Sabtu, 13 September 2008

Mengenal Lebih Dekat Siapa itu Sutradara

Film adalah sebuah media bagi sebuah pertunjukan yang mengungkapkan pikiran / rasa seseorang dengan menggunakan tingkah jasmani ataupun ucapan kata - kata. Dalam suatu rangkaian pertunjukkan banyak faktor yang terlibat dalam menghasilkan sebuah karya seni melalui film salah satunya adalah sutradara.


Yang utama bagi sutradara adalah ia memiliki kemampuan untuk memvisualisasikan ide - idenya lewat para pemeran. Kondisi ini dalam bahasa seni pertunjukan membuahkan suatu anggapan bahwa sutradara dianggap sebagai seorang DIKTATOR karena pemeran harus tunduk atas segala kehendak sutradara. Pemeran sebagai prototip. Pemeran "tak memiliki" kreativitas. Anggapan lain menyebutkan bahwa sutradara dianggap sebagai SUPERVISOR karena tugasnya membantu pemeran untuk mengembangkan konsep individual sebaik dan sekreatif mungkin.


Dari anggapan di atas maka muncul tiga tipe sutradara, yaitu sebagai INTERPRETATOR yang bertindak sebagai diktator, KREATOR yang bertindak memberi kebebasan pemeran untuk mengembangkan kreativitasnya. Adanya kedua tipe ini sebaiknya sutradara dapat menggabungkan kedua tipe tersebut sehingga dalam memberi kesempatan bagi pemeran, sutradara dapat mengekang kekuatan / mengurangi kelemahan yang menonjol pada pemeran sehingga akan muncul keseimbangan.


KERJA / TUGAS POKOK SUTRADARA

1.) Menemukan dan Menentukan nada dasar
Tugas utamanya adalah mencari motif yang ditemukan dalam sebuah karya lakon (naskah/skenario) dan memberi jiwa (ada ciri khas) agar menjadi suatu wujud yang dikehendaki kemudian. Inilah yang biasa disebut menentukan nada dasar penampilan. Nada dasar ini harus bersifat :
- menentukan dan memberi suasana khusus
- membuat lakon gembira/sedih menjadi lucu/haru
- mengurangi bobot tragedi yang terlalu berlebihan
- memberikan prinsip dasar pada lakon



2.) Menentukan Casting
Casting adalah proses penuangan peran berdasarkan hasil analisis skenario/naskah untuk diwujudkan dalam penentuan pemeran. Penentuan casting menurut sutradara :
¤ Casting by ability
¤ Casting to type
¤ Antitype Casting
¤ Casting to emotional temprament
¤ Therapeutic Casting



3.) Mengetahui Tata dan Teknik Pertunjukan
Sutradara paling tidak memiliki pengetahuan tentang tata dan teknik pertunjukan yaitu segala hal yang menyangkut kebutuhan suatu pertunjukan baik kostum, make up, dekorasi bahkan lighting. Ini sangat mendukung nada dasar yang dikehendaki. Atas kemampuan sutradara dalam keadaan ini maka akan hadir kesesuaian antara warna/suara dan perasaan. Inilah penguatan terhadap nada dasar.



4.) Menyusun Mise en Scene
Sutradara diharapkan mampu menyusun segala perubahan yang terjadi akibat perpindahan pemeran/perlengkapan tata letak. Mise en scene [bc : mi-sang-sen]= tata perabotan, memang hanya sebagai unsur tambahan dalam sebuah kerja sutradara di luar pemeran dan naskah/skenario, tetapi ini akan menjadi konsumsi penonton. Dengan susunan ini sutradara dapat memberikan struktur visualisasi pada lakon dan komposisi tampilan yang dikehendaki.



5.) Menguatkan/Melemahkan scene
Nada dasar yang dipilih sutradara sudah pasti akan mewarnai dan menjiwai lakon secara keseluruhan. Untuk itu sutradara harus memberikan tekanan pada bagian lakon tertentu yang dianggap lemah atau kuat dalam suatu adegan. Memang diberi kebebasan dalam menentukan tekanan sesuai dengan pandangan yang diyakini tetapi sutradara berusaha untuk tidak merubah pedoman yang dituntut dalam naskah/skenario itu.



6.) Menciptakan Aspek - Aspek Laku
Sutradara memberikan saran kepada pemeran agar menciptakan laku simbolik [acting creative]. Laku simbolik adalah cara berperan (kondisi ini biasanya tidak ada dalam instruksi naskah atau skenario). Penciptaan aspek laku ini hanya untuk memperkaya permainan, menguatkan batin seorang peran bagi penonton.



7.) Mempengaruhi Jiwa Pemeran
Sutradara mempunyai kedudukan sebagai penggarap cerita lakon, kedudukan ini membutuhkan interaksi satu pihak dg pihak lain. Dalam sebuah produk yg dihasilkan, "ciptaan" sutradara diharapkan menarik perhatian publik. Penggarapan sutradara teknikus bisa melalui teknik latar, tata lampu, tata bunyi, kostum/rias bahkan "manipulasi" kondisi. Penggarapan sutradara yang psikolog akan memberi penekanan pada penggambaran watak dari cara ber-acting, intonasi, sugesti yang tak terucap, penghayatan yang menyatakan perasaan kejiwaan. Untuk merealisasi keinginan itu, sutradara dapat mempengaruhi para pemeran dengan jalan memberi pengarahan tentang gambaran watak peranan sesuai dengan ide dalam lakon yang dimaksud. Ia pun dapat langsung memberi contoh acting.



[berbagai sumber]

Reaksi:

2 komentar: