Merry Christmas

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2016

Salatiga

Pemandangan Malam Salah Satu Sudut Kota Salatiga

KUPAS 2015

Produksi Film KUPAS 2015

Finger Kine Klub

Keluarga Finger Kine Klub UKSW Salatiga

Jumat, 30 September 2016

REVIEW FILM

                             Teacher’s Diary (KHID THUENG WITHAYA)


            Sebuah rumah produksi GTH pada tahun 2014 merilis sebuah film terbarunya yang berjudul “Teacher’s Diary” atau dalam bahasa Thailand Khid Theung Withaya. Film ini memiliki kisah yang unik, dengan alur cerita masa kini dan flashback yang disorot beriringan berganti-gantian dan saling berhubungan satu sama lainnya, hingga akhirnya konklusi terjadi di masa kini.
            Film ini berkisah tentang Song (Sukrit Wisetkaew) yang merupakan seorang mantan pegulat yang ingin menjadi seorang guru SD. Ia pun di tugaskan di sekolah kapal yang berada di tempat terpencil dengan bangunan serupa perahu. Sekolah khusus untuk anak-anak miskin yang hidup di sana dengan rata-rata mata pencaharian orang tua sebagai nelayan. Disana ia mengajar hanya 4 orang murid dengan tingkat pendidikan yang berbeda.
            Disaat yang bersamaan dengan itu, terjadi flashback 3 tahun yang lalu yang menampilkan tokoh perempuan bernama Ann (Chermarn Boonyasak). Ann merupakan seorang guru yang saat itu di tegur oleh Kepala Sekolah karena memiliki tato 3 bintang ditangannya. Karena ia tidak mau menghapus tato yang ada di tangannya, Ann pun di pindah ke sekolah kapal tersebut.
            Kembali ke masa kini, Song yang tidak memiliki pengalaman mengajar pun kesusahan menghadapi 4 muridnya. Saat itu Song menemukan buku diary milik Ann yang ditulis 3 tahun yang lalu. Buku itu berisi tentang pengalaman Ann selama mengajar di sekolah tersebut, baik dalam hal pendidikannya, isi hatinya, hingga kecurhatan masalah-masalah percintaannya yang complicated.
Dari tulisan-tulisan Ann itu, Song mempelajari segala hal tentang kepribadian Ann, hingga akhirnya dia merasa jatuh cinta pada Ann. Di dalam buku harian juga tercantum beberapa masalah Ann soal pengajaran yang belum berhasil dia pecahkan hingga akhirnya Song berusaha untuk menyelesaikan sisa-sisa masalah tersebut. Sekali lagi, semangat mengajar Song muncul karena tulisan-tulisan Ann, ditambah anak-anak murid yang lama-lama makin dekat dengan dirinya dan terasa kekeluargaannya. Cerita lalu berkembang dengan rapi hingga konflik perasaan antar dua tokoh yang sama sekali tidak pernah bertemu ini semakin membuat gregetan untuk digali.
Kisah ini dapat dinikmati dari berbagai sudut pandang, walaupun genre film ini merupakan film komedi romantis. Ada banyak hal yang dapat digali mulai dari nilai edukasi dan motivasi. Kalau diperhatikan dari sisi motivasi, kita bisa belajar dari sifat Song yang pantang menyerah dalam menjalani hidup sebagai guru ditempat terpencil hanya dengan kata-kata penyemangat sederhana dalam buku diary Ann. Dari segi pendidikan dan kemanusiaan, kita bisa lihat bahwa anak-anak yang kurang mampu pun ingin sekolah hingga menginap di sekolah dan hanya pulang di hari sabtu dan minggu saja.
Selain cerita, kekuatan film ini tentu dari akting kedua bintang utamanya yakni Chermarn Boonyasak dan heartthob Thailand, Sukrit Wisetkaew. Mereka berdua mampu bermain dengan sangat baik dan menggemaskan walau tidak pernah ditampilkan dalam satu adegan.
Tak hanya itu saja, sinematografi Naruepol Chokanapitak dan tata musik yang padu, berhasil menambah warna tersendiri bagi film ini. -AKR


Minggu, 25 September 2016

Open Recuitment Finger Kine Klub 2016

Haloo Sineass! 
Kita lagi Open Recuitment anggota baru nih, 
So, buat teman-teman semua yang tertarik dan ingin mengetahui lebih banyak mengenai dunia perfilman atau ingin tahu lebih banyak gimana sih cara bikin film itu? 
Yukk langsung aja gabung jadi anggota baru Finger Kine Klub.
Syarat Pendaftaran:
1. Formulir Pendaftaran 
2. KST beserta jadwal asistensi
3. Kumpul kan di kantor Finger Kine Klub (F308) atau di finger.kine.klub@student.uksw.edu 
Unduh formulir pendaftarannya disini atau bisa juga di fotocopy di Ikasatya dan di Perpustakaan Lt. 2. 

Are you ready to be a part of our family?




Jumat, 23 September 2016

REVIEW FILM ALEXANDER and TERRIBLE, HORRIBLE, NO GOOD, VERY BAD DAY

Alexander and the Terrible, Horrible, No good, Very Bad Day

(2014)



Siapa yang tidak pernah merasakan suatu hari yang sangat menyebalkan? Bisa dibilang itu adalah hari yang sial. Sama seperti yang terjadi pada keluarga Alexander.Ed Oxenbould yang berperan sebagai Alexander yang saat itu berumur 11 tahun mendapatkan kesialan di setiap harinya dan sampai menganggap hari-harinya mengerikan, tidak baik, dan sangat buruk (terrible, horrible, no good, very bad day). Mulai dari dia terjatuh dan menumpahkan susunya, permen karet di rambutnya, terjatuh di depan anak perempuan yang disukainya, sampai membakar buku lab di sekolahnya.

Tetapi di malam ulang tahunnya yang ke-12, dia berdoa agar anggota keluarganya yang lain dapat merasakan hari seperti yang dia rasakan,  dan itu terwujud. Mulai dari dibacakannya buku anak-anak salah cetak di depan umum yang dibuat oleh ibunya, kemudian kakaknya yang pertama merusak property milik sekolahnya dan menghancurkan mobilnya di tes menyetir, kakaknya yang kedua mendapat serangan flu ketika dia harus tampil di acara drama sekolahnya, sampai ayahnya yang hampir membakar dirinya di restoran Jepang bernama Nagamaki.

           

Film jebolan Walt Disney ini beralur mundur, menceritakan bagaimana keluarganya mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Dengan “apik”-nya pemeran-pemeran seperti Steve Carell, Jennifer Garner, Dylan Minnete dan Kerris Dorsey memerankan layaknya keluarga yang sedang mendapatkan kesialan dan hal-hal buruk. Film yang disutradarai oleh Miguel Arteta ini bergenre keluarga dan dibumbui comedy sehingga cocok untuk ditonton pada saat liburan keluarga atau di saat sedang bosan. “Alexander and the Terrible, Horrible, No good, Very Bad Day” ini dirilis pada tanggal 10 Oktober 2014. So, buat kalian yang merasa penasaran langsung aja cari dvd film ini di toko-toko penjual dvd film. -ARB-

Periode 2016/2017

Fungsionaris FINGER KINE KLUB
Periode 2016-2017

Badan Pekerja Harian (BPH)
Ketua               : Gratya Evangelia Aprila Adang
Sekretaris        : Debby CR Pandiangan
Bendahara       : Anderasta Krista Hardiyanti

Divisi Produksi dan Film
Elfara Wijaya (Koordinator)

Aji Kurniawan (Koordinator)
Melianus Etilko Sitokanda

Rabu, 21 September 2016

REVIEW FILM MALAIKAT TANPA SAYAP

Yukk nostalgia film Indonesia yang tayang beberapa tahun silam bareng review Malaikat Tanpa Sayap berikut.

Pemain:
                            Adipati Dolken - Vino

Maudy Ayunda - Mura

Surya Saputra - Amir (Ayah Vino)

Agus Kuncoro - CaloIkang

 Fawzi - Ayah Mura

Kinaryosih - Mirna (Ibu Vino)

Geccha Qheagaveta – Wina


Vino adalah salah satu anak yang menjadi korban broken home. Ayah dan ibunya terpaksa berpisah karena kondisi perekonomian ayahnya, alhasil ibunya (Mirna)  meninggalkan mereka dari tempat kontrakannya tersebut. Berpisahnya kedua orang tua mereka memberikan dampak selanjutnya bagi Vino. Vino  kini terpaksa putus sekolah karena uang SPPnya menunggak 3 bulan. Adiknya (Wina) mengalami kecelakaan dan kakinya harus dioperasi apabila tidak ingin di amputasi. Dengan keadaan seperti ini, Vino berjumpa dengan Mura yang sedang duduk di ruang tunggu Rumah Sakit tempat adiknya sedang dirawat. Selain bertemu dengan Mura, Vino pun bertemu dengan Calo, seorang makelar organ tubuh manusia. Si Calo menjelaskan bahwa dirinya akan memberikan uang banyak jika dia mau mendonorkan salah satu organ tubuhnya. Disitulah Vino harus berfikir keras dengan tawaran Calo tersebut.

Cerita Malaikat Tanpa Sayap yang dibuat oleh Anggoro Saronto ini berdurasi sekitar 100 menit. Masih banyak bolong-bolong dan kurang menarik, namun dapat teratasi kembali dengan adegan berikutnya. Konflik yang terjadi pun cukup masuk akal dan bisa terselesaikan dengan baik. Namun sayangnya cara penyelesaian akhir film ini terasa begitu berlebihan dan memaksa sekali. Belum lagi karakter-karakter yang berperan disini pun tidak begitu banyak. Jadi kefokusan penonton untuk mengetahui siapa saja yang terlibat di film ini masih dalam tahap biasa. Ada beberapa karakter yang nampaknya mengganggu bahkan tidak penting berada di film ini. Seperti kasir rumah sakit yang begitu bawel dan overacting di film ini.

Para pemain di film Malaikat Tanpa Sayap nampaknya cukup pas membawakan karakternya di film ini. Seperti Surya Saputra sebagai mantan orang kaya yang harus terpuruk dengan masalah perekonomian dan keluarga sangat pas dengan mimik dan gaya tubuhnya. Walaupun di beberapa adegan ada kostum yang terlalu mahal atau eksklusif untuk orang yang baru saja terpuruk. Sayangnya disini Surya Saputra kurang berwibawa atau gentle dalam memainkan posisi sebagai Ayah. Sedangkan Adipati Dolken kurang menghayati posisinya ketika berdialog dengan Maudy Ayunda.
Maudy Ayunda yang merupakan pemanis dari film ini bermain dengan bagus. Gaya anak muda sekarang dengan kostum casual dan kamera lomo digantung serta ipad yang selalu dibawa kemana pun dia pergi. Tapi disini saya merasa kasihan dengan karakter yang diperankan oleh Maudy Ayunda karena tidak memiliki banyak teman. Apakah karena dia homeschooling jadi tidak memiliki teman satu pun?

Chemistry diantara Maudy dan Adipati nampaknya pas untuk mereka berdua. Kekurangan mereka berdua cuma di intonasi saja, karena ada adegan yang dialognya kurang jelas dari Adipati Dolken. Dari setiap Film pasti memiliki pesan pesan positif bagi para penontonnya. Begitu pula dengan Film Malaikat Tanpa Sayap yang memiliki pesan pesan untuk tetap berjuang dalam hidup, selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan. 

TMY