Merry Christmas

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2016

Salatiga

Pemandangan Malam Salah Satu Sudut Kota Salatiga

KUPAS 2015

Produksi Film KUPAS 2015

Finger Kine Klub

Keluarga Finger Kine Klub UKSW Salatiga

Jumat, 12 Agustus 2016

Review Film Crazy Love (2013)

Film yang di sutradarai oleh Guntur Soeharjanto yang merupakan film remaja bertemakan Cinta. Dalam film ini menceritakan kisah cinta siswa SMA. Kumbang (Adipati Dolken) adalah seorang badboy di sekolahnya. Dia sering sekali terkena hukuman. Hingga suatu saat, kepala sekolahnya menugaskan Olive (Tatjana Saphira) agar membantu Kumbang agar dia bisa berubah dan memiliki nilai yang baik. Olive pun berusaha untuk membantu niat kepala sekolah. Tapi mengingat Kumbang dan 3 Temannya yaitu Abdu (Kemal Pahlevi), Daniel (Herichan), dan Basuki (Zidni Adam) adalah tiga serangkai yang begitu bandel di sekolahnya.Olive pun tidak kuat dengan sifat Kumbang yang masih kekanak-kanakan. Tapi diam-diam Kumbang mencintai Olive. Karena Olive adalah cewek yang banyak diperebutkan oleh cowok-cowok di sekolahnya. Tapi sayangnya, Kumbang tidak berani untuk mengatakannya. 
Banyak yang mengatakan bahwa film ini ‘terispirasi’ oleh film negara tetangga yaitu Taiwan dengan judul You Are The Apple of My Eye. Tapi film Crazy Love  ini lebih mengarah ke menjiplak secara keseluruhan daribeberapa segi film Taiwan tersebut. Mulai dari plot, karakterisasi tokohnya, bahkan dari segi teknis film ini pun masih juga meniru film You are The Apple of My Eye. Mungkin untuk segi plot tak secara kesuluruhan dicopast dari film You are The Apple of My Eye . Lebih diambil dari segi kisah cinta SMA yang memang penuh warna di film ini. Tetapi, penulis scenario tak bisa memberikan greget cerita cinta remaja seharusnya. Dengan beberapa adegan klimaks yang tidak ada rasanya. Hambar. Mungkin ada beberapa bagiannya yang masih bisa dinikmati dilihat dari segi pemilihan artisnya yang memang sangat menarik perhatian para penggemar film remaja Adipati Dolken, Tatjana Saphira, Kemal Pahlevi adalah nama-nama artis remaja yang sedang digandrungi saat itu.
Beberapa adegan-adegan yang sudah melekat atau menjadi sebuah iconic di film You Are The Apple of My Eye dengan gamblang digambarkan oleh sutradara di film Crazy Love. Opening film ini pun sama persis dengan film taiwan itu. Shoot yang diambil, property yang dipakai, settingan lokasi dan adegannya. Lalu adegan-adegan di kamar mandi, saat kumbang sedang belajar bahasa mandarin dan masih banyak lagi yang sama persis dengan film You are The Apple of My Eye. Hanya berbeda di endingnya, ending pahit pada drama Taiwan itu di ubah menjadi happy ending di film Crazy Love karena Kumbang dan Olive bersatu.
Overall, Crazy Love adalah sebuah film yang katanya ‘terinspirasi’ dari film Taiwan dengan judul You Are The Apple of My Eye. Tapi nyatanya ini adalah sebuah ‘duplikat‘ film Taiwan tersebut. Mulai dari segi plot, karakterisasi tokoh dan juga segi teknis film ini. Dengan sebuah penceritaan yang kurang greget.

GEA

Sabtu, 09 April 2016

REVIEW FILM CHEF


Film “Chef” adalah film Hollywood yang diproduksi pada tahun 2014 kemarin. Film “Chef” ini disutradarai oleh Jon Favreau. Satu hal yang unik, ternyata sutradara ini juga merangkap menjadi pemeran utama di Film “Chef” ini.

Film ini menceritakan tentang perjalanan kasir seorang pria bertubuh besar bernama Carl yang tidak lain berprofesi sebagai  Chef di salah satu Restaurant . Chef duda ini memiliki satu anak laki-laki yang bernama Percy.
Awalnya muncul konflik dimulai dari isi tweet buruk dari kritikus makanan yang memberikan komentar jelek kepada Carl melalui jejaring sosial yaitu twitter. Oleh dari itu Carl meminta bantuan anaknya untuk membuatkan akun twitter dengan alasan ingin melihat lanjutan tulisan-tulisan buruk apa saja yang telah di tweet. Semenjak isi tweet tersebut Carl akhirnya panas dan dia berencana untuk menantang kritikus tersebut dengan menyajikan makanan yang terbaru di restaurant tempat dia bekerja, namun dilarang bosnya. Alhasil, Carl keluar dari tempat kerjanya.
Sementara itu mantan istri Carl mengajak Carl beserta anaknya berlibur ke Miami, selama liburan itu istri Carl menawarkan ide untuk Carl membuka usaha Food Truck yang di modali oleh mantan suami istri Carl. Akhirnya Carl dibantu anaknya mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyiapkan usaha barunya itu. Setelah selesai mempersiapkan segala sesuatunya Food Truck tersebut jadi dan Carl dibantu masak oleh salah satu sahabatnya sewaktu bekerja di Restaurant sebelumnya. Muncul konflik dimana Percy ingin pula membantu ayahnya untuk menjadi Chef, namun Carl tidak mengijinkan.
Usaha Food Truck inipun cukup dibilang sukses dan menarik minat banyak orang, namun tetap saja banyak dinamika di dalamnya. Satu hal yang tidak diketahui sebelumnya oleh Carl, ternyata Percy sering mendokumentasikan aktivitas yang mereka lakukan selama berjualan di Food Truck tersebut. Menjulang sukses sampai-sampai kritikus makanan yang dulu pernah menjelek-jelekan Carl pun kini ingin menginvestasikan uangnya untuk membantu usaha Carl tersebut. Akhir dari cerita ini bisa dibilang happyending karena Carl kembali rujuk dengan istrinya.
Pengambilan gambar di Film ini juga menggunakan lensa model fisheye, sehingga pengambilannya unik dan tidak monoton. Film ini sangat direkomendasikan untuk kalian pecintakuliner dan ingin bercita-cita sebagai Chef atau pun ingin membuka usaha kuliner disarankan untuk menonton film ini sebagai referensi motivasi. Wkwkwk - CRP

Selasa, 29 Maret 2016

HARI FILM NASIONAL


Sejarah dan Perkembangan Film di Indonesia


30 Maret merupakan tanggal yang tidak asing lagi bagi sineas dan insan perfilman di Indonesia. Ya, tanggal tersebut adalah tanggal yang diperingati sebagai Hari Film Nasional yang ditetapkan sejak tahun 1962 oleh Konferensi Kerja Dewan Film Nasional dan Organisasi Perfilman. Kenapa tanggal 30 Maret? Alasannya, karena tanggal 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar untuk film “Darah dan Doa” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai oleh Usmar Ismail yang diproduksi oleh perusahaan film milik orang Indonesia asli yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) dimana Usmar Ismail tercatat juga sebagai pendirinya. Bioskop terbesar dan termegah di Indonesia untuk pertama kalinya diresmikan pada tahun 1951 yang melatarbelakangi pembangunan bioskop lain yang berkembang pesat. Dari tahun 1950-an sampai 1970-an perfilman Indonesia mulai goyah dan mengalami banyak hambatan. Namun, di tahun 1990-an sampai sekarang perfilman Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya film yang berkualitas dari sutradara Indonesia seperti Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho. Setelah itu muncul Mira Lesmana dengan Petualangan Sherina dan Rudi Soedjarwo dengan Ada Apa dengan Cinta? (AADC) yang sukses di pasaran. Hingga sekarang film yang sedang digandrungi oleh masyarakat Indonesia  adalah film dengan genre percintaan dan comedy seperti Single karya Raditya Dika.

Selain film-film berdurasi panjang, sejarah film di Indonesia juga tak luput dari film pendek atau yang lebih dikenal denagn Film Indie. Dalam sejarah film dunia, istilah ‘film pendek’ mulai populer sejak dekade 50-an. Alur perkembangan terbesar film pendek memang dimulai dari Jerman dan Perancis; para penggagas Manifesto Oberhausen di Jerman dan kelompok Jean Mitry di Perancis. Di kota Oberhausen sendiri, kemudian muncul Oberhausen Kurzfilmtage yang saat ini merupakan festival film pendek tertua di dunia.

Di Indonesia, dimana film pendek sampai saat ini selalu menjadi pihak marjinal –sekali lagi, dari sudut pandang pemirsa- film pendek memiliki sejarahnya sendiri yang sering terlupakan. Film pendek Indonesia secara praktis mulai muncul di kalangan pembuat film Indonesia sejak munculnya pendidikan sinematografi di IKJ. Perhatian para film-enthusiasts pada era 70-an dapat dikatakan cukup baik dalam membangun atmosfer positif bagi perkembangan film pendek di Jakarta. Bahkan, Dewan Kesenian Jakarta mengadakan Festival Film Mini setiap tahunnya mulai 1974, dimana format film yang diterima oleh festival tersebut hanyalah seluloid 8mm. Akan tetapi sangat disayangkan kemudian Festival Film Mini ini berhenti pada tahun 1981 karena kekurangan Dana.

Pada 1975, muncul Kelompok Sinema delapan yang dimotori Johan Teranggi dan Norman Benny. Kelompok ini secara simultan terus mengkampanyekan pada masyarakat bahwa seluloid 8mm dapat digunakan sebagai media ekspresi kesenian. Hubungan internasional mulai terbangun, diantaranya dengan para filmmaker Eropa terutama dengan Festival Film Pendek Oberhausen, ketika untuk pertama kali-nya film pendek Indonesia berbicara di muka dunia di tahun 1984. Keadaan ini memancing munculnya Forum Film Pendek di Jakarta, yang berisikan para seniman, praktisi film, mahasiswa dan penikmat film dari berbagai kampus untuk secara intensif membangun networking yang baik di kalangan pemerhati film.

Akan tetapi, Forum Film Pendek hanya bertahan dua tahun saja. Secara garis besar, keadaan film pendek di Indonesia memang dapat dikatakan ironis. Film pendek Indonesia hampir tidak pernah tersampaikan ke pemirsa lokal-nya secara luas karena miskinnya ajang-ajang eksibisi dalam negri. Akan tetapi di sisi lain, di dunia internasional, film pendek Indonesia cukup mampu berbicara dan eksis. Dari sejak karya-karya Slamet Rahardjo, Gotot Prakosa, Nan T. Achnas, Garin Nugroho, sampai ke generasi Riri Riza dan Nanang Istiabudi.

Saat ini dunia perfilman Indonesia sedang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sineas dan insan perfilman yang mampu membuat film-film berkualitas yang mampu bersaing di pasaran. Canggihnya alat-alat untuk memproduksi dan mempromosikan film menjadi faktor yang mendukung film-film Indonesia sehingga dapat menciptakan karya yang berkualitas dan berhasil menarik minat masyarakat Indonesia terhadap film lokal. Perkembangan film indie pun juga berkembang pesat dengan banyaknya kemunculan rumah produksi dan komunitas-komunitas film independen yang memproduksi film pendek. Selain itu, film pendek juga sudah mulai dicintai oleh remaja-remaja Indonesia melalui kegiatan ekstrakulikuler film di sekolah-sekolah menengah dan melalui Unit Kegiatan Mahasiswa di berbagai Universitas di Indonesia. Untuk mengapresiasi karya-karya sineas Indonesia sekarang banyak diadakan acara festival-festival film baik itu yang bertingkat nasional, daerah, maupun kota. Melalui pelaksanaan kegiatan ini diharapkan banyak masyarakat yang akan mencintai dan mengapresiasi karya film dari sineas-sineas Indonesia. Kalau bukan kita siapa lagi? So, Cintai Film Indonesia yaa! -nsa-

Sumber : Wikipedia 



Minggu, 27 Maret 2016

Review Film “Magic Hour”


MAGIC HOUR "Let In The Unexpected

Magic Hour.. hmm pertama gue penasaran nonton filmnya karena di TV setiap break/iklan itu pasti ada nih muncul trailernya. Dari trailernya sih cukup menarik dan cukup membuat jantung gue berdegup kencang. ”Wah bagus nih kayaknya filmnya, gue harus nonton!” pikir gue. Dan akhirnya seminggu kedepan saya pergi ke bioskop terdekat untuk menonton film Magic Hour ini.

Suasana di bioskop kurang menyenangkan karena yang nonton pada saat itu rata-rata anak-anak sekolahan (SMP, SMA) yang datang tak sendiri tapi sama pasangannya. Bayangin coba perasaan gue yang jomblo datang sendirian ke bioskop nonton film romantis. Hmmm.. nggak usah dijelaskan, you know what I mean

Masuk ke filmnya langsung. Di awal-awal filmya tampak sangat membosankan karena ceritanya tentang jodoh-jodohan. Jadi ada yang namanya Gweny (diperankan oleh Nadia Arina) dijodohin sama mamanya (diperankan oleh Merriam Bellina) dengan anak teman dekatnya yaitu Dimas (diperankan oleh Dimas Anggara). Nah, si Gweny ini nggak mau dijodohkan lalu akhirnya dia meminta tolong pada Raina (diperankan oleh Michelle Ziudith) yang adalah sahabat dekat Gweny. Untuk berpura-pura jadi dirinya dan menemui Dimas.

Nah, melalui pertemuan-pertemuan itu muncullah benih-benih cinta antara Dimas dengan Raina. Namun Raina memiliki sahabat dari kecil yang bernama Toby (diperankan oleh Rizky Nasar) yang ternyata juga suka padanya. Tapi dia memendamnya cukup lama. Yah, mungkin karena alasan lazim “dia nggak mau kehilangan Raina sebagai sahabat” upss..konflik percintaan remaja saat ini banget hahhaha..

Masuk pertengahan film mulai konflik cerita dimunculkan satu persatu yang membuat filmnya jadi seru. Gweny yang bertemu secara langsung dengan Dimas akhirnya jadi suka dan menerima perjodohan itu. Raina yang tak ingin membuat sahabatnya malu dan kecewa akhirnya dia melepaskan Dimas. Namun Dimas tak mau melepaskan Raina. Dan Toby pun tetap berusaha menjauhkan Dimas dari Toby. Terjadilah cinta segi empat yang sangat rumit.

Mendekat ke akhir ceritanya makin membuat penasaran. Raina buta dan ternyata Dimas punya sakit parah yang akhirnya dia meninggal. Tapi ada sosok lain yang selama ini menemani Raina sebagai seorang Dimas. Dan sosok itu adalah kembaran Dimas (diperankan oleh Dimas anggara juga). Yang sudah lama dieritakan oleh Dimas tentang Raina. Yah..sebagian besar seperti itulah ceritanya..

Ceritanya tidak cuma bergenre romantis tapi ada dibalut komedi juga di awal-awal. Kalau kalian penasaran dengan keseluruhan filmnya,nonton aja langsung.. hehe dijamin nggak bakal nyesel kok nontonnya :D

DEL


Sabtu, 19 Maret 2016

REVIEW FILM "DEADPOOL"


Apa sih yang ada dipikiran kalian ketika kita bicara tentang Superhero (pria)? Pastinya gahar, jantan, pendiam, dan sebagainya. Namun, bagaimana jika itu semua dibalik? Bagaimana jika superhero ini  kocak, gokil, dan agak feminim? Pastinya akan terkesan antimainstream ya guys. Itulah gambaran singkat dari superhero baru dari Marvel, yaitu Deadpool yang juga merupakan hasil garapan sutradara Tim Miller.

Wade Wilson, seorang tentara bayaran yang terkenal berdarah dingin namun juga kocak ini awalnya hidup baik – baik saja, sampai akhirnya dia divonis menderita kanker. Sebuah percobaan ilmiah ditawarkan kepada Wade agar dia bisa sembuh dan menjadi superhero, namun yang terjadi adalah dia ditinggalkan karena dianggap gagal dengan luka di sekujur tubuhnya.Dengan niat untuk balas dendam, Wade mencari orang yang harus bertanggungjawab atas tubuhnya itu. Kekuatan super buatan yang dimilikinya sangat membantu dalam misi balas dendam ini, disamping bantuan dari teman – temannya.
 
Dalam film ini, sangat banyak adegan kekerasan yang sangat tidak disarankan untuk ditonton oleh anak dibawah umur. Namun di satu sisi, Deadpool memiliki sifat kocak dan gokil yang sangat menghibur penonton  agar tidak bosan. Rilis pada pertengahan Februari yang identik dengan Hari Kesayangan juga sedikit banyak tercermin di film ini melalui kisah Wade Wilson dengan sang pacar. Bagaimanapun juga film Deadpool sangat direkomendasikan untuk kalian yang bosan dengan superhero yang itu – itu saja. So guys, untuk kalian yang sudah diatas 17 tahun,tunggu apa lagi, segera tonton film Deadpool ini di bioskop – bioskop kesayangan anda, ingat NO BAJAKAN ya guys :)

-Raditya Okto W-