tiba, saya menelpon kantor telepon, dan minta bagian

"operator." " Disini operator " Suara yang sama. Ramah tamah yang sama. Saya tanya : "Bisa ngga eja kata kukuruyuk" Hening sebentar. Kemudian ada pertanyaan : "Jempolmu yang kejepit pintu sudah sembuh kan?" Saya tertawa. "Itu Anda ... Wah, waktu berlalu begitu cepat ya?" Saya terangkan juga betapa saya berterima kasih untuk semua pembicaraan waktu masih kecil. Saya selalu menikmatinya. Ia berkata serius : "Saya yang menikmati pembicaraan dengan mu. Saya selalu menunggu nunggu kau menelpon".

Saya ceritakan bahwa , ia menempati tempat khusus di hati saya. Saya bertanya apa lain kali boleh menelponnya lagi. "Tentu, nama saya Saly "

Tiga bulan kemudian saya balik ke kota asal. Telpon operator. Suara yang sangat beda dan asing. Saya minta bicara dengan operator yang namanya Saly. Suara itu bertanya " Apa Anda temannya ?" "Ya teman sangat lama " "Maaf untuk mengabarkan hal ini, Saly beberapa tahun terakhir bekerja paruh waktu karena sakit sakitan. Ia meninggal lima minggu yang lalu..."

Sebelum saya meletakkan telepon, tiba tiba suara itu bertanya : "Maaf, apakah Anda bernama Paul ?" "Ya " "Saly meninggalkan sebuah pesan buat Anda. Dia menulisnya di atas sepotong kertas, sebentar ya....." Ia kemudian membacakan pesan Saly : "Bilang pada Paul, bahwa IA SEKARANG MENYANYI DI DUNIA LAIN... Paul akan mengerti kata kata ini...." Saya meletakkan gagang telepon. Saya tahu apa yang Saly maksudkan.

Pesan: Jangan sekali-kali mengabaikan, bagaimana Anda sudah menyentuh hidup orang lain.

Sabtu, 10 November 2012

LAPORAN FINGER KINE KLUB


Peridoe ini di mulai dengan pelmilihan Ketua baru FINGER KINE KLUB (FKK), waktu itu ketua sebelumnya yaitu IVER IBRAM KONDA (Ketua FKK 2010-2011) mengajukan dua kandidat yang akan menggantikannya sebagai ketua FKK. Dua kandidat tersebu adalah REYN MAXEL PALESE dan BENAYA CHRISMA ADIPUTRA PESUDO, diadakan voting untuk memilih, dan terpilihlah BENAYA C.A. PESUDO sebagai ketua FKK periode 2011-2012.
Pada awal FKK periode 2011-2012 ini Ketua Finger diminta menunjuk BPH, dan menentukan divisi-divisi yang ada di FKK, dapat dilihat sbb:
Susunan organisasi FKK 2011-2012

Ketua                : BENAYA CHRISMA ADIPUTRA PESUDO
Sekretaris          : ASTERITA DESSY PHILIANA
Bendahara         : YOESFINA INFAIRYO MIRINO

Divisi Film dan Produksi
Koord              : HARIYANTO TAN JAYA
Anggota           : SUSENA AGES NUGRAHA, 
                          FRANCKLYN CHRISTIAN KAKISINA, 
                          SYNDI

Divisi Humas
Koord              : WIWIT ANGGREANI
Anggota           : BAYU PRASETYO AJI, 
                          AGUSTINA LARASATI

Divisi Litbang
Koord              : TJEN OKTAVIA
Anggota           : KARTIKA ELCINDY TOGAS

Divisi Property
Koord              : MARCHLANNO DIMAS PUTRA
Anggota           : VIMARA ARDIANSYAH WARDANA, 
                         FEBRIAN KRESNA PERMANA, 
                         CHRISTIAN KURNIA WIBOWO, 
                         JOANDI SUTOMO


Dan setelah itu BPH di minta untuk membuat program kerja untuk periode 2011-2012, setelah diadakan rapat kecil dengan anggota diputuskan untuk mengadakan Salatiga Film Festival (SAFFEST).  Pada awal FKK periode tersebut kami dihadapkan pada festival film documenter UI (Docdays UI) dan kami mengerjakan film berjudul “Indonesia Mini” dan masuk dalam lima besar. Dan juga mengadakan Kegiatan KUPAS dengan ketua SUSENA AGES NUGRAHA untuk pelatihan bagi anggota baru FKK.

Pada awal tahun2012 kami memtuskan untuk memproduksi film pendek yang menjadi focus kerja kami, kira2 bulan maret kami menggarap film berjudul “THIS WAY”, selama produksi banyak kendala namun akhirnya selesai juga (kurang scoring musiknya hehehhehe). Dan tidak lama sebelum itu kami mendapat permintaan dari ibu ESTER TULUNG perwakilan dari GPIB Salatiga untuk membuat film mengenai perjalanan GPIB Salatiga untuk mengisi acara Paskah. Dalam proyek ini kami bekerja sama dengan TEATER AGAPE, produksi ini juga mengalami banyak halangan tetapi dapat terselesaikan sebelum SAFFEST di mulai.

Setelah produksi ini FKK berfokus pada SAFFEST yang diadakan pada tgl 19-21 April 2012, dengan total  film yang ikut dalam lomba sebanyak 24 film. Dengan juri FAOZAN RIZAL dan ARTURO G.P, dengan RAHASIA sebagai film terbaik SAFFEST 2012. Selain itu SAFFEST juga mendatangkan 2 film panjang “NEGERI DI BAWAH KABUT (SHALAHUDDIN SIREGAR) dan MELODI KOTA RUSA 2 (IRHAM ACHO BACHTIAR)”.

Demikian gambaran besar FKK periode 2011-2012.

Jumat, 26 Oktober 2012

Panitia Salatiga Film Festival



Yth. Panitia Salatiga Film Festival 2013

Berdasarkan proses wawancara yang dilakukan pada tanggal 11–12 Oktober 2012, dengan ini kami informasikan nama-nama peserta yang lolos seleksi sebagai panitia Salatiga Film Festival:

Seksi Acara        :      Refila Pricilia CO. - 23 2011 004
                                 Sonya Ruri Amisan - 23 2010 024
                                 Maria Devi Kuntisari - 23 2010 141
                                 Yosefina Infairyo Mirino

Seksi Sekret       :      Priscillia Justicia Christy Soselisa CO. - 23 2011 165
                                 Evelyn Cindy Harsoyo - 23 2011 136
                                 Felvina Jacinta Geovania Alves - 21 2010 023
                                 Khinta Maria Dami - 23 2010 202

Seksi Konsumsi  :      Intan Mariana CO. - 23 2011 052
                                 Febrina Ayu Candra Dewi - 23 2010 207
                                 Fiona Laurensia - 23 2011 152
                                 Deviyanti Tangalayuk - 23 2010 151

Seksi Keamanan:       Manasye Nugraha Putra Maru CO. - 23 2010 203
                                 Noriega Cristy Lekatompessy - 23 2011 094
                                 Masily Debora Leasa - 23 2011 221

Seksi Pubdokjin :        Sherly Lushiyana CO. - 23 2011 175 
                                  Redya Purna - 23 2011 017
                                  Peter Drucker - 23 2011 273
                                  Pniel Agupha Handono - 23 2010 018

Seksi Akpertrans:       Febrian Kresna Permana CO. 23 2010 083
                                  Tri Budi Raharja - 21 2011 004
                                  Vieter Januar Dwiyanto - 21 2011 035
                                  Pandu Satmoko - 23 2011 063
                                  Anthonius Tyas Adi Pratama - 23 2011 046

Seksi Usda         :       Fransiska Elisa Purnamaningrum CO. 23 2011 604
                                  Julia Sahetapy - 23 2010 128
                                  Tresna Desmonda Santoso - 23 2009 129
                                  Andrew Wibisono Santoso - 21 2011 114

CO. : Kordinator Seksi

Para peserta nantinya akan dihubungi oleh koordinator masing-masing untuk mengikuti rapat perdana SaFFest. Untuk peserta yang tidak lolos proses seleksi (namanya tidak tercantum di atas), kami sampaikan ucapan terima kasih atas perhatian dan partisipasi Anda. Semoga anda dapat terus sukses dalam berkarya.

Sekian, Tuhan Memberkati.

Salatiga, 27 Oktober 2012
Daniel – Ketua Panitia Salatiga Film Festival
Francklyn – Ketua Finger Kine Klub

Selasa, 02 Oktober 2012

"Buat Film Kartun”


Animasi merupakan sutu teknik yang banyak sekali dipakai di dalam dunia film dewasa ini, baik sebagai suatu kesatuan yang utuh, bagian dari suatu film, maupun bersatu dengan film live. Dunia film sebetulnya berakar dari fotografi, sedangkan animasi berakar dari dunia gambar, yaitu ilustrasi desain grafis (desain komunikasi visual). Melalui sejarahnya masing-masing, baik fotografi maupun ilustrasi mendapat dimensi dan wujud baru di dalam film live dan animasi.

Asal Mula Teknik Film Animasi
Keinginan manusia untuk membuat gambar atau santiran (image) yang hidup dan bergerak sebagai pantara dari pengungkapan (expression) mereka, merupakan perwujudan dari bentuk dasar animasi yang hidup berkembang. Kata animasi itu sendiri sebenarnya penyesuaian dari kata animation, yang berasal dari kata dasar to animate, dalam kamus umum Inggris-Indonesia berarti menghidupkan (Wojowasito 1997). Secara umum animasi merupakan suatu kegiatan menghidupkan, menggerakkan benda mati; Suatu benda mati diberikan dorongan kekuatan, semangat dan emosi untuk menjadi hidup dan bergerak, atau hanya berkesan hidup.

Orang Mesir kuno menghidupkan gambar mereka dengan urutan gambar-gambar para pegulat yang sedang bergumul, sebagai dekorasi dinding. Dibuat sekitar tahun 2000 sebelum Masehi (Thomas 1958:8)

Lukisan Jepang kuno memperlihatkan suatu alur cerita yang hidup, dengan menggelarkan gulungan lukisan, dibuat pada masa Heian(794-1192) (ensiklopedi Americana volume 19, 1976). Kemudian muncul mainan yang disebut Thaumatrope sekitar abad ke 19 di Eropa, berupa lembaran cakram karton tebal, bergambar burung dalam sangkar, yang kedua sisi kiri kanannya diikat seutas tali, bila dipilin dengan tangan akan memberikan santir gambar burung itu bergerak (Laybourne 1978:18).

Hingga di tahun 1880-an, Jean Marey menggunakan alat potret beruntun merekam secara terus menerus gerak terbang burung, berbagai kegiatan manusia dan binatang lainnya. Sebuah alat yang menjadi cikal bakal kamera film hidup yang berkembang sampai saat ini. Dan di tahun 1892, Emile Reynauld mengembangkan mainan gambar animasi ayng disebut Praxinoscope, berupa rangkaian ratusan gambar animasi yang diputar dan diproyeksikan pada sebuah cermin menjadi suatu gerak film, sebuah alat cikal bakal proyektor pada bioskop (Laybourne 1978:23).

Kedua pemula pembuat film bioskop, berasal dari Perancis ini,dianggapsebagai pembuka awal dari perkembangan teknik film animasi(Ensiklopedi AmericanavoLV1,1976:740)

Sepuluh tahun kemudian setelah film hidup maju dengan pesat-nya di akhir abad ke 19. Di tahun 1908, Emile Cohl pemula dari Perancis membuat film animasi sederhana berupa figure batang korek api. Rangkaian gambar-gambar blabar hitam(black-line) dibuat di atas lembaran putih, dipotret dengan film negative sehingga yang terlihat figur menjadi putih dan latar belakang menjadi hitam.

Sedangkan di Amerika Serikat Winsor McCay (lihat gambar disamping) membuat film animasi “Gertie the Dinosaur” pada tahun 1909. Figur digambar blabar hitam dengan latar belakang putih. Menyusul di tahun-tahun berikutnya para animator Amerika mulai mengembangkan teknik film animasi di sekitar tahun 1913 sampai pada awal tahun 1920-an; Max Fleischer mengembangkan “Ko Ko The Clown” dan Pat Sullivan membuat “Felix The Cat”. Rangkaian gambar-gambar dibuat sesederhana mungkin, di mana figure digambar blabar hitam atau bayangan hitam bersatu dengan latar belakang blabar dasar hitam atau dibuat sebaliknya. McCay membuat rumusan film dengan perhitungan waktu, 16 kali gambar dalam tiap detik gerakan.

Fleischer dan Sullivan telah memanfaatkan teknik animasi sell, yaitu lembaran tembus pandang dari bahan seluloid (celluloid) yang disebut “cell”. Pemula lainnya di Jerman, Lotte Reineger, di tahun 1919 mengembangkan film animasi bayangan, dan Bertosch dari Perancis, di tahun 1930 membuat percobaan film animasi potongan dengan figure yang berasal dari potongan-potongan kayu. Gambar berikut adalah tokoh “Gertie The Dinosaurs”, dan “Felix the Cat”

George Pal memulai menggunakan boneka sebagai figure dalam film animasi pendeknya, pada tahun 1934 di Belanda. Dan Alexsander Ptushko dari Rusia membuat film animasi boneka panjang “The New Gulliver” di tahun 1935.

Di tahun 1935 Len Lye dari Canada, memulai menggambar langsung pada film setelah memasuki pembaharuan dalam film berwarna melalui film”Colour of Box”. Perkembangan Teknik film animasi yang terpenting, yaitu di sekitar tahun 1930-an. Dimana muncul film animasi bersuara yang dirintis oleh Walt Disney dari Amerika Serikat, melalui film”Mickey Mouse”, “Donald Duck” dan ” Silly Symphony” yang dibuat selama tahun 1928 sampai 1940.

Pada tahun 1931 Disney membuat film animasi warna pertama dalam filmnya “Flower and Trees”. Dan film animasi kartun panjang pertama dibuat Disney pada tahun 1938, yaitu film “Snow White and Seven Dwarfs”.

Demikian asal mula perkembangan teknik film animasi yang terus berkembang dengan gaya dan ciri khas masing-masing pembuat di berbagai Negara di eropa, di Amerika dan merembet sampai negaranegara di Asia. Terutama di Jepang, film kartun berkembang cukup pesat di sana, hingga pada dekade tahun ini menguasai pasaran film animasi kartun di sini dengan ciri dan gayanya yang khas.

Beberapa Jenis Teknik Film Animasi
Berdasarkan materi atau bahan dasar obyek animasi yang dipakai, secara umum jenis teknik film animasi digolongkan dua bagian besar, film animasi dwi-matra (flat animation) dan film animasi trimatra(object animation).

Film animasi Dwi-matra (flat animation)
Jenis film animasi ini seluruhnya menggunakan bahan papar yang dapat digambar di atas permukaannya. Disebut juga jenis film animasi gambar, sebab hamper semua obyek animasinya melalui runtun kerja gambar. Semua runtun kerja jenis film animasi ini dikerjakan di atas bidang datar atau papar.

Beberapa jenis film animasi dwi-matra adalah:

a. Film animasi sel(Cel Technique)
Jenis film animasi ini merupakan teknik dasar dari film animasi kartun (cartoon animation). Teknik animasi ini memanfaatkan serangkaian gambar yang dibuat di atas lembaran plastic tembus pandang, disebut sel.

Figur animasi digambar sendiri-sendiri di atas sel untuk tiap perubahan gambar yang bergerak, selain itu ada bagian yang diam, yaitu latar belakang (background), dibuat untuk tiap adegan, digambar memanjang lebih besar daripada lembaran sel.

Lembaran sel dan latar diberi lobang pada salah satu sisinya, untuk dudukan standar page pada meja animator sewaktu di gambar, dan meja dudukan sewaktu dipotret.

b. Penggambaran langsung pada film
Tidak seperti pada film animasi lainnya, jenis film animasi ini menggunakan teknik penggambaran obyek animasi dibuat langsung pada pita seluloid baik positif atau negative, tanpa melalui runtun pemotretan kamera stop frame, untuk suatu kebutuhan karya seni yang bersifat pengungkapan. Atau yang bersifat percobaan, mencari sesuatu yang baru.

Film Animasi Tri-matra (Object Animation)
Secara keseluruhan, jenis film animasi tri-matra menggunakan teknik runtun kerja yang sama dengan jenis film animasi dwi-matra, bedanya obyek animasi yang dipakai dalam wujud tri-matra. Dengan memperhitungkan karakter obyek animasi, sifat bahan yang dipakai, waktu, cahaya dan ruang.

Untuk mengerakkan benda tri-matra, walaupun itu mungkin, tapi cukup sulit untuk melaksanakannya, karena sifat bahan yang dipakai mempunyai ruang gerak yang terbatas. Tidak seperti jenis., film animasi gambar, bebas melakukanberbagai gerakan yang diinginkan.

Berdasarkan bentuk dan bahan yang digunakan, termasuk dalam jenis film animasi ini adalah :

a. Film Animasi Boneka (Puppet Animation)
Obyek animasi yang dipakai dalam jenis film animasi ini adalah boneka dan figur lainnya, merupakan penyederhanaan dari bentuk alam benda yang ada, terbuat dari bahan-bahan yang mempunyai sifat lentuk (plastik) dan mudah untuk digerakkan sewaktu melakukan pemotretan bingkai per bingkai, seperti bahan kayu yang mudah ditatah atau diukir, kain, kertas, lilin, tanah lempung dan lain-lain, untuk dapat menciptakan karakter yang tidak kaku dan terlalu sederhana.

b. Film Animasi Model
Obyek animasi tri-matra dalam jenis film ini berupa macammacam bentuk animasi ayng bukan boneka dan sejenisnya, seperti bentuk-bentuk abstark; balok, bola, prisma, piramida, silinder, kerucut dan lain-lain. Atau bentuk model, percontohan bentuk dari ukuran sebenarnya, seperti bentuk molekul dalam senyawa kimia, bola bumi.

Bentuk obyek animasi sederhana, penggunaannya pun tidak terlalu rumit dan tidak banyak membutuhkan gerak, bahan yang dipakai terdiri dari kayu, plastic keras dan bahan keras lainnya yang sesuai denga sifat karakter materi yang dimiliki, tetapi tidak berarti bahan lentuk tidak dipakai.

Disebut juga film animasi non-figur, karena keseluruhan cerita tidak membutuhkan tokoh atau figure lainnya. Jenis film Teknik yang memanfaatkan lembaran sel merupakan suatu pertimbangan penghematan gambar, dengan memisahkan bagian dari obyek animasi yang bergerak, dibuat beberapa gambar sesuai kebutuhan; dan bagian yang tidak bergerak, cukup dibuat sekali saja.

c. Film Animasi Potongan (Cut-out Animation)
Jenis film animasi ini, termasuk penggunaan teknik yang sederhana dan mudah. Figur atau obyek animasi dirancang, digambar pada lembaran kertas lalu dipotong sesuai dengan bentuk yang telah dibuat, dan diletakkan pada sebuah bidang datar sebagai latar belakangnya. Pemotretan dilakukan dengan menganalisis langsung tiap gerakan dengan tangan, sesuai denagn tuntutan cerita.

Dengan teknik yang sederhana, gerak figur atau obyek animasi menjadi terbatas sehingga karakternyapun terbatas pula. Karakter figur dibuat terpisah, biasanya, terdiri dari tujuh bagian yang berbeda; kepala, leher, badan, dua tangan dan dua kaki. Untuk menggerakkan dan menghidupkan karakter, pemisahan itu bias disesuaikan dengan tuntutan cerita, bisa dibuat kurang dari bagian tadi atau lebih.

d. Film Animasi Bayangan (Silhoutte Animation)
Seperti halnya pertunjukan wayang kulit, jenis film animasi ini menggunakan cara yang hampir sama, figur atau obyek animasi berupa bayangan dengan latar belakang yang terang, karena pencahayaannya berada di belakang layer.

Teknik yang dipakai sama dengan film animasi potongan, yaitu figur digambar lalu dipotong sesuai dengan bentuk yang digambar dan diletakkan pada latar di meja dudukan kamera untuk dipotret. Bedanya di sini, kertas yang dipakai tidak seperti animasi potongan, bahan kertas berwarna atau diberi warna sesuai dengan kebutuhan, sedangkan film animasi bayangan seluruhnya menggunakan bahan kertas berwarna gelap atau warna hitam, baik itu figur atau obyek animasi lainnya.

e. Film Animasi Kolase (Collage Animation)
Yang selalu berhubungan dengan jenis film animasi ini adalah sebuah teknik yang bebas mengembangkan keinginan kita untuk menggerakkan obyek animasi semaunya di meja dudukan kamera. Teknik cukup sederhana dan mudah dengan beberapa bahan yang bisa dipakai; potongan Koran, potret, gambar-gambar, huruf atau penggabungan dari semuanya. Gambar dan berbagai bahan yang dipakai, disusun sedemikian rupa lalu dirubah secara berangsurangsur menjadi bentuk susunan baru, dimana tiap perubahan penempelan dipotret dengan kamera menjadi suatu bentuk film animasi yang bebas.

Software Pembuat Animasi

Software Animasi 2 Dimensi:
Macromedia Flash, CoRETAS, Corel R.A.V.E., After Effects, Moho, CreaToon, ToonBoom, Autodesk Animaton (1990-an) dll

Software Animasi 3 Dimensi:
Maya, 3D Studio Max, Maxon Cinema 4 D, LightWave, Softlmage, Poser, Motion Builder, Hash Animation Master, Wings 3D, Carrara, Infini-D, Canoma d

(lit12t)